"Zenon of Orchomenus." Cleo membaca nama yang tertera di kartu identitas pemberian Lexi.
Saat ini Lexi berada di dalam mobil Cleo. Sebelum Cleo membawanya ke psikiater, dia lebih dulu menyodorkan kartu nama milik pria misterius. Dia ingin menunjukkan kepada Cleo kalau dia bukan orang gila atau orang yang memiliki gangguan kejiwaan. Lexi seratus persen wanita normal!
"Ini milik siapa?"
"Ini punya seorang pria yang terlempar dari balik tembok halaman belakang rumahku."
Mata Cleo tebelalak. "Bagaimana bisa? Tembok rumahmu tinggi, kan?"
Lexi mengangguk mantap. "Kau benar, Clee. Tubuh pria itu mengucurkan banyak darah—"
"Kau sudah lapor polisi?" Cleo memutus perkataan Lexi, lalu mengangkat tangan Lexi untuk meneliti tubuh sahabatnya itu. "Apa kau terluka?" Kali ini Cleo terlihat begitu cemas. Tangannya menyibak baju bagian atas milik Lexi.
"Hei, hei! Kau kenapa? Aku baik-baik saja!" Lexi menurunkan kemeja yang disibak oleh Cleo.
"Aku khawatir padamu."
"Aku tahu, tapi aku baik-baik saja." Lexi memasang wajah cemberut. Cleo selalu menanggapi sesuatu secara berlebihan.
"Sepertinya tempatmu tidak aman sekarang. Kau harus pindah dari rumah itu. Pria itu pasti salah satu dari preman yang mengejarmu semalam."
"Tunggu du—"
"Apa kau pernah melakukan kesalahan pada orang lain? Atau kau menolak cinta orang lain?" Cleo masih saja bicara panjang lebar tanpa memedulikan Lexi yang ingin melanjutkan ceritanya. "Aku yakin mereka adalah suruhan orang lain yang dendam kepadamu." Cleo mengeluarkan ponsel.
"Kau mau apa?"
Jemari Cleo sudah menekan nomor darurat. "Menghubungi polisi untuk meminta pertolongan."
Lexi langsung merebut ponsel yang telah tertempel di telinga Cleo. Dia menekan tanda berwarna merah untuk mematikan panggilan.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Clee, dengarkan aku! Aku belum selesai berbicara dan bercerita!"
Cleo melipat tangannya ke depan d**a. "Apa yang ingin kau ceritakan? Bahwa pria yang terlempar dari halaman belakang rumahmu adalah pria baik-baik?"
"Dia pria yang menolongku semalam."
"Berarti dia sama saja orang yang jahat. Bagaimana dia bisa jatuh dari tembok setinggi itu kalau dia tidak berniat macam-macam denganmu? Pasti preman semalam juga suruhan pria itu."
Lexi mengehela napas panjang sambil memutar bola mata jengah. Telinga dan hatinya terasa mendidih saat melihat sikap Cleo yang begitu berlebihan. Cleo bahkan belum tahu kelanjutan ceritanya dan Lexi yakin Cleo akan memaksanya ke psikiater jika dia menceritakan keanehan yang dilihatnya.
"Aku tidak mau hal buruk menimpamu. Kembalikan ponselku!"
Lexi menarik dan mengembuskan napas secara perlahan, dia tidak mau terbawa emosi. "Clee, bisa kau dengarkan aku sebentar? Aku belum selesai bercerita." Baru saja Cleo membuka mulutnya, tapi Lexi sudah membekap mulut Cleo. "Aku mohon, aku serius kali ini!"
Tidak membutuhkan waktu lama, Cleo mengangguk dan menepuk-nepuk pergelangan tangan Lexi.
Dengan wajah yang dilipat-lipat, Lexi melepaskan tangannya dari mulut Cleo. "Aku sebal dengan sikapmu yang seperti ini."
"Apa yang ingin kau ceritakan?"
"Dengarkan baik-baik, jangan menyela dan jangan berkomentar. Oke?!"
Cleo mengangkat kedua tangan, menyetujui permintaan Lexi.
"Pria itu menolongku semalam dari serangan para preman yang tiba-tiba berubah menjadi abu." Mulut Cleo terbuka, ingin menyela perkataan Lexi, tapi Lexi sudah melemparkan delikan. "Pria itu terlempar dari tembok halaman belakang rumahku dan seluruh tubuhnya dalam kondisi mengenaskan. Dia mengeluarkan banyak darah, aku melihat dengan jelas kalau darah mengucur dari dadanya, merembes dari dalam bajunya dan dia hampir saja tidak bisa berdiri. Seperti orang yang sekarat. Lalu aku berusaha menghubungi ambulance, tapi dia tidak mau, dia hanya bilang kalau dia butuh tidur."
Cleo berusaha sebisa mungkin menahan diri untuk berkomentar.
"Akhirnya dia pingsan dan aku menyeret tubuhnya ke ruang tamu. Aku mencoba memberikan obat pencegah infeksi, tapi aku melihat hal yang aneh."
"Apa itu?"
"Setelah aku membuka jaket dan menggunting bajunya, aku hanya melihat beberapa luka sayatan. Bukan sebuah luka yang dalam dan parah. Bukan sebuah luka yang bisa mengucurkan darah sebanyak itu."
Mata Cleo menyipit. "Apa kau yakin?"
"Aku yakin, amat sangat yakin. Kulit pria itu seperti terkena goresan benda tajam bukan tusukan atau tikaman!"
"Aku masih belum yakin. Aku sama sekali tidak percaya."
"Aku sudah menduganya." Lexi melipat tangan. "Aku meninggalkannya di dalam rumah."
Cleo terperangah mendengarnya. "Apa kau gila?! Bagaimana kalau barang-barang berhargamu ada yang hilang?!"
"Maka dari itu, aku mengambil kartu identitasnya."
"Berarti sekarang dia pasti masih berada di rumah?"
Lexi mengangguk. "Iya. Aku sudah mengunci semua pintu termasuk pintu dapur yang menyambungkan halaman belakang rumah. Aku sendiri juga tidak tahu dia sudah sadar atau tidak, tapi aku meninggalkan pesan untuknya jika dia sadar."
"Pesan apa?"
"Aku menyuruhnya untuk menungguku hingga pulang bekerja dan aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku TIDAK GILA! Peristiwa semalam dan pria misterius itu memang benar adanya. Aku tidak berimajinasi!"
Cleo menyalakan mobil mininya. "Oke, kita ke rumahmu sekarang."
***
Lexi langsung turun dari mobil Cleo untuk segera membuka pintu rumah, dia sudah tidak sabar ingin membuktikan keanehan yang dilihatnya kepada Cleo. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendapati sebuket bunga aster tergeletak di depan pintu rumahnya. Kening Lexi berkerut, siapa yang mengirim bunga ini? Dia memungut buket bunga itu.
"Dari siapa?" tanya Cleo.
Lexi hanya mengangkat bahu lalu meneliti setiap sisi buket bunga itu. "Dari pengagum suara indahmu," ucapnya ketika menemukan secarik kertas ucapan di sela-sela bunga aster putih itu.
Cleo merebut kertas yang berada di genggaman Lexi. "Jangan-jangan pria itu sudah kabur dari rumahmu?!"
Sontak, Lexi langsung mengambil kunci dan membuka pintu rumah. Dia merangsek masuk dan benar saja, pria itu sudah tidak ada. Ruang tamunya kosong melompong tidak ada tanda-tanda dari pria itu.
"Kau benar, Clee!"
Lexi langsung membuka pintu kamarnya yang terkunci, memeriksa dengan seksama setiap jengkal rumahny,a lalu membuka lemari pakaiannya—siapa tahu pria itu bersembunyi di sana, tapi Lexi tidak menemukan apa pun. Dia menuju ke dapur untuk memeriksa pintu dapur, mencoba menggeser-geser pintu kaca dapur yang masih terkunci. Kepala Lexi terus menggeleng, dia tidak percaya bagaimana pria itu bisa kabur dari rumahnya dalam keadaan seluruh pintu yang terkunci.
"Dia kabur lewat belakang?" tanya Cleo yang baru bisa menyusul langkah Lexi.
Dengan wajah pucat pasi, Lexi menggeleng. "Dia tidak ada dan pintunya ... pintunya masih terkunci."
Kening Cleo berkerut lalu mencoba menggeser pintu yang memang masih terkunci. "Kau benar, pintu ini masih terkunci dengan rapat."
Lexi melemparkan buket bunga yang dibawanya sedari tadi ke atas meja pantry, lalu melemparkan pantatnya ke atas kursi. "Aku yakin kalau pria itu ada di dalam rumah. Dia masih tergeletak di ruang tamu sewaktu aku tinggal pergi bekerja." Telunjuknya menunjuk ruang tamu tempat tubuh pria misterius itu tergelatak. "Bagaimana bisa dia melarikan diri dalam keadaan pintu terkunci dengan rapat? Masih masuk akal kalau dia merusak kunci pintu, tapi ... kau lihat sendiri kalau pintu itu masih tertutup dengan rapi tanpa ada satu pun yang rusak."
Cleo menghampiri Lexi yang panik luar biasa. Tangannya membelai rambut Lexi yang dikuncir ekor kuda. "Oke, tenang dulu. Aku akan membuatkan sesuatu untukmu. Kau mau minum apa?"
Lexi menggeleng lemas. "Tidak aku tidak menginginkan apa pun."
Cleo mengembuskan napas panjang lalu dia berjalan menuju lemari es untuk mengambil minuman dingin. Dia melihat sebotol jus jeruk yang isinya tinggal setengah.
"Minum dulu." Cleo menyodorkan segelas jus jeruk.
Lexi menggeleng pelan, matanya masih menerawang kosong.
Cleo berjongkok di hadapan Lexi lalu menggenggamkan gelas berisi jus jeruk ke tangan sahabatnya itu. "Minum dulu."
Lexi mulai meminum jus jeruk pemberian Cleo. Saran Cleo benar-benar tepat, pikirannya sedikit rileks setelah meminum minuman dingin. "Terima kasih, Clee."
Cleo berdiri dari posisi, lalu berjalan mundur dan menyandarkan pantatnya di ujung meja pantry. "Sebaiknya kau istirahat dulu. Bagaimana kalau kita bicarakan ini lain waktu, lagi pula kau nanti malam ada pekerjaan lagi, kan?"
"Kau pasti tidak percaya denganku lagi. Kau pasti menganggapku gila."
Kedua bahu Cleo terangkat sekilas. "Entahlah."
"Maksudnya?"
"Kau tahu, dari dulu aku selalu berusaha memercayai semua yang kau katakan, tapi aku selalu tidak menemukan bukti atau apa pun untuk meyakinkan diriku terhadap ucapanmu. Tapi, sepertinya kali ini aku sedikit memercayaimu."
"Sungguh?"
Cleo mengangguk mantap, lalu telunjuknya menjulur ke arah pintu dapur. "Aku melihat ada bercak darah di bingkai pintu itu, lalu aku juga melihat beberapa ceceran darah dari batu kerikil yang ada di depan pintu hingga ke lantai dapur."
Mata lexi mengikut arah jemari Cleo yang menunjuk lantai dan memang benar kalau masih terdapat ceceran darah di lantai dapur. Lexi belum sempat membersihkan setiap jengkal rumahnya pagi ini. "Syukurlah, aku takut kalau kau mengomel lagi dan menyuruhku ke psikiater."
"Kali ini aku sedikit percaya denganmu."
"Tapi ... bagaimana dia bisa keluar dari rumah tanpa membuka dan merusak pintu atau jendela? Jangan-jangan dia bisa menghilang? Atau dia seorang penyihir?"
Cleo menarik napas dalam-dalam, meraih gelas dari genggaman Lexi, lalu meletakkanya di atas meja pantry. Dia berjongkok di hadapan Lexi. "Kita pikirkan ini lain kali. Sekarang kau harus waspada dengan kemungkinan yang akan terjadi. Aku yakin dia pasti akan kembali karena kau telah menyita kartu identitasnya."
Lexi mengangguk berkali-kali. "Aku tahu, Clee."
"Kau mau tinggal di apartemenku?"
"Tidak, terima kasih. Aku bisa melindungi diriku sendiri."
"Kau yakin?"
Lexi mengangguk mantap. Dia yakin kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri. Dia bukan wanita yang lemah.