File - 8

1436 Kata
Dalam ruangan berukuran 4x5 meter, Felix tengah duduk menangkup kedua tangan dengan mata yang terus menatap ke arah Lexi. Dia termasuk salah satu dari puluhan pria yang jatuh cinta dengan Lexi. Dia terus memperpanjang kontrak kerja Lexi hanya demi ingin melihat Lexi setiap hari. Felix jatuh cinta dengan Lexi sejak tujuh bulan yang lalu. Pertemuannya dengan Lexi sanggup menggugah hasrat yang sempat layu karena sebuah pengkhianatan. Dia menginginkan Lexi seutuhnya dan dia akan melakukan apa pun demi memiliki Lexi. Ya... apa pun asal Lexi berada di sampingnya. Lexi berdeham sambil sesekali menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Matanya terus menatap lembaran kertas yang ada di genggaman. Saat ini dia sedang membaca perpanjangan kontrak untuk menyanyi di restoran Platia—restoran milik Felix. Tatapan Felix benar-benar membuat Lexi tidak nyaman, tatapan itu seperti sebuah tatapan yang ingin menelanjangi dirinya. Dia ingin sekali keluar dari ruangan berinterior mewah ini. "Tidak ada yang berubah dari persyaratannya. Sama seperti enam bulan yang lalu." Suara Felix memecah keheningan di ruang kedap suara itu. Lexi menghela napas panjang. Dia tahu kalau isi kontrak di kertas ini sama seperti enam bulan yang lalu, tapi otaknya sedang mempertimbangkan kontrak ini—dia ingin sekali segera terlepas dari kungkungan Felix. Pria itu selalu memberikan tatapan yang intens dari atas hingga ke ujung kaki. Pria kaya itu selalu menahannya di restoran ketika dia beranjak pulang dan selalu menawari sebuah tumpangan yang berakhir dengan penolakan darinya. "Maaf ... em ... bukan maksudku menolak perpanjangan ini, tapi aku mendapat tawaran menyanyi di tempat lain." Sebuah senyum penuh arti mengembang di bibir Felix. "Aku tidak yakin kalau kau sudah mendapat pekerjaan baru, Nona Greek." "Jangan terlalu percaya diri, Tuan." "Panggil Felix." "Iya ... Felix. Maaf aku tidak bisa menerima perpanjangan kontrak ini." Felix mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan wajah Lexi. Tangannya meraih anak rambut Lexi, tapi dengan cepat Lexi menangkisnya. "Aku akan menaikkan gajimu dua kali lipat atau kau akan menjadi gelandangan selamanya." Lexi terperanjat mendengar tawaran yang mengandung sebuah ancaman. "Apa maksud, Anda?" Felix bangkit dari kursi, lalu berjalan keluar dari mejanya. Dia berdiri di samping kursi Lexi kemudian memutar kursi itu hingga menghadapnya. "Kenapa kau begitu susah untuk aku dapatkan?" Jemarinya mengangkat dagu Lexi sedikit tinggi. "Kau begitu cantik, tapi kau terlalu mematok harga tinggi untuk seorang wanita yang sudah tidak perawan lagi. Apa bedanya dengan wanita di luaran sana yang begitu menginginkanku?" Rahang Lexi bergemelatuk mendengar ucapan Felix. Tangannya mengepal, dia ingin sekali mendaratkan sebuah pukulan di wajah angkuh itu. Sayangnya, dia cukup waras untuk mencegah niatnya, dia tidak mau berakhir di penjara karena pria ini adalah pria yang paling berkuasa di Naxos Town. Di belahan dunia mana pun, sebuah kekuasaan tetaplah menjadi pemenang meskipun berada di posisi yang salah. Tidak ada yang adil untuk orang kerdil sepertinya. Dengan wajah tenang, Lexi menyunggingkan senyum miring. Dia tidak mau terlihat lemah. "Tentu saja aku berbeda, Tuan. Aku sama sekali tidak menginginkanmu!" "Aku akan membuatmu menginginkanku." "Coba saja kalau bisa." "Kau menantangku?" "Aku hanya meragukanmu, Tuan. Karena kau tahu sendiri kalau aku sama sekali tidak menginginkanmu." Tulang rahang Felix terlihat sedikit menonjol. Dia menahan amarahnya setelah menyadari kalau Lexi begitu menyepelekannya. Felix langsung menarik dagu Lexi dengan kasar hingga bibir Lexi menyentuh bibirnya. Dengan lahap dan rakus, Felix melumat bibir tipis Lexi yang begitu menggoda. Dia ingin melampiaskan semua amarahnya kepada Lexi dengan sebuah ciuman. Lexi tersentak ketika bibirnya dilahap oleh mulut Felix. Gigi Felix terus menarik-narik bibir bagian bawahnya hingga membuat Lexi mengerang kesakitan dan di saat mulut Lexi sedikit terbuka, lidah Felix sudah menerobos masuk ke dalam mulutnya. Kejadian secepat kilat itu membuat Lexi gelagapan, dia tidak bisa berpikir dengan cepat. Tangan Lexi hanya bisa memukul-mukul pundak Felix, memohon untuk melepaskan ciuman yang bernafsu itu. Felix menarik bibirnya dari bibir Lexi dengan sebuah senyum penuh kepuasan. Sebuah tamparan mendarat di pipi Felix. "MENJIJIKKAN!" pekik Lexi yang langsung beranjak dari kursinya. "Aku tidak akan menandatangani kontraknya!" Ketika Lexi akan memutar tubuh, Felix mencegah pergerakan Lexi dengan menarik pergelangan tangan. "Tanda tangani sekarang atau aku akan melakukan hal yang lebih denganmu sekarang juga!" Lexi langsung menolehkan pandangan tajam ke arah Felix. "Kau lupa kalau ruangan ini kedap suara? Mau berteriak sekeras apa pun, suaramu tidak akan terdengar." Lexi menelan ludah ketika menyadari semuanya. Jujur, dia benar-benar ketakutan ketika dihadapkan dengan hal yang berbau seks. Dia trauma. Satu tangan Felix meraih kertas yang digeletakkan Lexi di atas mejanya. "Tanda tangani ini!" Dengan napas yang kembang kempis menahan amarah, Lexi menarik kertas kontrak itu dengan kasar. "Lepaskan tanganku!" Felix melepaskan cengkeraman tangannya untuk mempersilakan Lexi menandatangani kontraknya. Dia tersenyum puas melihat Lexi menandatangani kontraknya. "Puas?!" Dengan jemari yang mengelus bibirnya, Felix menerima kertas yang disodorkan Lexi. "Terima kasih, Nona Greek." "Permisi!" "Sebelum pulang, makan malam lah denganku." Lexi tidak menggubris ucapan Felix. "Ini perintah atau aku akan berbuat lebih kepadamu." Langkah Lexi terhenti ketika dia sudah memegang knop pintu. d**a Lexi kembang kempis mendengar perkataan Felix. Dia memutar tubuhnya untuk mengatakan sesuatu, "Aku tidak akan takut!" Setelah mengucapkan kata terakhirnya, Lexi langsung keluar dari ruangan Felix. Tawa Felix menderai dan menggema di telinga Lexi hingga membuat dadanya begitu panas. Lebih baik dia menadatangani kontrak itu daripada dia harus bercinta dengan orang seperti Felix. "Hei Lexi, kau sudah terima perpanjangan kontrakmu?" tanya Julian yang tangannya langsung melingkar di pundak Lexi. "Kau penyanyi pertama yang dikontrak selama enam bulan dan mendapat perpanjangan lagi. Berapa bulan kontrak yang kau terima?" Julian yang tidak tahu menahu tentang peristiwa di dalam tadi terus berkicau di hadapan Lexi. Lexi menghentikan langkah, lalu melirik sinis ke arah Julian. "Lepaskan tanganmu dari tanganku!" Sontak Julian langsung mengangkat tangannya dari pundak Lexi. Dia menatap heran ke arah Lexi. "Apa tidak jadi tanda tangan kontrak?" "Tutup mulutmu itu, Julian! Sekarang aku sedang tidak berminat bicara denganmu!" Lexi mulai melangkah menuju ruang utama restoran. Beberapa menit lagi, dia akan segera menyanyi. Seperti pejuang sparta yang tak gentar dengan ancaman, Julian berjalan sejajar di sisi Lexi. "Aku tahu kalau job menyanyimu agak sepi, aku akan berusaha membantumu untuk mendapatkan job baru. Aku punya kenalan yang bisa membantumu mendapatkan job menyanyi. Atau ... kau bisa ikut beberapa audisi menyanyi di saat menjadi pengangguran, siapa tahu kau beruntung dan menjadi penyanyi terkenal. Ya ... aku akui wajah dan suaramu layak masuk televisi." Wajah Lexi semakin memerah, mendengar Julian yang sama sekali tidak bisa memahami suasana hati seseorang. Lexi tak habis pikir, bagaimana orang banyak mulut seperti Julian bisa menjadi supervisor? Julian layaknya tong kosong yang bunyinya nyaring ketika dipukul, otaknya sama sekali tidak terisi sesuatu yang berguna. "Kau bisa tutup mulutmu, Julian?!" Lexi mulai terbawa emosi, ekor matanya menangkap sebuah gunting yang ada di meja bartender. Dia langsung memungut gunting itu lalu menunjuk ke arah Julian. "Atau aku robek mulut rusakmu itu dengan gunting!" Julian mengangkat kedua tangannya. "Hei, kau kenapa? Aku hanya ingin menghiburmu." "Aku sedang tidak ingin dihibur! Aku ingin sekali mencabik-cabik seseorang termasuk merobek mulutmu!" Julian hanya melongo melihat Lexi yang uring-uringan. "Apa aku melakukan kesalahan padanya? Atau dia sedang PMS?" *** "Selamat malam, pengunjung restoran Platia," sapa Lexi di atas panggung dengan sebuah senyuman yang merekah. Dia harus menutupi amarah yang sedang mengaduk-aduk dadanya. Bagaimanapun juga dia harus terlihat ceria di atas panggung. "Aku harap, kalian tidak bosan melihatku berdiri di atas sini." Tawa mulai menderai di seluruh ruangan restoran. Beberapa pengunjung meninggikan suaranya untuk menyatakan keberatan mereka. Sejak kehadiran Lexi di restoran ini, banyak pengunjung berdatangan ke restoran berciri khas Yunani ini. Wisatawan asing yang hanya sekadar lewat langsung memutuskan makan di restoran ini ketika mendengar suara Lexi. Suara wanita itu berhasil menyihir banyak orang termasuk Felix. Jemari Lexi mulai memainkan tuts-tuts piano, kali ini Lexi menyanyikan lagu yang bertempo lambat. Dia sengaja menyanyikan lagu-lagu mellow di awal pertunjukkan karena lagu bernada lembut bisa memberikan kenyamanan bagi para pengunjung yang datang. Di saat waktu sudah petang dan mendekati jam tutup restoran, dia akan menyanyikan lagu bertempo beat agar para pengunjung bersemangat menyantap makanan mereka dan segera pergi dari restoran. Menurutnya sebuah lagu bisa memerintah alam bawah sadar seseorang untuk menuruti sebuah keinginan. Jemari Lexi tiba-tiba berhenti menekan tuts piano ketika mata hijau terangnya menangkap sosok yang tidak begitu asing. Dia menangkap sosok pria bertubuh tinggi dan berambut hitam hampir menyentuh bahu duduk di pojok restoran. Tapi sosok itu terlihat berbeda dari biasanya, kali ini sosok itu tidak menggunakan bahan dari kulit untuk menutupi tubuh kekarnya. Sosok itu mengenakan jubah khasmir hitam panjang, turtleneck hitam dan celana hitam, terlihat begitu berkelas. Mata hitam legamnya menatap Lexi dengan tajam seolah-olah ingin menenggelamkan Lexi dalam lautan tinta hitam. "Lexi! Lexi!" Suara Julian membuyarkan lamunan Lexi. Mata Lexi yang semula tertuju pada sosok itu kini berpindah untuk melihat sekeliling yang sudah riuh oleh seruan penuh protes dari para pengunjung. "Kenapa berhenti?" desis Julian yang ada di samping panggung. "Ah ... ma-maaf. Ini kesalahan saya. Saya sedikit lupa dengan nadanya." Lexi melihat sosok itu, dia melihat pria misterius itu sedang duduk di pojok restoran dan memperhatikannya dengan tatapan bak seekor predator.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN