"Apa mereka sedang berkencan?" Alice salah satu writress di restoran itu sedang berbisik kepada temannya yang bertugas di meja bartender. Tangan dan otaknya sedang sibuk menghitung jumlah sendok yang ada di dalam baki, tetapi mulutnya sibuk membicarakan dua orang yang sedang menikmati makan malam.
Richard yang sedang melap gelas hanya mengangkat kedua bahunya sekilas. Dia bukan tipe orang yang suka mengurusi masalah orang lain.
"Semua penyanyi memang suka menggoda orang seperti Tuan Felix," gumam Alice dengan wajah iri setengah mati.
Damien, cowok yang memiliki tindik di kedua telinganya membanting lap basah ke dalam baki yang berisi sendok. "Lexi lebih cantik!"
Alice mengambil lap yang telah dilemparkan Damien, lalu melempar balik lap itu tepat mengenai muka Damien. "Semua penyanyi itu memang penggoda."
"Apa kau bisa tutup mulutmu?! Sebaiknya kau urusi dirimu sendiri. Seorang wanita lebih terhormat kalau dia tidak mempunyai hati busuk sepertimu!" balas Damien sambil membersihkan mukanya yang basah dengan lengan baju.
"Kenapa bertengkar?" tanya Julian ketika melihat dua bawahannya sedang berselisih.
Damien hanya melengos, lalu beranjak pergi tanpa menjawab pertanyaan Julian, sedangkan Alice mendengkus kesal sambil membawa baki berisi sendok ke dapur. Julian hanya melongo karena pertanyaannya sama sekali tak diindahkan.
"Kenapa hari ini banyak orang yang marah padaku?" Matanya bergulir menatap Richard yang sedari tadi ada di sana. "Kau tahu mereka sedang bertengkar tentang masalah apa?"
Richard menatap Julian sekilas lalu mengedikkan dagunya ke arah Lexi dan Felix yang sedang menyantap makan malam.
Mulut Julian membulat setelah mendapat penjelasan dari Richard. "Untuk orang sepertiku, aku tidak ada apa-apanya dibanding Tuan Felix." Sebenarnya dia juga menyukai Lexi, tapi apa daya tangan tak sampai. "Kenapa wanita cantik selalu memilih orang kaya seperti Tuan Felix?"
Richard mengembuskan napas panjang, ternyata supervisor-nya ini tak jauh beda dengan Alice.
"Mungkin hal semacam seorang wanita cantik yang menyukai pria biasa saja sepertiku ini hanya ada di dalam kisah dongeng. Benar, kan?"
Bola mata Ricard berputar jengah melihat Julian seperti pria bodoh. Entah apa yang dilihat Felix ketika mengangkat Julian sebagai supervisor-nya.
Lexi tengah duduk bersama Felix sambil menyantap makanan. Batinnya mengumpat tak keruan ketika dengan terpaksa dia menuruti permintaan Felix. Tadi seusai bernyanyi, Felix langsung menghampirinya dan menawarkan makan malam di sebuah restoran terkenal—restoran milik orang tuanya, tapi Lexi menolak untuk pergi ke sana. Lexi tidak mau hal buruk terjadi dengan dirinya.
"Aku senang kau menerima tawaran makan malamku."
Lexi hanya melirik sekilas lalu kembali menatap potongan daging bistik yang ada di hadapannya. Sebaiknya untuk saat ini dia tidak melakukan perlawanan apa pun demi keselamatannya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Felix akan menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan sesuatu, kali ini dialah sasarannya. Jadi, sebisa mungkin Lexi menuruti keinginan Felix hingga dia bisa menemukan celah untuk lari dari cengkeraman tangan pria ini.
"Aku akan mengantarmu pulang malam ini."
Gerakan tangan Lexi terhenti. "Tidak cukupkah hanya dengan makan malam?"
"Apa kau tidak mau aku antar pulang?" Felix balik bertanya dengan senyuman miring.
"Tidak, tentu saja aku tidak mau. Aku terpaksa makan malam denganmu karena aku merasa kasihan dengan sikapmu yang terus mengemis kepadaku." Lexi benar-benar muak berhadapan dengan Felix.
Felix terkekeh sambil memasukkan sepotong daging ke mulutnya. "Kau selalu terlihat menarik di hadapanku. Penolakanmu, cacianmu, umpatanmu dan .... " Felix menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk. "Bibirmu," lanjutnya.
Melihat Felix yang mengingatkan kejadian menjijikkan di dalam kantor sanggup membuat perut Lexi terasa mual. Dia ingin sekali memuntahkan isi perutnya ke depan muka Felix.
"Apalagi kalau aku diizinkan untuk menyicipi tubuhmu."
Benar-benar psikopat!
Lexi membanting pisau dan garpu yang ada di genggamannya. "Aku bukan sebuah bistik yang bisa kau cicipi!" Lexi berdiri dari kursi. "Terima kasih untuk makan malamnya, Felix." Dia melangkah pergi. Masa bodoh dengan semua ancaman Felix, kali ini dia tidak akan sudi menuruti keinginan Felix. Lebih baik dia mendekam di dalam penjara daripada harus melayani keinginan pria terlanjur kaya itu.
***
"Teles menyuruh kita untuk membawanya." Seorang pria berambut pirang sedang berdiri tak jauh dari restoran Platia. Mata biru terangnya sedang menatap Lexi yang tengah duduk dengan Felix di dalam ruangan.
"Kenapa harus ada pengecualian dengan Nymph itu?" Seorang lagi yang memiliki warna rambut senada memprotes ucapan temannya. "Sebaiknya kita bunuh saja supaya kita bisa diakui oleh Teles. Bukankah jiwanya juga akan berakhir di tangan Teles, jadi tidak ada bedanya kalau kita membunuhnya."
"Itu permintaan Teles. Kalau kau mencoba membunuhnya, berarti siap-siap saja untuk menerima kutukan dari Teles."
Temannya itu mengumpat ketika mendengar penjelasan pria itu.
"Kalian tidak akan bisa membunuhnya." Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara berat dari balik punggung mereka.
Kedua pria itu menggeram pelan ketika mendengar suara yang tak asing lagi. Mereka tahu siapa yang ada di belakang. Mereka berdua memutar tubuh untuk melihat sosok Shades Guardian yang menyela obrolan.
"Shades Guardian," sapa salah satu dari mereka.
"Hai Sirenes," balas Zenon. "Apa kalian ingin bertarung di sini atau berpindah tempat? Aku punya banyak tempat referensi untuk bertarung."
Salah satu di antara kedua Sirenes itu tiba-tiba sudah ada di belakang Zenon. Gerakan Sirenes itu sama cepatnya dengan gerakan Zenon.
"Apa kalian membawa pistol?" Zenon masih terlihat santai.
Sirenes yang ada di hadapan Zenon hanya menyeringai. "Kami tidak tertarik dengan pistol, kami lebih tertarik meremas jantung Shades Guardian."
Zenon terkekeh sambil merapatkan jubah khasmirnya. "Sirenes di tempat asalnya lebih menantang daripada di New Orleans."
Setelah menyelesaikan kalimat terakhir, Zenon langsung menendang d**a Sirenes yang berdiri di belakangnya. Melihat temannya mendapat tendangan dari Zenon, Sirenes yang ada di hadapan Zenon membalas dengan menendang lengan Shades Guardian itu. Tubuh Zenon sedikit terdorong. Sebelum kaki itu menginjak tanah, Zenon sudah menangkap kaki Sirenes yang menendangnya tadi, lalu memutar kaki itu hingga membuat tubuh tinggi menjulang itu terjerembab.
Dari arah belakang, leher Zenon berhasil di tikam oleh Sirenes dengan sebuah belati. Mengerang kesakitan bukan berarti membuat Zenon melemah, dia mendaratkan sikunya tepat ke ulu hati Sirenes yang menikam lehernya. Zenon mencabut belati yang menancap di lehernya, tubuhnya berputar 180 derajat lalu belati yang ada di tangannya sudah tertancap di d**a Sirenes yang menikamnya tadi.
Belum sempat menyaksikan Sirenes berubah menjadi abu, tubuh Zenon tiba-tiba terpelanting ke belakang. Leher Zenon berhasil dikunci oleh Sirenes yang menendangnya, Sirenes yang hanya tinggal satu itu menduduki tubuh Zenon. Setelah memukul wajah Zenon sebanyak tiga kali, Sirenes itu mengeluarkan cakarnya untuk menerkam d**a Zenon.Kaki Zenon yang bebas berhasil menendang punggung Sirenes, lalu mengangkat badannya untuk memutar posisi. Kini Zenon berada di atas Sirenes. Tanpa banyak kata dan pukulan yang akan semakin memperpanjang pertarungan, Zenon mencengkeram leher Sirenes dengan sangat kuat hingga beberapa detik kemudian Sirenes itu berubah menjadi abu.
Tepat setelah para Sirenes itu menjadi abu, ekor matanya menangkap Lexi sudah keluar dari restoran Platia. Dia bangkit dari posisi untuk mengikut Lexi secara diam-diam. Untuk saat ini dia masih belum bisa bertemu dengan Lexi, mengingat kejadian tadi pagi yang mungkin akan membuat Lexi ketakutan. Lehernya yang terkena tikaman dari Sirenes sedikit berdenyut sakit, tidak biasanya dia merasakan nyeri di bagian luka. Tangannya sedikit meraba kulit dari balik turtleneck yang menutupi leher, dia masih merasakan basah pada lukanya. Sepertinya Sirenes itu mengolesi racun di belati hingga proses penyembuhan luka di tubuhnya tidak bisa berjalan normal seperti biasa.
Rasa kesal Lexi sedikit mereda ketika sudah berjalan jauh dari restoran Platia. Kini otaknya sedang memikirkan sesuatu yang sedari tadi membuatnya gelisah. Siapa lagi kalau bukan pria misterius itu. Tadi saat Lexi menyanyi di atas panggung, dia yakin kalau melihat sosok pria misterius itu di pojok restoran, tapi saat dia kembali menatap tempat di mana pria itu berada, Lexi tidak menemukan pria itu lagi. Dia seperti melihat sebuah fatamorgana di tengah-tengah kesadarannya. Sebenarnya siapa pria misterius itu?
Telinga Lexi tiba-tiba mendengar beberapa tanaman sedang berbicara tentang Shades Guardian. Seketika itu juga langkah Lexi terhenti, otak cemerlangnya langsung bisa menangkap semua situasi saat ini. Dia yakin kalau dia sedang di buntuti oleh pria itu.
Lexi memutar tubuh ke belakang untuk memastikan sesuatu yang janggal sedang menguntitnya. Matanya meneliti satu per satu orang yang berlalu lalang, dia sama sekali tidak menemukan sosok yang dimaksud. Merapatkan kembali jaketnya, Lexi balik kanan untuk melangkah lagi. Sudut mata Lexi melihat ada sebuah gang sempit dan sepi, sepertinya tempat itu cocok untuk menjebak pria misterius itu. Sebelum itu, Lexi sudah menyiapkan pisau lipat di balik jaketnya untuk berjaga-jaga. Dia bukan wanita bodoh yang hanya bisa berteriak meminta tolong.
Kaki Lexi mulai berbelok menuju gang sempit yang menjadi tujuannya. Sesekali diat menoleh ke belakang ketika sudah memasuki gang sempit itu, berharap pria misterius itu mengikuti rencana yang telah dibuatnya. Pria misterius itu sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Lexi menghentikan langkah ketika berada di ujung gang, dia memutar tubuh sambil bertolak pinggang. Tidak ada siapa-siapa di gang itu.
"Sedang memancingku, Nona?"
Lexi memutar tubuh ketika mendengar suara berat dari arah belakang. Secara spontan kedua tangannya mendorong tubuh tinggi besar itu dan entah dari mana datangnya, beberapa sulur-sulur tanaman merambat ke tubuh pria misterius itu. Mata Lexi terbelalak ketika menyaksikan sulur-sulur itu mengikat kuat kedua tangan dan kaki pria misterius itu.
Pria itu mengerang kesakitan ketika kedua tangan dan kakinya ditarik oleh sulur-sulur tanaman. "Hei, lepaskan aku! Aku bukan penjahat!" pekiknya kepada Lexi yang masih terperangah dengan semua kejadian ini.