Pernikahan bang Tegar digelar, harapanku untuk memberikan baju seragam keluarga pada Kafka pupus sudah. Baju yang sedang kupandangi kini tak dapat dikenakan pemiliknya. Perias keluarga mendandaniku, mulutnya berdecak melihat tubuh kurusku yang semakin kurus. Baju kebaya yang semula pas kini terlihat kebesaran, beratku pasti menyusut banyak. Aku melihat lingkaran hitam di bawah mataku, juga mata sembab yang tak dapat ditutupi make up. "Kafka pasti bangun, Dek. Sabar ya, tetap berdoa untuk Kafka." Aku mengangguk, ayah menuntunku duduk menyaksikan pernikahan bang Tegar. "Saya terima nikah dan kawinnya Alwinda Riandra Hasibuan binti Ahmad Rendra Hasibuan dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" Suara bang Tegar, mantap. "Gimana saksi, sah?" "Sah!" Jawab beberapa saksi dengan kompak, se

