Semakin hari, Kafka semakin sering kehilangan kendali emosinya. Seperti hari ini, aku ikut mengantarkannya kontrol ke rumah sakit bersama tante Ina. Saat sedang menunggu, Kafka yang sudah membeli ponsel baru tengah memainkannya, tiba - tiba ia berteriak frustasi. Entah sebabnya apa, ponselnya terlempar agak jauh dari tempat kami. Aku berdiri dan mengambilnya, memberikannya kembali pada Kafka. Tapi yang terjadi kemudian, Kafka mendorongku dengan keras hingga tersungkur di lantai. Siku kananku membentur kursi tunggu yang terbuat dari besi dan mendapatkan luka gores yang panjang, kakiku yang terjatuh dalam keadaan bersilang tungkainya memutar ngilu. Tante Ina menarik Kafka, menjauhkannya dariku dan membantuku berdiri. Tapi kakiku terkilir sepertinya, setengah tertatih aku berhasil duduk kemb

