Enam Puluh Satu

1938 Kata

Lepas subuh, mbak Astrid memintaku bersiap untuk turun. Ayah memasuki kamar kami, mencariku dan serta merta memelukku. Kurasakan gerakan d**a ayah yang bergetar, ayah menangis! Jiwa melankolis menguasai, aku ikut terisak - isak dalam pelukan ayah. Merasakan detik - detik menuju prosesi terlepasnya aku dari tanggung jawab ayah. Memanfaatkan setiap waktu yang bisa kulewati dengan cinta pertamaku, pahlawan sejatiku. "Jadi istri sholehah yang berbakti ya dek, semoga selama ayah membesarkan adek ada segelintir pahala yang turut ayah dapat dari bakti adek ke suami nanti." Aku mengangguk, tak dapat berkata - kata. "Ayah sayang adek. Selamanya adek akan jadi putri kecil ayah." Tangisku sukses menderas. Wajahku sembab saat bu Ayu datang untuk meriasku. Dengan tangan telatennya, bu Ayu menyingk

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN