Bab 1. Putus
"Maaf, Batari. Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan kita ini. Karena kamu dan aku tidak sepadan," kata Dewa, kekasih Batari dengan ringan seakan tidak merasa bersalah.
Ekspresi ceria Batari karena senang bisa bertemu kembali dengan kekasihnya yang baru pulang dari luar negeri, kini mendadak kaku. Senyum manisnya hilang, kedua matanya terbelalak, dan dadanya terasa ditusuk-tusuk oleh sembilu. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dewa barusan.
"A-apa maksud kamu?" tanya Batari dengan suara bergetar menahan sedih bercampur amarah.
"Kamu tahu sendiri pendidikan aku lulusan S2, sedangkan kamu cuma lulusan SMA. Apa kata orang-orang nanti? Aku tidak mau kamu mendapat hinaan," jawab Dewa yang terkesan melindungi Batari, tapi sebenarnya itu kebalikannya.
"Apa? Hanya karena aku lulusan SMA dan kamu lulusan S2 sehingga ingin mengakhiri hubungan yang sudah kita bangun selama delapan tahun," balas Batari tidak terima.
Gadis berambut panjang itu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena saat itu ayahnya tidak mampu membiayai kuliah dua orang bersamaan. Saudara tirinyalah yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah atas saran ibu tirinya. Uang asuransi pendidikan milik Batari juga digunakan untuk menguliahkan Utari sampai bisa lulus S1.
"Batari, dengarkan aku! Orang tua aku ingin mempunyai menantu yang sepadan dengan aku," ujar laki-laki berkacamata minus itu beralasan lagi.
Tawa hambar pun tercipta dari mulut Batari. Gadis itu sadar kalau semua yang diucapkan oleh Dewa itu hanya dalih agar bisa putus dengannya dan mencari wanita lain. Dia tahu betul bagaimana sifat orang tua laki-laki ini. Ayahnya justru berharap mereka segera menikah setelah Dewa pulang ke Indonesia.
"Bilang saja kalau kamu sudah kepincut sama wanita lain. Siapa dia? Apa aku mengenalnya?" tanya Batari menduga-duga.
"Tidak ada. Hanya saja ibu ingin menjodohkan aku dengan perempuan pilihannya," jawab Dewa sambil memalingkan wajah.
Sejak tadi Batari menahan air matanya agar tak menetes. Hatinya terasa sangat sakit. Kesetiaan bertahun-tahun menunggu kekasihnya dibalas dengan seperti ini.
"Perjodohan itu hanya alasan kamu saja, 'kan? Untuk menutupi perselingkuhan kamu dengan wanita lain. Kamu pikir aku ini bodoh hanya karena lulusan SMA." Batari menatap Dewa dengan tajam.
Laki-laki yang menggunakan pakaian kasual itu hanya diam. Dewa memang sudah mempunyai kekasih baru satu tahun belakangan ini. Dia bingung bagaimana caranya mengakhiri hubungan dengan Batari yang sudah terjalin sangat lama, sejak dirinya masih kuliah S1 dan gadis itu masih duduk di bangku SMA.
"Aku tidak berselingkuh. Seharusnya kamu sadar kalau kamu itu tidak pantas untuk aku yang lulusan S2 luar negeri. Sebaiknya kamu cari laki-laki yang sepadan dengan kamu agar kamu tidak merasa kerdil di depannya," bantah Dewa beralasan agar tidak diketahui keburukannya.
Semakin lama bicara dengan Dewa malah membuat hati Batari sakit. Dia akui cuma lulusan SMA dan bekerja sebagai SPG sebuah produk kosmetik di sebuah mall. Namun, dari gajinya itu dia bisa menabung dan membantu keuangan Dewa selama tinggal di luar negeri. Lalu, sekarang dengan mudahnya laki-laki itu meminta putus darinya.
Batari menertawakan dirinya yang bodoh karena sangat percaya kalau Dewa juga begitu mencintainya, seperti dia. Ternyata cinta laki-laki itu tidak sedalam yang dia duga.
***
Suasana di meja makan yang terhidang makanan mewah terasa mencekam. Seorang laki-laki tua sedang menatap tajam kepada cucu semata wayangnya yang kini duduk di samping kanannya.
"Jika kamu belum juga menikah sampai akhir tahun ini, maka harta yang akan kamu dapatkan hanya 10% saja. Sisanya akan diberikan kepada yayasan dan juga Raya," ucap Kakek Pandu dengan tegas.
"Apa!? Bagaimana mungkin aku bisa menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan aku istri kalau waktu yang diberikan sangat singkat, Kek?" ucap Tara tidak terima dengan keputusan itu, terlebih saat mendengar anak angkat kakeknyalah yang akan mendapatkan harta warisan yang seharusnya menjadi haknya.
"Tidak ada bantahan. Kamu menikah maka 50% saham perusahaan akan kakek berikan kepada kamu. Jika tidak maka jatah kamu hanya 10% saja." Laki-laki tua itu mengetuk-ngetukan jarinya ke meja dengan cukup keras.
Nusantara atau lebih sering dipanggil Tara merupakan seorang CEO dari perusahaan ADIWANGSA GRUP. Di usianya yang sudah menginjak 37 tahun belum juga menikah. Hal itu dibilang aib oleh Kakek Pandu karena menjadi bahan gosip para karyawan dan beberapa rekan bisnisnya.
Dengan menahan rasa kesal Tara pun pergi dari sana dan meninggalkan makanannya yang belum habis. Dia tahu kakeknya tidak akan mudah mengubah keputusan yang sudah dibuat.
Tara kembali ke kantor setelah makan siang bersama kakeknya. Wajahnya ditekuk dan itu membuat para karyawan yang berpapasan dengannya menjadi ketakutan.
Panji yang sedang menikmati waktu istirahat sambil makan siang dibuat terkejut dengan kedatangan Tara yang membuka pintu dengan kasar, lalu duduk bersandar di sofa. Dia bisa menebak apa yang sudah terjadi kepada atasan sekaligus teman baiknya ini.
"Kenapa?" tanya Panji setelah mengelap mulutnya dengan tisu.
"Kakek semakin menekan aku untuk segera menikah. Jika sampai akhir tahun ini aku belum menikah maka harta yang akan aku dapatkan cuma 10% saja dari semua total kekayaannya," jawab Tara dengan nada penuh tekanan. "Dan yang paling membuat aku emosi adalah kakek akan memberikan sebagian besar hartanya untuk Raya dan yayasan!"
Mata Panji membulat dengan mulut terbuka. Dia tidak menyangka kalau Kakek Pandu akan tega melakukan itu kepada Tara. Dia juga tahu kalau Raya bukanlah orang yang tepat untuk menerima kekayaan yang berjumlah fantastis itu.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Mencari wanita secara random agar bisa menikah dan mengamankan harta warisan keluarga Adiwangsa," tanya Panji penasaran.
"Entahlah. Aku tidak mau pernikahanku nanti malah membawa kehancuran bagiku," jawab Tara sambil menatap langit-langit. Dia berpikir keras langkah apa yang harus dia lakukan saat ini.
Selama ini Tara sibuk bekerja untuk memajukan kembali perusahaan keluarganya yang sempat diambang kebangkrutan akibat kebijakan di bawah kepemimpinan ayahnya yang terlalu percaya kepada orang-orang yang ternyata mengkhianati dirinya.
Begitu lulus kuliah Tara dibantu Panji banting tulang mencari investor dan klien. Mereka juga setiap hari begadang demi mendapatkan hasil yang memuaskan. Makanya sampai sekarang keduanya belum menikah dan malah tersebar gosip miring akan kedekatan mereka.
Tara yang semula duduk bersandar di punggung sofa, langsung duduk tegak sambil berteriak, "Aku punya ide!"
"Apa ide kamu? Jangan melakukan hal-hal diluar pikiranku, ya?" Dengan mata memicing Panji melihat ke arah Tara. Karena temannya ini selalu saja membuat sebuah ide gila yang terkadang tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Aku akan memasang iklan di koran untuk mencari calon istri!" pekik Tara tiba-tiba dan terlihat senang. Berbanding terbalik dengan Panji yang mulutnya menganga karena ide gila temannya ini.
Senyum lebar masih menghiasi wajah Tara setelah otak cerdasnya mendapatkan ide untuk mendapatkan istri dalam waktu cepat. Dia akan menyeleksi para wanita itu nanti.
"Apa kau gila? Mencari istri lewat iklan di surat kabar!" pekik Panji sambil mengguar rambutnya. Lantas laki-laki yang memakai kemeja abu muda ini berdiri dan berjalan mendekati temannya.
"Tidak. Justru dengan begini kita bisa mengetahui siapa wanita itu lewat surat lamaran yang mereka kirim," kata Tara dan lagi-lagi ini membuat Panji melongo karena tidak salah juga dengan pemikiran cucu pendiri perusahaan tempatnya bekerja.
Wanita yang melamar menjadi calon istrinya Tara akan mengirim daftar riwayat hidup, alamat tempat tinggal, foto, dan bisa saja mengirim sesuatu yang menjadi persyaratan lain nantinya. Dengan begini lamaran bisa dilakukan dengan ketat dan nantinya bisa dipilih beberapa orang untuk mengikuti penyeleksian kembali dan akhirnya dipilih salah satu yang terbaik dari mereka.
"Lalu, apa saja persyaratan yang akan kamu cantumkan di dalam iklan itu?" tanya Panji setelah berhasil menguasai dirinya kembali.
"Hmmmm, itu akan aku pikirkan dulu. Sekarang kita harus kembali bekerja," jawab Tara yang menyeringai dan terlihat menyebalkan di mata Panji.
Rasanya Panji ingin memukul temannya ini yang selalu saja seperti ini. Membuatnya tersiksa kerena penasaran.
Tara pergi dari ruangan itu lalu masuk ke kantornya yang ada di paling ujung. Ruang kerja yang luas dan didekorasi dengan sangat baik agar dirinya merasa nyaman untuk berlama-lama di sana.
Bukannya membuka tumpukan berkas, Tara malah mencoret-coret kertas menuliskan persyaratan yang diinginkan olehnya dari seorang wanita yang akan menjadi calon istrinya. Dia menulis beberapa poin secara singkat, jelas, dan padat.
Laki-laki yang berpenampilan rapi dan stylish itu tertawa senang setelah selesai menuliskan beberapa persyaratan dan kompensasi yang akan didapatkan. Dia yakin dengan cara ini akan mendapatkan perempuan yang sesuai dengan keinginannya.