Dengan langkah penuh percaya diri Batari memasuki gedung perkantoran milik ADIWANGSA GRUP. Kebetulan hari ini giliran dia libur dari tempat kerjanya, jadi tidak perlu repot-repot minta izin sama supervisor.
Baru saja memasuki lobi depan, Batari sudah bertemu dengan Utari. Saudara tirinya memang bekerja di kantor ini sebagai karyawan biasa. Berbeda dengan Dewa yang menempati posisi kepala tim pemasaran.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Utari dengan sinis.
"Mau apa aku di sini itu bukan urusan kamu," jawab Batari dengan ekspresi datar.
"Awas saja kalau sampai kamu menggoda Dewa! Tidak akan segan-segan aku buat perhitungan dengan kamu," desis Utari sambil menunjuk wajah Batari.
Batari melihat seorang laki-laki memakai setelan baju training berwarna biru dongker berlari ke arahnya. Rupanya dari arah samping kanan ada juga laki-laki yang memakai pakaian berwarna sama berjalan sambil membawa peralatan kebersihan. Tabrakan pun tidak bisa dihindarkan. Ember berisi air kotor itu tumpah mengenai mereka berempat dan lantai menjadi kotor dan tergenang air.
"Hey, apa yang kalian lakukan, hah!" bentak Utari kepada kedua orang laki-laki itu.
"Maaf, Mbak. Aku tidak sengaja," ucap laki-laki yang membawa alat kebersihan, karena dia seorang office boy di sana.
Wajah datar Tara tertutupi oleh topi. Senyum tipis terulas dari bibirnya yang berwarna pink segar karena tidak pernah tersentuh oleh nikotin dan alkohol. Dia senang karena Batari mengikuti lamaran iklan yang dia pasangan. Lalu, tanpa bicara apa pun dia pergi.
"Hey, mau pergi ke mana kamu?" teriak Utari kepada Tara. Perempuan itu ingin meminta pertanggungjawaban kepadanya juga karena baju dan sepatu dia kini sangat kotor.
Batari hanya bisa menggerutu di dalam hati karena rok dia kena tumpahan air pel. Karena tidak ada waktu lagi, dia berlari ke toilet mencoba membersihkannya, walau sia-sia.
Tempat interview berada di lantai lima, Batari dan beberapa gadis menunggu di depan sebuah ruangan. Satu persatu mereka dipanggil ke dalam. Ada sekitar sepuluh orang di sana dan masuk sesuai nomor urut yang mereka terima lewat surat balasan yang dikirim ke tempat masing-masing kemarin. Kebetulan Batari menerima nomor sepuluh.
Rasa gugup dirasakan oleh Batari karena rata-rata perempuan yang keluar dari ruangan itu terlihat murung dan kecewa. Ini membuat gadis itu menjadi tidak percaya diri.
"Nomor sepuluh atas nama Batari Malahayati Putri!" panggil seorang perempuan berbaju setelan blazer dan celana panjang, setelah membuka pintu ruangan itu.
"Iya, saya!" balas Batari yang spontan langsung berdiri ketika namanya di sebut.
Ketika Batari masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat sesuatu yang tidak biasanya ketika orang melakukan interview. Namun, dia diam dan berdiri tegak di tengah-tengah ruangan.
"Apa kamu bisa bermain catur?" tanya Tara yang sedang menyamar dengan riasan seorang laki-laki tua.
"Meski tidak jago, tapi aku bisa memainkannya," jawab Batari.
"Oke. Kalau begitu kamu bertanding main catur dengannya." Tara menunjuk Panji yang sejak tadi duduk di sampingnya.
Panji yang sedang asyik memandangi wajah Batari dibuat terkejut. Dia berdecih karena temannya itu sejak tadi selalu menjadikan umpan dirinya.
"Ini sebenarnya cari calon istri atau cari teman bermain?" batin Batari yang kini sudah duduk berhadapan dengan Panji.
Permainan catur antara Batari dan Panji berlangsung cukup lama, sekitar 15 menit dengan kemenangan di tangan Panji. Tara yang melihat permainan mereka cukup puas. Karena Batari bisa dijadikan lawan main sama kakeknya, nanti.
"Karena kamu kalah main catur. Jadi, kamu harus bisa menaklukkan tantangan berikutnya," ucap Tara dan itu membuat kening Batari sedikit mengkerut.
Tara menunjuk meja yang diatasnya ada beberapa bahan makanan. Dia ingin Batari memasak menggunakan bahan yang ada di sana dalam waktu lima menit, tidak boleh lebih.
Batari ambil telur dan beberapa bumbu lainnya. Dia membuat telur dadar polos, tidak sampai tiga menit, dia selesai memasak.
"Kenapa kamu masak itu?" tanya Tara.
"Karena Bapak tidak menentukan masakan apa yang harus aku buat. Bapak bilangnya cuma buat masakan menggunakan bahan yang ada di atas meja. Jadi, aku buat ini saja," jawab Batari dan Tara pun mengangguk.
Rupanya tantangan yang diberikan oleh Tara tidak sampai di sana. Kali ini Batari diminta untuk mengerjakan pembukuan untuk gudang produksi. Dia harus bisa menghitung barang yang keluar masuk gudang.
Bersyukur Batari sewaktu sekolah ambil jurusan IPS dan mempelajari ilmu itu. Meski memakan waktu cukup lama, dia berhasil menyelesaikan tantangan tersebut.
Tara senang karena Batari memiliki kemampuan untuk bisa diajak bekerja sama nantinya ketika berhadapan dengan Kakek Pandu. Mengingat gadis itu hanya lulusan SMA, dia sempat ragu untuk menerima saat lamaran kemarin. Namun, rasa kasihan karena sudah dikhianati oleh kekasih dan kakak tirinya, membuat Tara meloloskan Batari untuk mengikuti seleksi calon istrinya.
"Oke. Untuk seleksi ini hasilnya akan diberi tahu nanti malam lewat email. Jangan lupa kamu periksa, apa lolos atau gugur," ucap Tara.
"Baik. Terima kasih, Pak," balas Batari.
Sekarang Batari tahu kenapa para pelamar tadi kebanyakan murung setelah keluar dari ruangan ini. Dia sendiri juga merasa dengan interview mencari jodoh untuk CEO di sini.
***
Hubungan Batari dan Utari semakin buruk. Mereka sampai tidak tegur sapa ketika berada di rumah. Jika pun ada pembicaraan pastinya akan saling menyindir.
Setelah makan malam, Batari menunggu-nunggu email dari perusahaan ADIWANGSA. Tepat jam sembilan malam, ada email masuk.
"Aaaaaa!" Batari berteriak senang ketika melihat tulisan "LOLOS" di sana.
"Senangnya aku bisa lolos ke tahap berikutnya." Batari sampai meneteskan air mata karena terlalu bahagia.
Acara selanjutnya akan diadakan dua hari lagi. Batari masih bisa pergi kerja dan berencana mengajukan cuti ketika mengikuti interview lanjutan.
Kartika tidak kalah heboh dengan Batari. Dia ikut senang mendengar temannya bisa lolos. Dia berharap Batari bisa segera menikah dan mencari kebahagiaannya sendiri.
"Aku akan terus berdoa agar kamu bisa lolos menjadi calon istri CEO ADIWANGSA GRUP. Biar keluarga kamu melek atas apa yang bisa kamu raih," ucap Kartika sambil memeluk Batari sejenak.
***
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Batari akhirnya tiba. Ada tiga orang yang lolos di babak penyisihan pertama. Kali ini mereka bertiga diundang ke sebuah restoran mewah.
Batari yang tidak pernah datang ke restoran mewah ini dibuat takjub. Namun, di sisi lain dia merasa kerdil saat melihat kedua orang saingannya yang terlihat sangat cantik dan lulusan universitas negeri terbaik.
Datang seorang pramusaji ke meja mereka. Ketiganya disuruh memesan makanan sesuai keinginan masing-masing. Kedua orang itu memilih makanan barat, sedangkan Batari memilih makanan lokal yang sangat cocok di lidahnya.
Mereka tidak tahu kalau pramusaji itu adalah Tara yang sedang menyamar. Dia memerhatikan satu persatu sambil mencatat pesanan mereka.
Setelah makanan terhidang mereka makan dengan tenang. Batari makan seperti biasanya dia makan di rumah, berbeda dengan kedua perempuan lainnya yang makan dengan gaya elegan seperti kalangan atas.
Setelah selesai makan datang lagi pramusaji tadi. Dia membereskan bekas makanan di meja itu.
"Untuk tantangan hari ini sudah selesai. Hasilnya akan diumumkan nanti lewat email," kata laki-laki itu dan membuat ketiganya terkejut karena tidak tahu kalau tadi mereka sedang dinilai.
"Hah, yang benar saja! Masa aku dinilai ketika makan?" batin Batari menggerutu. "Kalau begini, sudah pasti aku gagal. Mana tadi aku makan tidak elegan seperti mereka lagi," lanjut Batari masih bermonolog sendiri.
Dengan perasaan tidak menentu dan langkah kaki gontai, Batari berjalan keluar restoran. Dia melihat ada seorang kakek-kakek sedang berdiri di pinggir jalan.
"Kakek mau nyebrang jalan?" tanya Batari dan kakek itu mengangguk.
Lalu, Batari menuntun kakek-kakek itu menyebrang. Dia tidak tahu kalau itu adalah Tara yang lagi-lagi sedang menyamar menjadi laki-laki tua. Dia sengaja melakukan itu untuk menguji ketiga calon kandidat istrinya, tanpa mereka sadari.
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama, Kek." Batari tersenyum ramah kepada laki-laki tua itu. Lalu, melanjutkan berjalan kaki menuju ke halte bus.
Begitu sampai di rumah, Batari menerima sebuah email. Matanya terbelalak ketika melihat tulisan "SELAMAT ANDA DITERIMA".
"Aaaaaaa!" teriak Batari kencang karena tidak percaya.