Bab 5. Cemburu

1100 Kata
"Sepertinya ada yang menyebarkan berita palsu. Suka sekali memfitnah orang," kata Batari dengan tatapan tajam kepada Dewa dan Utari. Pak Rangga melirik kepada ketiga orang itu secara bergantian. Dia merasa aneh kenapa tiba-tiba putrinya bicara seperti itu. Tadinya dia kecewa dan marah karena Batari sudah berkelakuan buruk dengan selingkuhan di belakang Dewa yang sedang berjuang di negeri orang. "Apa maksudnya?" tanya Pak Rangga kepada Batari. "Asal Papa tahu, aku tidak pernah berselingkuh. Dewa tiba-tiba saja memutuskan hubungan kita berdua dengan alasan karena aku cuma lulusan SMA. Katanya aku tidak selevel dengan dia. Beberapa hari kemudian aku lihat dia sedang berkencan mesra dengan Utari," jawab Batari sambil menunjuk dua orang yang terlihat marah kepadanya. Perasaan tidak enak dirasakan oleh Pak Rangga. Dia sebenarnya sedih karena putri kandungnya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas karena uangnya habis untuk biaya kuliah Utari. Tiba-tiba saja Bu Indri datang sambil membawa bolu pelangi yang sudah dipotong-potong dan beberapa gelas teh tawar hangat. Dengan wajahnya yang ceria dia menyuguhkan kepada Dewa. "Ayo, kita nikmati bolu buatan mama!" Bu Indri menarik tangan Pak Rangga agar duduk di sampingnya. Seakan ingin mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan, Batari ikut duduk bersama mereka. Tanpa di suruh, gadis itu mengambil gelas dan meminum airnya sampai tersisa setengahnya. Bu Indri melotot kepada Batari karena gelas untuk Utari malah diambil. Dia harus menahan diri memaki anak sambungnya karena sedang menjaga imej di depan Dewa. Dia tahu kalau keluarga Dewa sangat menyukai gadis itu, apalagi ayahnya yang selalu memuji ketika bertemu Batari sebagai menantu idamannya. "Sebaiknya kamu pergi mandi, Batari. Lihat kamu kotor, bau keringat, dan bawa banyak kuman dari luar," ucap Bu Indri. Mendengar ucapan ibu tirinya, Batari hanya menyeringai. Lalu berkata, "Kata siapa aku kotor? Ada, tuh, yang lebih kotor! Apa lagi ucapannya yang suka memfitnah orang." Mata Batari tertuju kepada Utari dan Dewa. Kedua orang itu terlihat marah dan kesal. Namun, tidak bisa melampiaskan semua perasaannya karena ada Pak Rangga. "Lebih baik bau keringat daripada bau bangkai karena suka makan bangkai saudaranya. Orang yang suka membicarakan orang lain, apalagi dengan tuduhan palsu kan itu sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri," lanjut Batari dan membuat muka Utari dan Bu Indri berubah merah padam. "Sebelum menasehati orang lain, instrospeksi diri dulu. Tuh, penyakit hati dari dulu, kok, tidak diobati. Hati-hati, loh! Bisa-bisa nanti hatinya busuk dan akhirnya mati rasa," ucap gadis bersurai panjang hitam legam. Utari sudah membuka mulut ingin membalas ucapan saudara tirinya. Namun, Bu Indri memberi kode agar tetap diam. Dia tidak mau Pak Rangga menilai buruk kepada anaknya, biar laki-laki itu menilai buruk Batari yang suka bicara membantah dan menimpali orang lain. "Sudah-sudah. Kamu, kok, bicaranya seperti itu! Mama Indri bicara seperti tadi karena begitu perduli sama kamu. Kenapa kamu malah sewot?" Pak Rangga kecewa sama Batari. "Aku hanya mengatakan kebenaran, seperti yang diajarkan sama Papa. Kita tidak boleh takut selama itu di atas kebenaran," kata Batari dan Rangga diam tidak menimpali ucapan itu. Dia tahu dengan watak Batari yang perpaduan dirinya dan mendiang istrinya. Makan malam pun tiba, semua orang duduk di ruang makan. Dewa duduk di samping Utari, kalau dulu dia biasanya akan duduk di samping Batari. "Kamu beneran enggak mau mandi dulu?" tanya Utari. "Kenapa? Biar terlihat cantik! Aku nggak mau sengaja tampil cantik di depan man-tan. Takutnya dia ingin balik lagi karena terpesona dengan kecantikan aku," jawab Batari menyindir. Setelah Batari ingat-ingat lagi, kalau Utari sering sengaja tampil cantik dan terbuka penampilannya ketika ada Dewa main ke rumah. Perempuan itu seperti sengaja ingin menggodanya. "Kamu tenang saja, Dewa tidak akan pernah tergoda lagi sama kamu. Karena aku lebih cantik," balas Utari dengan sombong. "Baguslah kalau begitu. Karena aku tidak mau calon suamiku nanti salah paham," celetuk Batari dan sukses membuat mereka semua terkejut. "Apa maksudmu, Batari?" tanya Pak Rangga yang masih dalam keadaan shock. "Sebenarnya ada laki-laki yang ingin melamar aku jadi istrinya, Pah. Namun, aku belum bertemu langsung dengan dirinya. Mungkin besok atau lusa baru bisa bertemu. Katanya dia laki-laki baik dan ingin mencari perempuan baik-baik yang bisa menjadi istrinya. Temanku merekomendasikan aku dan dia tertarik sama aku," jawab Batari. Di dalam hatinya dia merutuki kebodohan dirinya yang terlalu emosi ketika menghadapi Utari dan Dewa. Dia terlalu sakit hati, jadinya ingin melampiaskan itu semua. Dewa tidak suka mendengar Batari dekat dengan laki-laki lain. Apalagi sudah ada pembicaraan ke jenjang yang lebih serius. Di sudut hatinya, masih ada rasa untuk mantan kekasihnya itu. Menjalin hubungan selama delapan tahun dan merupakan cinta pertamanya, membuat sang gadis jadi orang yang spesial dalam hidupnya. "Memangnya kamu tahu siapa laki-laki itu?" tanya Pak Rangga. Dia tidak mau putrinya salah memilih pasangan. "Sedikit banyak sudah tahu. Di mataku dia laki-laki hebat dan bisa membahagiakan aku di masa mendatang," jawab Batari dengan senyum lebar. Secara materi hidupnya pasti terjamin karena menikah dengan seorang CEO. Tinggal mencari cara untuk kebahagiaan batin dan pikirannya. Meski di dalam hatinya dia berharap Nusantara bisa juga memberikan perasaan bahagia kepadanya. "Semoga kali ini hubungan kamu bisa langgeng karena kalian memilih hubungan yang serius. Papa setuju siapapun yang akan kamu pilih untuk menjadi pendamping hidup. Jangan terlalu lama pacaran, usia kamu sudah matang untuk membina rumah tangga." Batari tidak menyangka kalau papanya akan mendukung keputusannya ini. Tadi, dia mengira akan mendapat pertentangan karena mau menikah dengan laki-laki yang belum mereka kenal. "Terima kasih, Papa, atas doanya. Dia sangat serius dengan hubungan ini, Pah. Sama seperti Papa dulu, begitu kenal sama mama langsung punya keinginan untuk menikahinya. Iya, 'kan?" Batari menggoda Pak Rangga. Laki-laki paruh baya itu tertawa terkekeh. Bayangan kisah masa lalu tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Kenangan indah itu tidak akan pernah dia lupakan. "Papa yakin kamu akan menjadi istri yang hebat, tidak kalah dengan mamamu," ucap Pak Rangga bahagia dan Batari meng-aamiin-kan. Perasaan Bu Indri berubah jelek. Dia tidak suka jika ada yang memuji mendiang istri Pak Rangga. Kematian ibunya Batari adalah kebahagiaan untuknya, karena setelah itu dia merayu Pak Rangga sehingga mau menikah dengannya. Jujur saja dia sering iri dan cemburu melihat kehidupan keluarga Batari yang harmonis dan penuh kebahagiaan. Utari melirik ke arah Dewa. Dia kesal dan marah karena bisa melihat kecemburuan pada laki-laki itu. Dia menduga kalau kekasihnya ini masih menyimpan perasaan suka kepada Batari. "Awas saja kalau kamu masih punya rasa kepada Batari! Aku tidak akan kasih jatah lagi," batin Utari. "Siapa laki-laki itu? Kapan kamu akan mengenalkan sama Papa?" tanya Pak Rangga. "Namanya Nusantara, Pah. Nanti aku akan mengenalkan dia sama Papa," jawab Batari dengan nada ceria. "Nusantara?" batin Utari dan Dewa. Mata Utari dan Dewa terbelalak ketika mendengar nama yang sama dengan atas mereka di kantor. Karena nama Nusantara itu tidak lazim dipakai sebagai nama orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN