Bab 9. Calon Menantu Terbaik

1213 Kata
"Dibayar apanya? Kakek jangan mengada-ada. Aku cari istri itu bener-bener bukan asal-asalan," kata Tara tidak suka dengan ucapan Kakek Pandu. "Selamat siang, Kek. Kenalkan saya, Batari. Senang bisa bertemu dengan Kakek," ucap Batari dengan sopan. Sebenarnya dia gugup setengah mati berhadapan dengan orang paling terkenal kaya di kota ini. Kakek Pandu hanya mengangguk. Akan tetapi, matanya terus menelisik kepada Batari. Dia suka dengan gaya berpakaian dan penampilan calon cucu menantunya. Model pakaian sederhana, tetapi kelihatan elegan dan berkelas. Tara yang sudah hafal betul karakter Kakek Pandu, apa yang disukai dan tidak disukai oleh laki-laki tua itu. Kriteria perempuan yang menurutnya pantas untuk dijadikan pasangan dan melahirkan keturunan keluarga Adiwangsa. "Kakek, Batari juga bisa main catur. Pasti akan cocok jadi lawan bermain Kakek ketika ingin beradu strategi permainan," kata Tara dengan penuh bangga. Selama ini orang-orang disekitar Kakek Pandu harus mau diajak bermain catur. Akan tetapi, Tara tidak suka melakukan hal itu karena mudah bosan jika duduk sambil melihat ke arah pion-pion. Jadi, dengan adanya Batari, dia berharap kedepannya sang kakek main catur dengan gadis itu, tidak lagi mencari dirinya disertai ancaman. "Benarkah? Kalau begitu sini lawan kakek!" titah Kakek Pandu senang. Sekarang Batari baru tahu kenapa kemarin saat interview disuruh main catur. Meski dia tidak jago, setidaknya masih bisa melakukan perlawanan dan beradu taktik. Tara meninggalkan Batari bersama dengan Kakek Pandu agar mereka leluasa berbicara. Laki-laki itu memilih pergi ke ruang kerjanya yang ada di rumah. Sudah 30 menit Batari dan Kakek Pandu bermain catur. Tentu saja gadis itu terus mengalami kekalahan. Namun, di setiap permainan yang mereka lakukan, gadis itu memperlihatkan perkembangan dan mengatur strategi agar Kakek Pandu tidak mudah menang. Walaupun lawannya selalu bisa dikalahkan, Kakek Pandu merasa senang bermain dengan Batari. Dia bisa menilai kalau kekasih cucunya itu orang cerdas dan mudah dengan cepat dalam memahami sesuatu dan belajar dari pengalamannya. "Sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya Kakek Pandu setelah meletakkan pion kuda di kotak samping pion ratu. "Belum lama, Kek. Aku berkomitmen tidak ingin menjalin hubungan yang hanya main-main. Aku ingin hubungan yang jelas dan serius," jawab Batari yang tatapan matanya tidak teralihkan dari papan catur. Dia tidak akan membiarkan Kakek Pandu menang dengan mudah kali ini. Laki-laki tua itu senang mendengar jawaban Batari. Perempuan yang dibawa oleh cucunya bukanlah perempuan yang hanya tahu bersenang-senang, melainkan orang yang punya komitmen untuk masa depannya. "Apa kamu sudah siap menjadi pendamping Tara?" "Tentu saja, siap, Kek." "Apa yang membuat kamu yakin kalau Tara bisa menjadi suami yang baik untukmu?" "Perasaanku, Kek. Hati ini yakin kalau Tara bisa menjadi suami yang baik untukku. Selain itu aku juga sudah memastikan sendiri. Aku mencari laki-laki yang setia dan menghormati juga menghargai aku." Kepala Kakek Pandu mengangguk-angguk. Lalu berkata, "Siapa orang tuamu?" "Papaku bernama Rangga, beliau pensiun polisi dan mama kandungku sudah lama meninggal bersama dengan saudara kembarku, Kek. Tapi aku punya mama tiri dan saudara tiri." Seketika muncul rasa kasihan di dalam hati Kakek Pandu. Laki-laki tua itu malah asyik bicara dengan melupakan papan caturnya. "Apa kamu tahu kalau menjalani hidup dalam berumah tangga itu tidak mudah. Pastinya akan selalu ada masalah yang menerpa keluarga kalian." "Tentu saja, Kek. Tapi, semua masalah itu akan bisa dihadapi jika kita dan pasangan kita harus saling ketika menyelesaikan masalah itu. Selain itu dalam berumah tangga juga harus ada hubungan timbal balik." Kakek Pandu dalam waktu singkat dibuat kagum dan suka kepada Batari. Dia yakin Tara akan bisa membina rumah tangga bersama Batari. Dia tidak mempermasalahkan gadis itu dari kalangan mana, asal cucunya suka. "Kamu jangan melihat Tara sebagai manusia hebat atau sempurna. Karena dia bukan orang seperti itu," kata Kakek Pandu dengan tatapan tajam masih ingin menguji gadis itu. "Iya benar, Kek. Seperti apa pun keadaan Tara aku sudah menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada padanya, Kek. Sebagaimana Tara juga mau menerima diriku apa adanya, karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Makanya Tuhan menciptakan makhluk secara berpasang-pasangan untuk saling melengkapi," balas Batari. "Kita berdua sudah membicarakan masa depan dan tujuan hidup ketika berumah tangga nanti. Membuktikan kalau kita tidak main-main dalam berumah tangga." Kakek Pandu tercengang mendengar ucapan Batari. Setahu dia cucunya itu termasuk orang yang sulit diatur dan suka berbuat sesuatu yang menurutnya benar. Tanpa disadari Kakek Pandu terus memerhatikan Batari ketika bicara. Tidak ada kebohongan dari pancaran matanya. Gadis itu bicara dengan jujur. Tadi dia sempat mengira gadis itu hanya mau mengincar harta Tara. Namun, hal itu tidak terlihat dari cara bicara Batari yang tidak sedikit pun menyinggung tentang materi. Waktu makan siang Batari melayani Kakek Pandu dan Tara, seperti ibunya dahulu ketika makan bersama. Laki-laki tua itu senang melihat keluwesannya yang tidak dibuat-buat. "Kamu bisa masak, Batari?" tanya Kakek Pandu ingin tahu, bukan berarti nanti akan disuruh memasak. Karena di rumahnya sudah ada koki. "Hanya bisa masak makanan yang sederhana, Kek. Itu juga dulu diajarin sama mendiang nenek dan mama. Sekarang memasak jika Mama Indri sakit atau tidak ada di rumah," jawab Batari dan Kakek Pandu tersenyum tipis. "Katanya kamu jago buat ikan bakar. Minggu depan coba buatkan untuk aku dan Kakek," ucap Tara. Batari takut ikan bakar buatannya tidak cocok untuk Kakek Pandu. Setahu dia perut orang kaya sama perut orang miskin berbeda ketika menerima makanan di ususnya. "Aduh, kenapa, sih, Tara malah meminta aku buat masak! Bagaimana kalau nanti Kakek Pandu masuk ke rumah sakit gara-gara makanan yang aku masak? Bisa-bisa aku kena pasal," batin Batari merana dan ketakutan. "Ide bagus! Sekalian kita memancing di danau," kata Kakek Pandu bahagia. "Bener, Kek!" "Apa? Memancing! Itu 'kan kegiatan yang paling aku benci," batin Batari yang menahan tangis. Tanpa Batari ketahui, Tara juga tidak suka memancing. Kegiatan yang disukai oleh Kakek Pandu tidak ada satupun yang disukai oleh sang cucu. Jadi, laki-laki tua itu selalu mengajak Raya, anak angkatnya. Karena Tara selalu menolak ketika diajak. Tara berharap Batari bisa menjadi orang yang dekat dengan Kakek Pandu. Dengan begini, pikiran kepada Raya akan teralihkan kepada Batari. Laki-laki itu tidak mau kalau Raya menempati posisi lebih penting darinya baik di keluarga ataupun di perusahaan. "Kamu tidak keberatan 'kan kita menemani Kakek memancing. Kamu pasti senang ketika umpan dimakan sama ikan. Pokoknya ada perasaan bangga ketika berhasil memancing ikan," kata Tara kepada Batari dengan penuh semangat. Batari mengira Tara jago memancing. Jadi, dia merasa tenang jika nanti tidak mendapatkan ikan. Kakek Pandu merasa tidak sia-sia memberikan ancaman kepada Tara. Sekarang dia sudah mendapatkan calon istri yang dinilainya hebat. Karena jarang ada gadis yang mau diajak main catur dan memancing. *** Sementara di belahan negara lain, Raya sedang menikmati segelas wine sambil membaca laporan tentang perempuan yang menjadi calon istri Tara. Informasi yang dia dapatkan masih sedikit. Mata-matanya yang ditempatkan di kantor utama perusahaan ADIWANGSA GRUP hanya bisa memberikan data salinan yang dikirim oleh Batari ketika mengirim surat lamaran. "Marco, cari orang yang bisa menyelidiki seseorang dengan cepat! Aku ingin informasi yang lengkap tentang wanita ini," perintah Raya kepada asistennya. "Baik, Tuan!" Marco segera melaksanakan tugas dari sang majikan. "Aku ingin tahu kenapa Tara memilih wanita ini. Apa hebatnya dia sehingga pantas menjadi calon menantu keluarga Adiwangsa," kata Raya bermonolog sambil menelisik foto Batari. "Aku yakin dia bukan perempuan biasa," lanjut laki-laki itu di dalam hatinya. Masih ada keinginan Raya untuk menggagalkan pernikahan Tara agar harta Kakek Pandu bisa dibagi-bagi. Dia termasuk ke dalam salah satu orang yang akan mendapatkan harta pembagian itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN