Waiting for Clarity

1754 Kata

Mengebut. Ya, Sedayu melajukan motor dengan kecepatan tinggi menembus dinginnya waktu menjelang fajar. Jalanan sepi memuluskan perjalanannya, meski ketakutan akan kedatangan peneror itu secara tiba-tiba makin membuatnya kalut. Ia baru bisa bernapas lega ketika memasuki halaman rumah Tanta Mardiyah. Ia masih berdiri di luar sambil memperhatikan rumahnya sendiri. Tanta Mardiyah yang setiap hari merawat dan membersihkan rumah itu. Ia menghela napas susah dengan mata sendu. Sebaiknya, ia sewakan saja rumah itu agar ada yang menempati. Pikirnya tiba-tiba. Sayang kalau dibiarkan kosong saja. Namun, ia harus selektif memilih orang yang hendak tinggal di sini. Jangan sembarangan orang. Takut mereka berbuat dosa dalam rumah yang dibangun orang tuanya. Sedayu tidak rela jika rumah ini dijadikan te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN