"Nduk, apa bener sampean lagi deket sama seseorang?" tanya Amanda, adik kandung nomor tiga Mia, menyelidiki.
"Kata siapa, Tante?" tanya Sofia, heran saja kenapa tiba-tiba ada yang bertanya begitu.
"Kata mamamu," sahut wanita berambut pendek yang tengah menikmati biskuit.
Mata Sofia seolah-olah lepas. "Mama?" gumamnya.
Dari mana mama tau, ya? Aduh, gawat ini!
Sofia ikut serta memeriahkan acara garden party bersama para kerabat dalam rangka penobatan dua sepupunya menjadi dokter muda. Semacam acara syukuran. Sebagian besar keluarga Sofia berperan dalam bidang kesehatan, seperti dokter, bidan, perawat, bahkan dokter spesialis. Termasuk Amanda berhasil membuka klinik mandiri untuk membantu para ibu melahirkan.
Sofa letter-L terletak di tengah hamparan rumput hijau. Sofia menyamankan punggung di sana sembari mengamati orang-orang bercengkerama. Mereka dibalut oleh atasan kuning, serta bawahan merah. Tema pesta kali ini adalah bunga kertas. Hanya dia sendiri berkostum seadanya. Kaos oblong merah, jaket kain, serta celana kain hitam yang warnanya memudar. Kostum itu juga pernah dipakai ketika bertemu Baron tiga hari lalu.
Berkali-kali Mia mengingatkan agar kompak dengan yang lain, tetapi tak diindahkan. Sofia merasa malu, tidak pantas. Pergi ke pesta saja, Sofia hanya cuci muka, tidak mandi. Apa lagi gosok gigi. Astaga!
"Bener nggak, ada yang deketin sampean?" tanya Tante Amanda belum puas.
"Iya, dia lagi deket sama cowok," seloroh Mia kepada Amanda dari arah samping sambil membawa gelas-gelas tinggi berisikan sirup.
"Kamu kira mama nggak tau? Dua kali telponan di bawah kolong meja makan, deket dapur. Iya, kan? Ngaku deh!" bentak Mia sambil menoyor kepala Sofia.
Sofia diam seribu bahasa.
"Siapa dia, Sof?" cecar Mia.
"Paling orang pinggiran, Mbak. Mungut dari emperan stasiun," ucap Amanda kepada Mia. "Beda status sama kita!"
"Tante Amanda, kok, bilangnya gitu," sanggah Sofia seraya menghadiahi senyuman.
"Kalau ada apa-apa, kamu tanggung jawab, Sof!" sentak Mia.
Oke. Baron orang baik, ndak kayak mama. Batin Sofia.
"Lah, emange enek sing gelem ambek Sofia(1)? Jerawatnya aja penuh gitu. Udah persis ditempelin kacang tanah sekilo," ujar Brenda, adik kandung Mia nomor dua, sedari tadi mendengar perbincangan.
"Buktinya ada," sahut Amanda sambil melengos.
"Paling, yoo, mukak e ajur pisan(2)!" Tawa Brenda berderai, hingga hampir semua giginya terlihat.
Astagfirullah! Mereka ini orang atau bon cabe, sih? Pedes banget!
"Orangnya guanteng kayak artis Korea," ucap Sofia mengimbangi candaan tak lucu tersebut.
Perasaan tak nyaman menghinggapi seluruh hati Sofia. Pun, pikiran resah. Ingin pulang lebih awal, tetapi takut dimarahi. Ia tetap kesepian di antara riuh suara orang-orang. Asing. Setiap membahas fisik, masa depan, jodoh, maka mood-nya langsung anjlok.
Tak terasa semburat kemerahan mulai tampak. Hawa dingin mulai menyusup kulit. Amanda dan Brenda beranjak menuju ke meja makan panjang berwarna putih sambil mencoba beberapa camilan, seperti steak daging, kentang goreng, cake, dan lain-lain. Kini, hanya ada Mia dan anaknya bersanding di Sofa.
"Sampai kapan kamu begini?" tanya Mia.
"Apanya, Ma?" tanya Sofia sambil menunduk.
"Kapan kamu jadi orang bener?" Kalimat ini seakan-akan mencelus ke jantung Sofia.
...
"Aku ndak tau, Ma," sahut Sofia pelan, lalu menghela nafas.
"Coba, gabung sana sama sepupu-sepupumu! Jangan menyendiri terus di sini, makanya pikiranmu sempit!" Mia menunjuk beberapa kerumunan.
Bukan pertama kali Mia membandingkan anaknya dengan orang lain. Pun, masalah nilai akademik. Pernah suatu ketika Sofia mencapai nilai matematika 5,5. Hujan makian sampai ke telinganya, semacam anak tidak berguna, punya anak satu, tetapi bikin malu. Sebenarnya, hati Sofia hancur berkeping-keping bak serpihan kaca setelah dilempari bongkahan batu besar, tetapi berusaha tabah.
Ada tembok penghalang yang sangat besar di dalam tubuh Sofia. Tembok raksasa itu menghimpit alat-alat gerak Sofia, sehingga sangat berat hidup layaknya remaja wanita normal. Misalnya, bersolek, bergaul, bahkan ia tak memiliki cita-cita sama sekali. Keinginannya hanya satu, yaitu pujian.
**
Di Sebuah Aula Rumah Keluarga Besar
Langit bertabur semburat kemerahan kian jelas. Sofia beserta yang lain berkumpul ke dalam. Sementara, para ART berbusana hitam-merah dengan sigap berhamburan ke hamparan rumput hijau untuk beres-beres.
Pesta kali ini lumayan menguras tenaga. Beberapa meluruskan kaki di karpet, ada yang cuci kaki. Mereka semua beristirahat di ruangan besar dikelilingi oleh lukisan-lukisan pemandangan. Bila ditaksir harganya miliaran. Lagi-lagi, Sofia mengempaskan diri ke Sofa, merasa lega sebentar lagi acara selesai.
"Sof, rencana kamu mau masuk jurusan apa?" tanya gadis seumuran Sofia.
Sofia menggendikkan bahu. "Belum tau," ucapnya malas.
"Daftar FKM aja. Di Universitas Airlangga. Bagus di sana." Amanda memberi saran.
"Oalah, Fakultas Kesehatan Masyarakat. Otak e Sofia opo, yo, mampu toh, Dik Amanda(3)," ungkap Brenda. "Wong nilai rapot Sofia aja anjlok terus(4). Malah pernah hampir ndak naik kelas ...," tambahnya.
"Gimana bisa pinter, bacaannya novel-novel cinta," timpal Amanda. "Anakku aja nilai rapot dari SD sampai SMA selalu di angka 9, peringkat satu terus tak tergantikan. Wajar, bisa masuk kebidanan tanpa tes," lanjut Amanda membanggakan anaknya.
"Anakmu itu wis nggak usah diragukan. Dijamin sukses ke depan, dapat pasangan sepadan," seloroh Mia yang sedari tadi diam.
...
"Sampean masuk jurusan tata boga aja, ya, Mbak Sof. Paling cuma belajar kencur, jahe, wis ora perlu mikir angel(5)," celetus lelaki remaja.
Gelak tawa pecah. Seisi ruangan bahagia dengan kalimat yang baru saja mereka dengar, lucu. Kecuali, bibir Sofia tak bergerak sama sekali.
"Oalah, Le, Le. Sofia masak ae ndak becus(6)," ucap Brenda melengkapi gurauan anak laki-lakinya.
"Lantas, keahlian sampean opo, Mbak Sof? Nih, mungkin aja, ya, bakatnya sampean tidur. Merajut cita-cita di alam mimpi," ucap lelaki remaja sambil tertawa terbahak-bahak.
"Doain aja, ya, aku jadi orang sukses dunia akhirat kelak, Bim. Jadi, penulis terkenal, punya suami saleh ...." Sofia tersenyum lebar ke arah sepupunya serta ke semua orang.
"Ck!" Mia menggeleng-geleng, menurutnya kalimat Sofia sangat tidak mungkin.
Sebisa mungkin, tetap tenang hadapi perkataan-perkataan tersebut. Meskipun, d**a Sofia bergemuruh bak langit mendung yang ingin menumpahkan air bah ke bumi. Hatinya pilu di antara canda kerabat-kerabatnya. Ia ingin sekali pulang lebih dulu agar lebih tenang. Lebih tidak enak lagi sang ibu berpaling dari membelanya.
Sedangkan, Mia tak banyak berkomentar. Wanita berkulit putih bak pualam itu lebih asyik membalik-balikkan lembaran majalah.
...
"Sofia nanti kumasukkan ke fakultas kedokteran juga," ucap Mia, sontak membuat semua orang di sana melongo. "Jalur tes," tambahnya santai sambil tersenyum miring ke arah Sofia.
Sofia mengernyitkan dahi seraya tak percaya. "Apa, Ma? Aa-aku ndak ...." Ia bingung melanjutkan kata-kata.
Sofia menatap lekat mata ibunya. Ada keseriusan di sana. Ia tahu, Mia merupakan orang yang konsisten dengan omongan. Ah, mengapa Sofia merasa dimusuhi oleh ibu kandungnya sendiri.
"Kenapa? Buktikan kalau kamu berguna seperti yang lain!" seru Mia, sontak membuat mata Sofia berkaca-kaca.
Ada yang menyumbat tenggorokan. Unek-uneknya selalu tertahan. Tak tahan, Sofia perlahan menggeser tubuh ke tempat di mana Mia duduk.
“Ma, maaf ... bukan mau membantah. Aku bisa ngukur diri. Apa ndak bisa memilih jurusan yang lain, Ma," pinta Sofia.
"Ma ...." Sofia meraih lengan Mia. Ibunya bergeming.
Gegas, Mia menarik paksa lengannya. "Apa maksudmu? Hah!"
"Kamu harus jadi dokter. Titik!" seru Mia sembari bergeser menjauhi anaknya.
Semua orang di ruangan itu terdiam. Layaknyq menyaksikkan drama di bioskop. Sofia membetulkan tas selempang rajutnya ke samping. Gadis bertubuh mungil berpamitan pulang lebih dulu, karena lelah ingin istirahat. Tak ada yang menjawab sama sekali izin Sofia, apa lagi salamnya. Merasa tak dianggap, ia segera meninggalkan ruangan.
Sebenarnya, maksud Mia hanya ingin memotivasi. Dia berharap, kelak Sofia menjadi dokter, derajat keluarganya naik. Kemudian, kelak dinikahi oleh lelaki dengan status sosial sepadan, sehingga mampu memberi kebahagiaan. Jangan sampai seperti Broto, mendiang suami yang lari dari tanggung jawab. Harta tak diberi. Ditambah kasih sayang menguap entah ke mana.
_________________
(1) Lah, memangnya ada yang mau sama Sofia?
(2) Paling, ya, wajahnya sama-sama hancur
(3) Otaknya Sofia apa, ya, mampu, toh, Dik Amanda
(4) Orang nilai rapot Sofia aja sering turun
(5) Sudah tidak perlu mikir susah
(6) Oalah, Le, Le. Sofia masak saja tidak becus.