Esok Tiba, Sebuah Pertemuan Spesial
"Ada apa, Dik Sofia?" tanya Alif setelah mengoreksi dua lembar jawaban dari soal pre tes kimia.
Sofia melihat sekilas rupa Alif, lalu menunduk. "Ndak, Pak," jawabnya sembari menggeleng pelan.
"Dik, dua bulan ini ... kemampuan eksakta belum ada perubahan sama sekali. Dari 50 soal pre tes, hanya satu yang benar," ucap Alif. "Ada apa? Ada kendala?" tanya Alif penuh kepedulian.
Apa satu yang benar? Itu pun jawabannya ngasal! Batin Sofia.
Sofia diam, bingung mau mulai menjawab dari mana. Hanya menunduk sambil memilin kertas. Rasa malu menggelayar karena terlihat payah di depan Alif. Orang yang diam-diam dikagumi oleh gadis itu.
"Jujur aja, nggak apa-apa. Barangkali saya bisa kasih masukan," ucapnya. "Ya, kamu murid saya, kendalamu juga kendala saya. Jadi, jangan terbebani, semisal malu atau apa. Oke?" Alif tersenyum penuh ketulusan.
Ucapan sang guru meruntuhkan segala ketakutan gadis berbusana panjang. Mata Sofia memindai ke arah Inayah yang sengaja menemani mereka berdua. Semacam kode supaya Inayah membantu jawab pertanyaan Alif.
Inayah mulai angkat bicara, maka mengalirlah segala cerita masa lalu Sofia. Termasuk, trauma yang mengakibatkan nyeri hebat pada bagian kepala saat mengerjakan soal-soal pelajaran. Semalam pun, Sofia mengalami nyeri kepala tersebut. Ditahannya segala sakit seorang diri.
Hampir dua puluh menit Inayah bercerita. Alif menyimak dengan saksama. Sementara, Sofia bergeming.
"Oke, saya paham, Mbak Inayah." Alif manggut-manggut.
"Dik Sof, sabar, ya. Nggak ada masalah, tanpa jalan keluar, selama ada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita cari bareng-bareng jalan keluarnya, ya," tawar Alif bak salju yang memadamkan suluh api.
Sofia mengangguk. Sekilas lirikan mata Alif mengundang desir-desir yang membawa riuh tersendiri di dalam d**a. Padahal, Alif melirik biasa saja. Tidak ada maksud lebih. Hanya Sofia mengartikan lain.
"Ya, udah. Coba kita senyum dulu semua, jangan ditekuk nanti cepet tua," canda Alif. "Obat anti aging nanti laris gara-gara kita." Alif tertawa pelan.
Refleks Sofia memandang Inayah, lalu ikut tertawa. Setelah itu, Sofia bertanya tentang hal di luar pelajaran. Semacam, bagaimana cara Alif memuluskan wajah, padahal laki-laki. Jujur saja, gadis itu mulai tertarik merawat diri by skincare sintetis.
Atas titah Alif, semua buku-buku pelajaran ditutup. Sofia, Inayah mulai membahas dunia novel, komik, serta perantara bacaan lain. Guru muda bertanya koleksi buku-buku si murid. Alif tercenung saat mengetahui buku-buku milik Sofia dibakar oleh ibunya. Tak menanggapi apa pun.
Alif sengaja membuat suasana haru agar berubah rileks. Guru tampan itu memahami kondisi psikis Sofia yang tidak bisa dipaksa belajar kimia hari ini.
Debar-debar bahagia menggelombang, Sofia merasa enjoy menjalani les privat. Baru kali ini. Sesekali, ia bercerita tentang setting tempat dalam novel-novel keluaran terbaru. Alif juga menguasai bahasa indonesia.
Terbitlah seulas senyum manis Sofia yang telah lama memudar. Inayah memerhatikan, tak terasa meneteslah air mata wanita baik itu.
"Non Sofia, Mbak seneng. Sampean bisa senyum tanpa beban kayak gini. Gini keliatan ada auranya, cantik," goda Inayah.
Wajah Sofia berseri-seri. "Belooom cantik. Tapi, kan, habis ini, aku mau perawatan kayak Pak Alif. Pakek merk apa, Pak?" tanya Sofia bersemangat.
"Heh! Pakek o punya mamamu, kan, bisa, Non. Mama, kan, pengusaha kosmetik. Jauh-jauh tanya Pak Alif," goda Inayah.
"Ndak, ah! Aku mau samaan kayak Pak Alif aja!" seru Sofia.
"Saya pakek, eh ... apa, tuh, namanya ... GSC alias Glow Skincare," jawab Alif. "GSC ini mengandung bahan-bahan aman dan dijamin halal."
Mereka larut dalam obrolan santai, tetapi masih dalam lingkup keilmuan. Alif menjelaskan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam Glow Skincare.
Tak hanya itu, Alif juga menjelaskan bagaimana memilih kosmetik yang aman. Laki-laki itu tidak gengsi menjelaskan ke Sofia dan Inayah. Beberapa pengobatan alami wajah juga ada pada bahan-bahan lidah buaya, jeruk nipis, mentimun, dan lain-lain.
Masih dalam lingkup pelajaran kimia menurut Alif. Hanya dikemas dengan topik lebih ringan. Berbeda dari sebelumnya, hanya fokus pada materi-materi eksakta berupa rumus-rumus rumit.
Sofia menyentuh kedua pipi. "Pak, izin bertanya. Apa jerawat saya bisa hilang memakai lidah buaya?" tanya gadis itu sambil meraba-raba wajahnya yang kasar.
"Insyaallah, bisa. Murid wanita saya di pesantren juga berjerawat. Pemakaian rutin kira-kira satu bulan lebih udah keliatan hasilnya ...," ungkap Alif.
"Hasilnya gimana, Pak?" tanya Sofia.
"Jerawatnya berkurang. Wajah lebih cerah," jawab Alif.
"Gimana caranya?"
"Dibuat masker, Dik. Diolesin biasa aja, biarin 10 menit. Habis itu bilas. Mudah, kan?" Alif tersenyum tipis.
"Nanti saya coba. Pingin punya wajah mulus," ucap Sofia.
Dorongan kuat muncul begitu saja. Sofia ingin sekali mempraktekkan saran dari Alif. Padahal, sebelumnya saran dari teman, kerabat, bahkan ibunya semacam masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tidak didengar sama sekali. Mereka semua menyarankan supaya Sofia rajin merawat diri.
"Non, coba dipraktekin. Nanti wajah sampean bisa mulus. Terus, banyak cowok yang deket ...," goda Inayah.
"Ah, cowok lagi, cowok lagi. Aku capek bahas begituan," kilah Sofia. "Udaaah dasarnya ndak laku ...." Gadis itu manyun.
Alif menimpali. "Niatin aja berhias supaya Allah Ta'ala suka. Allah suka sama keindahan."
"Masalah jodoh. Insyaallah, nanti ketemu. Positif aja. Allah sesuai prasangka hamba-Nya ...," ucap Alif.
Sofia mencerna kata demi kata yang Alif lontarkan. Binar bahagia tampak pada kedua mata indahnya. Ia teringat di kulkas ada tiga lembar lidah buaya. Hari ini langsung dipraktekkan.
Wajah gadis itu semringah. Menurut dia, banyak laki-laki mencari wanita yang bersih kulit. Tidak harus glowing yang paling penting bersih, jauh dari kata kusam. Ia tak ingin dipandang rendah lagi oleh laki-laki seperti saat sekolah dulu.
"Pak, saya buat masker sekarang gimana?" tanya Sofia.
"Emang ada?"
"Ada, kan, Mbak?" Sofia balik bertanya ke Inayah.
Inayah mengernyitkan dahi. Lalu, dua alisnya terangkat. "Ada, Non. Mau saya buatkan?"
Sofia mengangguk cepat. "Mauuu!"
"Saya juga buatin, Mbak!" titah Alif. "Nanti saya ajari cara pijat maskernya," tawar Alif dengan senang hati.
Sofia membeliak. "Woah! Ada pijat maskernya juga, Pak?"
"Ada."
Sofia bersemangat. Ia berdiri. "Mbak In, aku ikut liat bikinnya. Pak Alif tunggu sini aja, nggeh?"
Alif mengerjap sekali sambil tersenyum tipis. "Iya, monggo!"
Lima belas menit kemudian. Sofia berlari kecil dari dapur ke ruang tengah dengan membawa semangkuk lidah buaya yang telah dihaluskan. Gadis itu duduk kembali ke meja belajarnya.
Diletakkan mangkuk itu di atas meja. "Siap, Pak!"
"Ini punya Pak Alif." Inayah menyodorkan semangkuk lidah buaya ke guru muda itu.
"Saya juga tak ikutan!" seru Inayah.
"Sudah cuci muka pakek air semua?" tanya Alif.
"Sudah dong!"
"Sudah ...."
Mereka bertiga mulai mengoleskan lidah buaya ke wajah masing-masing. Alif mengajarkan pijat kulit muka. Gerakan jari melingkar dari dahi ke pelipis sampai ke seluruh wajah. Katanya untuk mengendurkan otot-otot wajah yang menegang.
"Pak!" Inayah memanggil.
"Ya?" Alif menoleh ke Inayah.
"Pak Alif tadi nggak cuci muka dulu, to?" Inayah tertawa.
"Oiya, lupa," jawab Alif. "Udah terlanjur nggak apa. Lain kali tak lupa lagi ...."
Sofia serta Inayah tertawa mendengar jawaban Alif. Orang itu keliatannya serius, tapi kadang bisa melucu juga.
Tiba-tiba terdengar ketuk high heels beradu dengan keramik mendekati mereka bertiga. Suaranya tampak buru-buru dari ruang tamu.