Alif, Masa Depan Sofia
Lelaki bertubuh kekar akhirnya duduk. Selang beberapa detik, Inayah menghampiri. "Permisi, Pak. Biasa minum apa? Teh, air putih, atau kopi?" Inayah menawarkan kepada si tamu.
"Apa saja, Bik," jawabnya lembut kepada Inayah.
"Panggil aja saya Mbak Inayah, Pak. Semua di sini juga begitu manggilnya." Inayah coba beramah tamah.
"Baik, Mbak."
Inayah meneruskan tugasnya di dapur. Tak lama kemudian, deru mobil terdengar tengah diparkirkan di garasi rumah. Ya, Mia datang. Selang beberapa menit, ketuk suara ‘high heels’ terdengar dekati pintu utama.
Tak lama kemudian, kaki jenjang Mia menjulang di pintu yang sengaja dibuka sejak tadi. Tak lupa senyum ramah dihadiahi kepada sang tamu. Perlahan, ia lepas sepatu merah, diikuti aroma parfum menguar dari blus kuning selutut.
"Sudah lama nunggu, Pak?" tanya Mia kepada si tamu.
"Mboten, Bu Mia. Baru saja kok. Baru saja duduk," ucapnya sambil berdiri menyambut.
Mia mengambil posisi berhadapan dengan si tamu. Ia berusaha menormalkan pikiran, jangan sampai masalah bisnis di luar ikut masuk ke dalam rumah.
...
"Sofia, kenalkan namanya ... Pak Alif," ucap Mia, kelopak mata yang berisi bulu mata lentik berkedip ke arah Sofia.
"Pak Alif ini merupakan masa depanmu," lanjut Mia bersemangat.
Sofia membatin, apa maksudnya masa depan, ya? Apa maksudnya jodoh? Ah, kenapa di pikiran selalu berkutat tentang jodoh.
...
"Pak Alif, ini ... Sofia anak saya yang saya ceritakan kemarin," ujar Mia kepada Alif.
Alif manggut-manggut sambil tersenyum, pertanda mengerti.
"Begini, Dik. Saya nanti insyaallah akan membimbing kamu buat persiapan tes enam bulan ke depan," ungkap Alif kepada Sofia.
Sofia mengernyitkan dahi. "Tes apa, ya, Pak?"
Alif tersenyum. "Belum tau, ya. Tes kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya," timpalnya antusias.
Sofia membulatkan mata, beralih pandangan ke arah ibunya. "What? Apa ndak salah, Ma?"
Mia menggeleng cepat. "Sama sekali nggak salah, Sofiaaa. Mama nggak pernah salah menata masa depanmu.”
"Kamu rajin belajar biar nilainya tembus target, ya!" seru Mia sembari mencubit gemas pipi Sofia.
Sofia menepis pelan tangan itu. "Ma, tapi, kan ...." Wajahnya gusar.
Inayah datang membawa tiga cangkir teh hangat, serta setoples camilan.
Ingin sekali Sofia membanting toples dan teh di depannya, tetapi ditahan. Bak disambar oleh petir, hati Sofia remuk. Ia ingin mencari pasangan setelah lulus SMA, seseorang yang bisa menjadi sandaran kegelisahannya selama ini. Sehingga, tidak berlama-lama tinggal satu atap dengan orang tua yang selalu ingin menang sendiri.
Kedatangan guru les semakin membelenggu jiwa serta fisik Sofia dari kebebasan. Otak gadis berpipi tembam sudah bosan tersandra dengan mata pelajaran yang menurutnya karangan orang gila, yaitu kimia, biologi, fisika, matematika, dan lain-lain. Barang siapa yang belajar karangan orang gila, maka bisa ikut-ikut tidak waras, kata Sofia.
Ponsel Sofia berdering. Ia izin masuk ke ruangan lebih dalam untuk mengangkat.
[Hallo, gimana, Pak?] tanyanya pada pegawai Sky Park Store.
[Hallo juga, Kak. Gimana sehat? Sehat pasti, ya. Semoga keuangannya juga super sehat. Cuma mau mengingatkan, ya, Kak Sofia. Tiga hari lagi membayar cicilan iPhone dari toko kami. Bila tidak dibayar tindakan hukum akan kami kerahkan,] jelasnya.
[Baik, Pak!]
Sofia langsung menekan gemas tombol merah, telepon seketika mati. Ia mendengkus kesal. Tiba-tiba, kepala belakang Sofia terasa nyeri. Ia merasa masalahnya seperti benang kusut, menikah untuk menghindari Mia, bekerja untuk bayar cicilan, atau ikut les privat untuk kuliah medis.
**
Terancam Bui
Jam dinding tua berisi angka-angka romawi pemberian dari Nyonya Anouk, buyut Sofia, bertengger Indah tepat di depan Sofia. Kemilau warna emasnya masih meninggalkan sisa kemewahan. Detak jarum jam seirama dengan jantung gadis bertubuh langsing. Sementara tenang, teratur.
Comedy story dari novel yang dibacanya sambil bersandar di lemari buku bersaf dua, tak membuatnya terhibur. Wajahnya tetap ditekuk. Tubuh lunglai, diikuti hati yang tak berselera membelai rasa apa pun. Ketakutan mulai menyusut perlahan, sedih pun tidak, marah apa lagi. Semacam mati rasa. Pasrah.
Pikiran gadis itu berkelana ke mana-mana. Ia tak berhasil membawa seorang lelaki melamar ke hadapan ibunya. Seseorang yang Sofia harapkan bisa membawa pergi dari hunian penyiksa mental, di sini, rumah. Lisan seseorang diharapkan bisa membawa kelembutan, kasih sayang tanpa jeda.
Kini, kondisi semakin rumit. Sepertinya, gadis itu benar akan terpental dari rumah, bukan ke bahu sang pelita hati, melainkan bui lembab dan sempit. Sebentar lagi, jalur hukum akan ditempuh Sky Park Store untuk memenjarakannya. Entah ia harus apa? Buntu tidak ada solusi lagi.
Kenop ditekan oleh Mia perlahan. Pintu kamar dari tadi terbuka sedikit, berderit menimbulkan celah lebih lebar karena didorong. Mia mengamati Sofia tengah asyik termenung, tak terlalu hiraukan kedatangan dirinya.
Gesekan kaki Mia lembut mendekati gadis yang tengah meringkuk di salah satu sudut ruangan bersama perpustakaan mininya.
Mia bersidekap, menyembul tinggi di hadapan si anak bak gejolak ombak di permukaan laut.
"Minta nomor Sky Park Store," pinta Mia. Wajah dan suaranya datar.
"Buat apa, Ma?" tanya Sofia tak berselera.
"Buat mempercepat hari pembayaran cicilan iPhone," jawab Mia setenang genangan danau.
DEG!
Sofia mengembus nafas pelan. "Kenapa?” tanyanya diikuti mimik keheranan.
"Cepat! Mana!" Mia mengulurkan telapak tangan, terisi jari-jari lentik nan indah hasil manikur pedikur.
Sofia mengusap layar, mencari kontak toko iPhone terbesar itu. Tanpa berpikir lagi, Ia menyerahkan saja ponsel berisi nomor telepon kepada Mia. Ia tak mengerti, mengapa sang ibu tega menambah beban dirinya. Susah payah ia melobi toko tersebut untuk mengundur tagihan, sekarang malah dipercepat.
Sofia bergeming seraya merayapi wajah sang ibu dengan tatapan memelas, tetapi air muka Mia kaku. Padahal, ia berharap wanita itu sedikit memiliki belas kasih untuknya.
Mia sungguh-sungguh menelepon Sky Park Store, sedikit basa-basi renyah. Tak disangka, di ujung telepon Mia mengatakan akan membayar lunas iPhone 19 juta hari ini juga.
Tunggu dulu, Ini bukan untuk meringankan beban si anak, melainkan demi tujuan lain. Menurut Mia, apa pun keputusan, semua demi menata masa depan lebih baik putri semata wayangnya.
Sofia terlanjur senang, tak menyangka kejutan dari ibu, saking suka citanya seakan-akan 10 ton baja terlepas dari pundak. Mata Sofia berbinar-binar, pertanda hatinya ikut berbahagia.
Gadis berkuncrit ekor kuda berdiri, lalu meraih tangan halus Mia. "Ma, Mama beneran bantuin aku?" tanyanya memastikan.
Mia menepis tangan Sofia diikuti air menggenang di kelopak mata kejoranya. Wanita berparas ayu bergeming dengan kedua tangan menggantung lemas, tak lama kemudian ponsel yang ia genggam dijatuhkan, hingga berdebap di atas karpet tebal berbentuk lingkaran.