BAB 13 : Ceraikan Aku Tepat Pada Waktunya

1068 Kata
“Agata, ada apa denganmu? Sudah satu bulan ini kau selalu saja murung. Tadi pagi saja kau datang dengan wajah sembab, pipimu bahkan bengkak. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa paman dan bibimu berulah lagi?” Sarah dan Markus sudah tidak kuat lagi melihat sahabatnya itu bersedih selama lebih dari satu bulan lamanya. Agata menatap kedua sahabatnya sambil tersenyum. “Aku baik-baik saja, Sarah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selama satu bulan ini aku hanya rindu dengan kedua orang tuaku. Semalam pun aku tiba-tiba mengingat mereka berdua dan menangis.” Agata memang tidak berbohong tapi, juga tidak jujur sepenuhnya. “Kau adalah pembohong yang buruk, Agata. Ada apa? Siapa pria yang sudah menyakiti hatimu itu. Aku beberapa kali mendengar kau menerima telpon dari seorang pria yang biasa kau panggil ‘Rei’, siapa dia?” Mata Markus memicing seolah menyelidiki Agata yang kini sudah gelagepan bukan main. Tidak mungkin Agata akan bercerita tentang masalah rumah tangganya. Lagi pula, pernikahan ini adalah pernikahan yang wajib untuk dirahasiakan bukan? Agata tak sanggup lagi untuk menjawab Markus, ia lantas menatap wajah Sarah yang memandangnya dengan iba. “Aku tidak bisa menceritakannya sekarang kepada kalian. Maafkan aku, maafkan aku Sarah, Markus. Maafkan aku.” Pecah sudah tangis Agata. “Sarah, ambilkan Agata tisue dan masker. Jangan sampai pegawai kantor melihat wajah Agata yang menangis,” perintah Markus. “Baiklah.” Sarah lalu berlari meninggalkan Agata yang menangis dalam dekapan Markus. “Tenangkan dirimu Agata, tidak apa jika sekarang kamu belum bisa bercerita kepadaku dan Sarah. Tapi ingatlah, jangan sekali-kali kamu berpikir hal yang tidak-tidak yah. Berjanjilah kepadaku Agata, percayalah, badai pasti berlalu.” Markus lagi-lagi menguatkan Agata. Agatha hanya bisa menangis terisak dan menenggelamkan wajahnya dipelukan Markus. Tak seberapa lama Sarah datang membawa tisue dan masker untuk menutupi wajah Agata. “Sudah, tenangkan dirimu, tidurlah di apartemenku jika kau butuh waktu untuk menjauh dari sekitarmu, Agata.” Sarah ikut memeluk Agata bersama Markus. “Yah, Kayla juga sering menanyakanmu. Dia sudah rindu sama aunty Agatanya.” Markus ikut menimpali perkataan Sarah. “Baiklah, nanti jika aku ada waktu yah. Aku akan kesana untuk bertemu dengan Kayla. Ah ... lama sekali yah rasanya, entah sudah seperti apa sekarang anak itu.” Agata lantas terkekeh sambil memakai masker dan mengusap bekas air mata di pelupuk matanya. “Agata, ada yang mencari kamu.” Manager cafe datang menghampiri Agata diikuti dengan Shem dari belakang. “Tuan Shem?” panggil Agata sambil menunduk, tidak ingin membuat para sahabatnya curiga, termasuk manager cafe tersebut. “Ikutlah denganku, ada yang harus kamu lakukan di tempat kerjaku,” ucap Shem sambil menatap ramah kepada Agata. “Ada apa, Tuan?” tanya Sarah terlihat khawatir. Ia tau siapa Shem, dan tau siapa yang dilayani oleh Shem. Sarah takut, jika bos dari pria berdasi di hadapannya ini menjadikan sahabatnya Agata sebagai target baru. Sepak terjang Reinhard sudah menjadi bahan pergunjingan di kalangan umum bahkan seantero Jerman, kini tau siapa Reinhard sebenarnya. Setelah acara pengumuman CEO baru The Central Technology Company beberapa waktu yang lalu. “It’s okay Sarah, aku mengenal dengan baik Tuan Shem.” Agata lalu beranjak mengikuti Shem dari belakang. “Nyonya, apa Anda baik-baik saja?” tanya Shem saat mereka berdua sudah memasuki lift khusus menuju ke ruangan khusus CEO yang ada di lantai atas dan orang berkepentingan lainnya. “Aku baik-baik saja, Shem. Ada apa kamu memanggilku?” tanya Agata. “Bukan saya yang memanggil, Nyonya. Tapi, Tuan Reinhard.” Mata Agata langsung membulat sempurna. “Untuk apa dia memanggilku di tempat kerja. Apa dia mau membahas masalah tadi pagi? Atau apa ada sesuatu yang mendesak?” Shem menghela nafas, seujujurnya Shem juga tidak tau apa lagi yang ingin dibahas oleh Rei dan apa yang akan terjadi kali ini. “Nyonya, saya juga tidak tau apa yang terjadi. Tapi, Tuan Reinhard tadi terlihat gusar. Mungkin, ada sesuatu yang penting yang akan disampaikannya kepada Anda.” Agata lalu mengangguk. “Baiklah,” jawab Agata. Ia lalu berjalan menuju ke ruangan Reinhard setelah di berikan petunjuk oleh Shem. Tak pernah sedikitpun terpikirkan oleh Agata, sesuatu yang menunggunya di balik pintu kantor itu akan membuatnya semakin hancur berkeping-keping. Tangannya menggapai gagang pintu dan ‘CEKLEK’. Agata begitu terkejut saat masuk, pintu otomatis tertutup. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, air matanya tak bosan-bosan kembali luruh. “Kenapa? Kenapa Reinhard? Hentikan Reinhard!” Agata tak tahan lagi melihat apa yang ada di hadapannya itu. Reinhard lalu mendorong tubuh Selvi, dan membenarkan celananya. “Keluar!” perintah Reinhard membuat Selvi berlari tunggang langgang keluar dari ruangan tersebut. Reinhard melangkah dengan perlahan, matanya menatap tajam kepada Agata, semakin dekat Reinhard di hadapan Agata, semakin Agata berjalan mundur kebelakang. Hingga punggung Agata menyentuh tembok, sudah tidak ada ruang lagi untuk menjauh dari hadapan pria yang menjadi suaminya itu. “Apa yang mau kamu lakukan, hah? Hentikan Reinhard,” ucap Agata sambil mendorong d**a Reinhard. “Terserah aku, kamu, sudah ku beli bukan? Oh! Bukan. Kamu sudah ku sewa selama aku belum kembali dengan Delilah. Aku masih memiliki waktu lima bulan untuk bersenang-senang denganmu.” Suara Reinhard terdengar begitu kejam di telinga Agata. “Jangan kamu berani mencoba untuk menyentuhku! Lepaskan aku Reinhard. Lepaskan!” teriak Agata sambil menangis histeris. Semua itu tidak diindahkan oleh Reinhard yang justru langsung mengunci tubuh Agata dan memaksa untuk menyentuh tubuh Agata. PLAK! Sebuah tamparan melayang di pipi Reinhard. Betapa marahnya Reinhard saat mendapat penolakan seperti itu dari Agata. Tanpa banyak berbicara, Reinhard langsung mengangkat tubuh Agata seperti karung goni dan melemparnya di atas ranjang dalam private room kantor tersebut. Yah, ada sebuah ruangan yang sangat nyaman tempat Reinhard biasa beristirahat jika dirinya memutuskan untuk tidak pulang ke mansion utama. “Kamu akan melayani aku, sekarang juga!” bentak Reinhard. “Aku tidak mau, lepaskan aku, lepaskan Reinhard. Ku mohon! Aku tidak mau, tidak Reinhard....” Tiga puluh menit berlalu, kini keduanya terbaring lelah di atas ranjang tersebut. Suara isak tangis Agata masih terdengar jelas di telinga Reinhard. Agata menutup tubuhnya dengan selimut, bukan hanya tubuhnya tetapi juga wajahnya. Sedang Reinhard, dengan santainya ia menyesap rokok dan menghembuskan asap rokok tersebut memenuhi ruangan. “Cerai, ceraikan aku. Ceraikan aku, secepatnya.” Suara Agata terdengar sesenggukan. Sudah cukup, semuanya sudah cukup, satu bulan sudah terlalu lama baginya. Agata merasa jika dirinya tidak akan bertahan selama beberapa bulan ke depan. Reinhard semakin emosi mendengar permintaan Agata. Ia meremas hancur bungkus rokoknya. “Selvi, masuklah ke kamarku. Aku membutuhkan ronde kedua denganmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN