Satu tahun kemudian, Elisa melirik jam tangannya, hampir jam tujuh malam. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menghubungi Fabian namun pangilannya tak terjawab. Pasti lagi di jalan, pikirnya. "Fabian belum pulang?" Elisa menoleh ke asal suara. "Belum, Mbak. Masih di jalan kayaknya." jawabnya. Siska, pemilik kosan duduk di kursi kosong samping Elisa dan melihat kantong bawaan gadis itu. "Duplikat kunci saja. Kasian kalau kamu cuma mau antar makanan tapi harus nunggu Fabian sampai malam gini." katanya. "Ndak apa- apa, mbak. Ndak enak, biar Ajeng nunggu aja gak apa- apa." jawab Elisa. "Yudah kalau gitu, mbak tinggal ya. Kalau kelamaan, titipin mbak aja, nanti mbak kasih Fabian." kata Siska sambil tersenyum. Elisa membalas hingga punggung perempuan itu menghilan

