Wina menatap Elisa penuh selidik. Ia memang meminta Elisa menginap di rumah selepas dari Bogor. Ia benar- benar tak memberi celah bagi Fabian untuk berbicara pada Elisa hingga laki- laki menyerukan sumpah serapah padanya melalui telepon yang hanya disambut dengan gelakan tawa. "Udah sih, jujur aja. Lo suka kan sama Fabian?" Wina kembali mengulang pertanyaannya pada Elisa yang kini menatapnya bingung. "Nggak mau jawab juga?" Wina mendesak hingga akhirnya Elisa mengangguk pelan. "Tinggal ngomong iya aja susah banget sih." "Aku ndak ngerti sama perasaanku sendiri." "Nggak ngerti gimana? suka ya suka, nggak ya nggak. Gimana deh." "Aku cuma mulai sering keinget dia sih pas dia mulai ngejauh." "Terus lo mau diam aja?" Elisa menatap sahabatnya. "Memangnya aku harus gimana?" "I

