CHAPTER TUJUH

2150 Kata
            Ketiga laki-laki itu menatap atap tenda tempat tidur mereka semalam. Matahari sudah mulai mengintip malu-malu, tapi ketiga laki-laki itu masih setia berada di dalam tenda sementara para gadis sudah mulai sibuk di dapur dan kamar mandi.              "Yang kebangetan itu elo, Fab. Lagu Jawa sih, lagu Jawa. Tapi ya nggak lingsir wengi juga kali." kata Made.              "Ya abis gue nggak tahu lagu lain selain lagu itu. Itu juga tahunya gara-gara nonton film." Fabian membela diri sementara Ilham yang berada di sampingnya terkikik geli. Fabian bangun lalu terduduk. Tangannya bergerak untuk membuka resleting tenda. Membuat cahaya matahari langsung masuk ke dalam tenda dan menggugah yang lainnya untuk ikut bangun dan terduduk.               Fabian menatap hamparan rumput di depannya, sisa-sisa api unggun masih terserak, panggangan masih berada pada tempatnya. Angin pagi berembus memasuki tenda.              "Kalian bantuin dong. Gimana caranya tuh nyai bisa luluh sama gue." Fabian menoleh ke arah Made lalu ke arah Ilham yang tengah berpikir keras.              "Gue udah bilang kalau itu berat." Made menimpali. Mata Fabian terpaku pada Ilham yang langsung mengangkat bahu.              "Elisa itu seumuran sama Lala dan Wina kan, ya?" tanya Fabian.              "Iya." Made menjawab.              "Kenapa pola pikirnya kayak manusia jaman purba, ya." Fabian menggeleng- gelengkan kepalanya. "coba kalian bayangin, masa rambut gue kasih pomade dibilang pakai minyak jelantah." Fabian berdecak mengingat kejadian itu.              "Masih mending, lo belum pernah kan ngerasain minum minyak jelantah." kali ini Ilham bersuara.              "HAH?" kedua laki-laki itu langsung menoleh ke arah Ilham.              "Kok bisa?" tanya Fabian penasaran.              "Lala naruh minyak bekas pakai di gelas, dia taruh di meja makan, gue pikir itu teh manis, ternyata minyak." Ilham mengenyit jijik membayangkan kejadian saat itu. Fabian dan Made tertawa.              "Masa lo nggak bisa ngebedain mana teh mana minyak, mas?" Fabian masih belum berhenti tertawa.              "Ya abis warnanya sama. Lagian emang biasanya dia kan buatin gue teh tiap pagi."              Fabian dan Made masih terkikik geli saat para perempuan datang dengan nampan di tangan mereka.              "Pada ngomongin apaan? Seru banget." tanya Lala.              "Ngomongin laki-laki yang ternyata lebih apes dari Fabian." jawab Made.              "Siapa?" tanya Wina.              "Mantunya Haji Ardhana." jawab Fabian.    ***                Suara telepon yang berada di ruang tamu berdering. Mbok Yum yang kebetulan sedang membersihkan ruangan bergegas mendekati benda itu lalu mengangkat gagangnya.              Selang beberapa detik, wanita paruh baya itu berbicara pada orang di seberang hingga akhirnya, ia menaruh gagang telepon di atas meja tanpa mematikan panggilan lalu bergegas ke taman belakang.              "Mas Fabian, Bu Widya telepon, mau bicara sama mas." kata Mbok Yum yang sedang asik menyantap sarapan bersama yang lainnya. Semua pasang mata kini mengarah pada Fabian yang terlihat bingung.              "Ada apa ya, Mbok?" tanya laki-laki itu penasaran.              "Ndak tahu, Mas."              Fabian menatap teman-temannya satu persatu lalu berdiri dan beranjak mengikuti langkah Mbok Yum menuju ruang tamu.              "Ada apa ya?" Wina yang pertama kali membuka suara. Yang lainnya mengangkat bahu dan tak berani berspekulasi sehingga mereka memtuskan untuk kembali menyantap sarapan mereka.              Lima menit kemudian, sosok Fabian kembali hadir. Laki-laki itu tampak terburu-buru.              "Kenapa, Fa?" tanya Wina.              "Dapet tugas negara dari Tante Widya." katanya sambil masuk ke dalam tenda untuk mengambil jaket dan ponselnya.              "Tugas negara apaan?" tanya Lala dengan nada penasaran.              "Jemput calon mertua di bandara." jawabnya, "gue duluan ya." kata laki-laki itu sambil melambai pada teman-temannya yang langsung terdiam.              "Calon mertua?" kata Made.              "Orangtua lo mau ke sini, El?" tanya Wina.              "Ndak tahu. Ibuk sama bapakku ndak kasih kabar apa-apa." jawab Elisa. "Pak Wiryo memang libur hari ini. Pak Darmono lagi ambil barang ke Bogor."              "Wah benar berarti. Mungkin mereka mau kasih kejutan sama lo, El. Makanya cuma bilang sama tante Widya." kata Lala.              "Dia mau jemput orangtuanya Elisa dengan keadaan kayak gitu?" kata Ilham, "belum mandi, pakai celana pendek doang. Belum sikat gigi pula."              "Mati lo, Fabian." Sumpah Wina.    ***                Laki-laki itu melirik jam tangannya. Ia menarik napas lega saat menyadari pesawat yang ditumpangi orangtua Elisa baru akan mendarat sekitar sepuluh menit lagi. Ia menggoyang-goyangkan kakinya di area penjemputan. Matanya mengitari sekeliling. Ke orang-orang yang sibuk berlalu lalang dengan tas-tas besar dan koper di tangan mereka.              Ia melirik penampilannya sekali lagi dan tersenyum puas. Sebelum berangkat ke bandara, ia mampir ke rumahnya untuk mengganti baju, tidak ada waktu untuk mandi sehingga ia hanya menggosok gigi dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.              Ia merogoh ponselnya dan menatap gambar yang tadi di kirim Widya melalui pesan whatsapp. Foto kedua orangtua Elisa. Seorang wanita paruh baya dengan kebaya dan konde yang tampak masih begitu muda terawat sedangkan suaminya memakai pakaian adat jawa lengkap dengan blangkon di kepalanya. Pria itu tampak sangar dengan kumis tebal hitam menyerupai milik Pak Raden.              Waktu bergulir, matanya melirik jam tangan dan melihat gerombolan orang berlalu lalang di sekitarnya. Matanya menatap lurus ke depan. Menatap wajah itu satu persatu, memastikan kedua wajah orangtua Elisa tak luput dari pandangannya.              Matanya menatap orangtua yang tampak tak asing. Untuk meyakinkan, ia menatap foto yang dikirim Widya sekali lagi dan membandingkan dengan sosok orang yang terlihat mendekat ke arahnya.              "Wah itu dia Pak Raden." Ia menyisir rambutnya dengan tangan dan menatap penampilannya sekali lagi lalu berjalan cepat menghampiri kedua orangtua yang tampak kebingungan itu.              "Selamat pagi, dengan Bapak Wijayadiningrat?" sapa Fabian dengan ramah.              "Iya, kamu yang disuruh Widya jemput kita, ya?" tanya pria itu. Fabian mengangguk sambil tersenyum.              "Benar, Om. Saya Fabian." Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan orangtua Elisa. "mari, Om. Saya bantu bawa kopernya." kata Fabian sambil mengambil alih koper dari tangan pria berblangkon itu.              Mereka bertiga berjalan beriringan menuju mobil lalu membelah kemacetan Jakarta.              "Kamu siapanya Widya kalau boleh tahu?" Wijaya membuka percakapan untuk pertama kalinya saat Fabian baru saja memasuki tol.              "Saya guru lesnya Ervan, Om. Kebetulan, sahabatnya Elisa sahabat saya juga." Jawabnya sambil tersenyum.              "Hebat, masih muda sudah pintar cari uang." Kali ini wanita paruh baya yang duduk di belakang menimpali.              "Harus, tante. Soalnya biaya nikah mahal." jawab Fabian sambil terkekeh pelan.              "Betul-betul. Jadi anak muda memang ndak boleh malas-malasan. Lebih baik cari uang biar masa tuanya tenang." Wijaya memberi wejangan.              Mobil itu meluncur mulus hingga sampai di pelataran rumah besar Elisa. Fabian membukakan pintu untuk Dewi, Ibu Elisa yang langsung mengucapkan terima kasih. Sementara Fabian mengambil koper di bagasi, kedua orangtua itu sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.    ***                "Assalamualaikum." Empat pasang mata yang sedang berada di ruang tamu langsung menoleh ke asal suara. Ke pintu yang mendadak terbuka.              "Bapak, Ibuk. Waalaikumsalam." Gadis itu berdiri dan menghampiri kedua orangtuanya lalu mencium punggung tangannya. Belum cukup keterkejutan Lala, Made dan Wina atas kedatangan kedua orangtua Elisa dengan pakaian khas Jawanya, di belakangnya Fabian muncul dan menjelma menjadi sosok yang begitu menakjubkan.              Laki-laki itu memakai jeans hitam dengan kemeja berwarna kuning gading lengan panjang yang dilipat sampai ke siku. Sepatu kets warna putih dan rambut yang tampak tersisir rapi. Tampak berbeda dengan Fabian yang tadi pagi mereka lihat.              "Bapak sama Ibuk kenapa ndak bilang-bilang mau ke sini?" tanya Elisa sambil mempersilakan kedua orangtuanya untuk duduk.              "Ibuk mau bikin kejutan buat kamu." kata Dewi, "kamu piye kabare, Ndhuk?"              "Alhamdulillah baik, Buk. Ibuk sama Bapak gimana kabarnya?"              "Alhamdulillah diparingi sehat karo gusti Allah. Makanya bisa ke sini."              "Oia, kenalin, Pak, Buk, ini teman-teman Ajeng." Elisa memperkenalkan ketiga temannya tepat saat Fabian ikut bergabung.              "Saya Made, teman kuliahnya Elisa." katanya laki-laki itu sambil mencium tangan kedua orangtua Elisa dengan hormat.              "Orang Bali, ya?" tanya Wijaya.              "Iya, Om. Orangtua saya di Bali. Saya merantau kuliah di sini." jelas laki-laki itu. Pandangan Wijaya dan Dewi beralih pada gadis di sebelah Made.              "Saya Wina, Om, Tante." kata Wina, melakukan hal yang sama dengan Made.              "Ayu tenan. Kamu ngekos juga di sini?"              "Nggak, Tante. Saya tinggal sama orangtua."              "Nah yang ini, Lala. Dia satu-satunya yang sudah nikah, Pak, Buk." Elisa memberitahu sementara Lala mencium tangan kedua orangtua itu.              "Wah, nikah muda, toh." Lala tersenyum sambil mengangguk.              "Yang penting pendidikan bisa tetap jalan ya. Pendidikan juga penting buat perempuan." Kata Dewi yang membuat Lala langsung mengangguk sambil tersenyum.              "Suamimu kerja atau masih kuliah?" Tanya Wijaya.              "Sudah kerja, Om."              "Bagus itu. Jadi kamu tinggal kuliah yang benar." Lala lagi-lagi tersenyum sambil mengangguk.              "Nah, kalau kamu, ngajar Ervan itu nyambi apa gimana?" pandangan Wijaya kini beralih pada Fabian.          "Nyambi, Om." Jawabnya. "saya masih kuliah juga. Semester akhir jurusan hukum. Lagi buat skripsi, sih. Cuma lagi berhenti dulu, makanya nyambi ngajar, itung-itung ngasah otak." Jawab Fabian yang langsung membuat yang lainnya melongo.              "Wah, bagus itu. Jarang lho ada anak muda yang punya pikiran seperti itu. Kamu di sini ngekos juga?"              "Iya. Orangtua saya di Bandung, Tante. Dua kakak perempuan saya di Jakarta, tapi saya tinggal sama kakak saya yang kedua karena kakak pertama saya sudah nikah." jawab Fabian panjang lebar.              "Kakak-kakakmu masih kuliah juga? Atau sudah kerja?"              "Sudah kerja, Tante. Kakak pertama saya kerja di kementrian pariwisata sementara kakak kedua saya dokter spesialis kandungan."              "Wah, hebat orangtua kamu. Bisa didik anak jadi orang sukses semua. Sebentar lagi kamu nyusul jadi pengacara, ya." kata Wijaya sambil terkekeh. Fabian hanya tersenyum sumir sementara Elisa dan yang lainnya melotot tak percaya.              "Buru selesaikan skripsimu. Biar ndak ada beban. Biar langsung bisa cari kerja." Dewi memberi    petuah. "Tante doain biar lancar skripsinya."              "Makasih, Tante." jawabnya diselingi senyum manis.    ***                Sepeninggal kedua orangtua Elisa ke kamar. Empat pasang mata itu menatap Fabian dengan tatapan menyelidik.              "Kamu tuh ndak sopan banget bohongin orangtua." Elisa yang pertama kali membuka suara sambil mendelik tajam.              "Dih siapa yang bohong. Orang itu kenyataan kok." jawab laki-laki itu.              "Lo beneran kuliah?" tanya Lala.              "Iya, emang tampang gue nggak ada tampang mahasiswa apa?"              "Ndak ada." jawab Elisa cepat.              "Apa yang lo bilang ke orangtua Elisa sama ke Haji Ardhana beda banget. Jelas aja kita bingung."               "Harga diri gue boleh dinjek-injek sama haji Ardhana, tapi nggak mungkin gue menjelek-jelekkan diri gue sendiri di depan orangtua Ajeng." kata laki-laki itu sambil tersenyum manis ke arah Elisa yang langsung mencebik kesal.              "Gue nggak ngerti lo itu manusia macam apa. Di satu sisi berandalan, tapi di sisi lain berpendidikan." Wina menggeleng- gelengkan kepalanya.              "Anggap aja gue berandalan yang berpendidikan."    ***                Mobil legam itu memasuki pelataran sebuah rumah. Fabian masuk ke dalam rumah dan menemukan Riri tengan menonton televisi di ruang tamu.              "Assalamualaikum, Teh." Sapa laki-laki itu.              "Jadi anak kok inget rumah kalau ada perlunya doang." kata Riri. Fabian terkekeh lalu menjatuhkan diri di sebelah kakaknya yang sedang menonton acara gosip di televisi.              "Fabian lagi naksir perempuan, Teh." Adu Fabian pada wanita di sebelahnya.              "Bagus, itu tandanya kamu normal." jawab Riri yang masih terfokus pada layar besar di depannya.              "Ish, Bian serius, Teh."              "Ya terus kenapa kalau kamu naksir sama perempuan? Palingan juga hubungannya nggak lama. Kamu kan gonta-ganti pacar kayak gonta-ganti sepatu."              "Nah, yang ini beda, Teh. Dia satu-satunya perempuan yang nolak Bian."              "Alhamdulillah masih ada perempuan waras di dunia ini."              "Allahuakbar, Teh. Gitu banget sama Bian."              "Lagian kamu tumben, hal kayak begitu di certain sama Teteh. Biasanya juga nenteng perempuan nggak pakai curhat-curhat gimana naksirnya."              "Yang ini beda soalnya. Tipenya mirip-mirip sama teh Rara. Kaku kayak kanebo kering. Dan semua-muanya serba teratur."              "Cukup, Bi. Cukup satu Rara aja ada di keluarga kita, jangan sampai ada dua."    ***                Fabian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin dan menemukan Wina dan kawan-kawannya tengah mengitari sebuah meja panjang di pojok ruangan. Tanpa pikir panjang ia mendekat.              "Katanya anak kuliahan. Tapi tiap hari kerjaannya main ke kampus orang mulu." Sindir Wina saat Fabian duduk diantara mereka tanpa di suruh.              "Ini juga gue mau ke kampus. Tapi mampir dulu ke sini." kata Fabian lalu menoleh dan melihat seorang gadis berkerudung merah yang duduk di sebelahnya.              "Assalamualikum Ukhti." Sapanya sambil tersenyum lalu menangkup kedua tangannya di depan d**a dengan sopan. Gadis itu, teman satu kelas Wina tersenyum malu.              "Ke kampus pakai celana pendek?" Lala menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyadari Fabian hanya memakai komeja kotak-kota lengan pendek dan celana kanvas warna khaki.              "Ndak tahu aturan." komentar Elisa dengan nada sinis.              "Fabian kan kayak bunglon. Paling dia bawa celana ganti. Inget pas dia jemput orangtua Elisa. Kita pikir dia bakal jemput dengan penampilan amburadulnya itu kan, ternyata apa, dia malah tahu-tahu pakai baju rapi banget. Udahk kayak mau jemput pejabat." kata Made panjang lebar. Wina dan Lala mengangguk setuju.              "Gue balik ke kelas duluan, ya." kata gadis berkerudung itu karena merasa berada di saat yang tidak tepat.              "Iya, kabarin kalau udah ada dosen, ya." kata Lala.              "Ukhti mau ke mana? Kita kan belum kenalan." kata Fabian.              "Genit, lo." kata Wina. Gadis itu berdiri lalu tersenyum pada Fabian sekilas.              "Dengerin gue nyanyi mau nggak?" kata-kata Fabian berhasil membuat gadis itu menatap teman-teman kelasnya dengan tatapan bingung. Wina dan Lala menepuk jidatnya, sedangkan Made dan Elisa kompak menggelengkan kepala.              "Ehm... ehm..." Fabian berdehem pelan. "Dia gadis berkerudung merah, hatiku tergoda, tergugah, tak cuma parasnya yang indah, dia baik, dia soleha..." dan bait demi bait meluncur dari mulut Fabian, lengkap dengan tangannya yang menjadikan meja kayu di depannya sebagai gendang. Wajah gadis itu memerah saat menyadari semua pasang mata di kantin itu menatap ke arahnya dengan pandangan heran. Ia menelan ludah dan merasakan kalau sebentar lagi, ia pasti akan menjadi bulan-bulanan teman-temannya yang lain.  To Be Continue LalunaKia  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN