Fabian menaiki tangga menuju sebuah pintu. Setelah sampai di depannya, ia menggedor-gedor pintu tanpa ampun. Ia melirik jamnya, masih jam lima pagi, ia tahu bahwa si penghuni rumah mungkin masih terlelap karena baru pulang, sama sepertinya.
"Reng... bangun." katanya setengah berteriak sambil terus menggedor.
"Reng... bangun... gue bakar kosan lo nih." katanya lagi. Tangannya masih terus menggedor hingga pintu yang diujung terbuka.
"Berisik banget sih. Lo tahu nggak ini jam berapa. Ganggu orang aja." Laki-laki berkaos oblong itu mengeluarkan kepalanya dari celah pintu dan menatap Fabian garang.
"Maaf bang, maaf." Fabian menangkup kedua tangannya seraya meminta maaf. Ia tahu, laki-laki itu berprofesi sebagai security di sebuah perkantoran. Badannya kekar, tinggi besar, kalau saja tubuh Fabian lebih besar dari laki-laki itu, ia tak segan mengomel balik meskipun ia yang salah.
"Reng... bangun..." kali ini ia berbisik di depan pintu. Mendekatkan mulutnya ke daun pintu setelah memastikan sang security telah masuk kembali ke rumahnya.
"Alah, b**o banget sih gue. Gue teriak-teriak aja dia nggak bangun apalagi gue bisik-bisik gini." katanya setelah menyadari kebodohannya. Setelah berpikir sejenak, ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Loreng berkali-kali. Sembilan panggilan pertama tak terjawab. Suara serak di seberangnya terdengar saat panggilan ke sepuluh.
"Bangun woy. Gue di depan pintu." kata Fabian. Tak sadar kembali berteriak dengan sangat keras.
"Sekali lagi teriak-teriak gue hajar lo, ya." Fabian terkejut melihat wajah garang itu kembali menyembul dari pintu di paling ujung. Ia meringis lalu menunduk.
"Ampun bang, maaf." katanya tepat saat pintu di depannya terbuka. Tak butuh waktu lama, ia langsung mendorong tubuh Loreng dan menerobos masuk ke dalam.
"Ngapain sih pagi-pagi udah nongol di sini?" Loreng mengucek-ucek matanya.
"Lo sama Anggi ngomong apa sama Ajeng?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Ajeng? Nyai pujaan hati lo itu?" tanyanya seraya meyakinkan.
"Iya." jawabnya sambil bersidekap dan duduk di depan sahabatnya yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Pasalnya, Wina sempat mengiriminya pesan. Bilang bahwa Elisa semakin membencinya karena dirinya ketahuan kumpul kebo dengan wanita lain.
"Nggak ngomong apa-apa. Temen lo nanya, lo tinggal sama siapa? Anggi jawab lo tinggal sama Miranda. Terus nyai lo ngedumel, kabur deh dari sana."
Fabian menepuk keningnya. "Lo nggak bilang kalau Miranda itu kucing gue?"
"Nggak... orang dia nggak nanya, main kabur gitu aja."
Fabian menghela napas panjang. Pantas saja, tak salah kalau Elisa menganggapnya kumpul kebo hanya karena nama kucingnya Miranda. Ia bahkan belum berhasil merubah imagenya yang sudah terlanjur jelek di mata Elisa, dan sekarang PRnya bertambah untuk menjelaskan siapa sebenarnya Miranda yang dimaksud Anggi.
***
Wina dan Elisa sedang duduk di meja makan saat suara ponsel Wina berdenting. Mata gadis itu melebar lalu menatap Elisa dengan tatapan tidak percaya.
"El, Miranda itu kucingnya Fabian." katanya sambil menunjukkan isi pesan yang baru saja dikirimkan laki-laki itu.
"Wong edan. Kamu percaya kalau Miranda itu beneran kucing?" kata Elisa. Wina tampak berpikir sejenak.
"Ya, percaya nggak percaya sih. Tapi, gue ragu juga, masa iya Fabian kumpul kebo. Gue yakin dia bukan laki-laki kayak gitu."
"Kamu tuh jangan terlalu percaya sama dia. Musyrik, percaya tuh sama Tuhan."
Wina menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang sulit merubah pola pikir sahabatnya yang satu ini. Gadis itu memang terkenal kukuh dalam masalah pendirian. Tak bisa di intervensi oleh pihak manapun.
"Terserahlah. Nanti kita jadi kan camping di belakang rumah?" Wina mengalihkan pembicaraan. Ia dan teman-temannya tak mau melewatkan kesempatan emas kepergian Widya. Kapan lagi bisa ngacak-ngacak rumah Widya yang seperti istana itu.
"Tinggal nunggu kabar dari Lala. Nanti kita belanja dulu ke supermarket." Jawab gadis berkepang itu. Wina mengangguk lalu menatap layar ponselnya lamat-lamat.
"Ibnu kok nggak kasih kabar ke gue ya. Udah siang gini padahal." keluh Wina. Ia harus mengakui bahwa ia mulai terbiasa dengan kehadiran Ibnu, termasuk dengan pesan-pesan singkat yang sering laki-laki itu kirimkan.
"Memangnya kerjaan dia itu cuma sms kamu doang apa?" kata Elisa dengan nada datar namun menohok.
"Ya Allah, El. Omongan lo kayak gado-gado karet dua, pedas banget."
Sejujurnya, Wina memang belum terlalu mengenal Ibnu dengan baik. Ia hanya tahu bahwa laki-laki itu sudah bekerja, meski laki-laki itu tak menjelaskan pekerjaan apa yang ia jalani. Ia juga tak ingin terlalu terburu-buru dalam hubungan ini. Biarlah semua berjalan perlahan-lahan.
***
"Mas, nanti malam kita nginep di rumah Elisa, yuk." ajak Lala saat melihat Ilham tengah mengambil kemeja di dalam lemari. Laki-laki itu menoleh, menunjukkan tubuhnya bagian atasnya yang telanjang.
"Ngapain?"
"Camping di taman belakang rumahnya Elisa, mumpung tante Widya nggak ada." jawab Lala.
"Nggak usah, lah. Besok kan senin, aku kerja. Ini aja aku maksain ke kantor, nggak tahu nanti pulang jam berapa." jelasnya.
"Tapi kan besok Lala libur kuliah, Mas."
"Ya terus aku disuruh tidur sendiri?" tanyanya sambil memakai kemejanya. Lala tampak termenung sejenak. Raut wajahnya tiba-tiba berubah.
"Padahal Lala pengin banget ikut. Soalnya, dulu-dulu Lala nggak pernah dikasih izin sama Haji Ardhana. Kata Wina acaranya seru, barbeque-an, nyalain api unggun, nyanyi-nyanyi. Udah kayak camping beneran pokoknya." Lirihnya.
Ilham menoleh saat tangannya mencapai kancing terakhir kemejanya. Dilihatnya wajah istrinya yang menunduk muram.
"Memangnya sama siapa aja?"
"Biasa, Wina, Elisa sama Made doang kok." jawabnya tanpa mengangkat wajahnya. Ilham mengehela napasnya. Di usapnya pucuk kepala istrinya lembut. Ia ingat apa janjinya sebelum meminang Lala. Ia tak akan pernah membatasi kegiatan wanita itu selama itu bukan kegiatan negatif. Ia tidak akan mengekang wanita itu selama wanita itu masih dalam koridor lurus. Memang ia yang terkadang harus mengimbangi jiwa muda istrinya.
"Yaudah, kamu ke rumah Elisa aja duluan. Minta jemput Made tapi, ya. Nanti pulang kantor aku nyusul ke sana." kata laki-laki itu. Ia melihat wanita di depannya mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar.
"Beneran, Mas?" tanya Lala seraya meyakinkan. Matanya berbinar saat melihat suaminya mengangguk sambil tersenyum.
"Makasih, ya, Mas." Kata Lala sambil memeluk erat suaminya.
"La... peluknya jangan erat-erat. Aku udah mandi."
***
Fabian : Ajeng
Fabian : Ajeng
Fabian : Di dinding... diam-diam merayap... datang seekor nyamuk... Hap... lalu di tangkap.
Elisa yang tengah berada di supermarket terdiam menatap pesan yang masuk ke ponselnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ia mulai bosan menerima pesan Fabian yang sama sekali tidak penting. Tidak berniat membalas, ia kembali memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
Fabian : Ajeng, Miranda itu nama kucing. Kalau aku di suruh milih antara kamu atau Miranda, aku pasti akan pilih kamu.
Pesan dari laki-laki itu kembali masuk saat Wina dan Elisa tengah menikmati cangkir- berisi kopi di salah satu gerai kopi terkenal di bilangan Jakarta Selatan.
"Lala udah konfirmasi bisa ikut. Nanti dia datang bareng Made." kata Wina sambil menyesap kopinya pelan.
"Senang banget pasti dia bisa lepas dari bapaknya. Sama masnya, semua serba gampang. Ndak kayak dulu." timpal Elisa, Wina mengangguk setuju.
Mata mereka berdua teralihkan saat mendengar ponsel Elisa di atas meja berdering. Keduanya melirik dan melihat nama Fabian di layarnya. Si pemilik ponsel memilih untuk membiarkan panggilan itu sementara Wina menatap gadis itu bingung.
"Angkat aja kenapa sih, El. Berisik tahu." kata Wina. Bukan hanya masalah berisik, tapi baginya nada dering ponsel sahabatnya yang satu itu sanggup membuat orang yang mendengar menoleh dua kali ke arah mereka. Bayangkan saja, siapa sih anak muda yang pakai lagu "Bengawan Solo" buat di jadiin ringtone jaman sekarang. Cuma Elisa. Cuma Elisa.
"Ndak mau. Biarin aja." jawab Elisa.
"Ya kalau nggak dijawab, silent kek. Nada dering lo tuh bikin kita kelihatan aneh tahu nggak."
"Kenapa? Ndak aneh, ah. Nada deringku bagus kok."
"Terserah." kata Wina tepat saat panggilan itu mati.
Ponsel milik Elisa yang masih tergeletak di atas meja berdenting. Kali ini, dengan satu gerakan cepat, Wina menyambar benda pipih itu. Selangkah lebih cepat dari pada Elisa.
"Kamu mau ngapain?" tanya Elisa.
"Dari Fabian, nih." kata Wina. Elisa yang tadinya berniat merebut ponselnya, kini mengurungkan niatnya. Membiarkan Wina membuka pesan dari laki-laki itu. Yang sudah-sudah, pesan yang dikirim Fabian bukan hal yang begitu penting.
Fabian : Ajeng, ada kabar gembira.
Sebelah alis Wina terangkat. Ia menscroll layar ke atas dan melihat puluhan pesan dari Fabian yang tak pernah Elisa balas.
"Ini pesan Fabian nggak pernah lo balas, El?" Wina melihat Elisa menggangguk sambil memasukkan sepotong kue ke mulutnya. "Parah, belagu banget lo."
"Belagu tuh apa toh?"
"Sombong."
"Lha, kamu pikir aja. Pesan yang dikirim itu bukan hal penting yang harus dibalas."
Wina menggeleng-gelengkan kepalanya. Jarinya tergerak untuk mengetikkan sesuatu dalam ponsel sahabatnya.
Elisa : Apa?
Fabian : Hari ini, kamu sudah melintas di pikiran aku sebanyak dua puluh kali. Kalau di total, aku udah menghabiskan sekitar satu jam buat mikirin kamu. .
"Belegug sia." kata Wina saat membaca pesan balasan laki-laki itu.
***
Made meneliti perlengkapannya sekali lagi. Setelah merasa lengkap dan tidak ada yang tertinggal. Ia memasukkan peralatan campingnya ke dalam bagasi mobilnya. Memang susah bergaul dengan perempuan. Alat-alat camping yang bisanya ia pakai untuk naik gunung atau sekadar ke bukit, malah lebih sering ia gunakan di taman belakang rumah Elisa.
Setelah memastikan semuanya lengkap, ia melajukan mobilnya menuju kediaman Aris, di mana Lala sudah menunggunya di sana.
"Lalanya ada, Om?" tanya Made pada Aris yang sedang berada di ruang tamu.
"Salam dulu." kata Aris sambil menatap Made tajam. Laki-laki itu meringis sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Selamat sore, Om. Assalamualaikum, Lalanya ada?" kata Made sambil duduk di depan Aris tanpa disuruh.
"Ada tuh di dapur." kata Aris sambil melirik ke arah dapur. "La... ada Made nih." teriak Aris. Tak lama sosok yang dipanggil muncul dari arah dapur.
"Yuk." kata Lala sambil menyambar tasnya yang tergeletak di sofa di samping Aris. "Pa, Lala berangkat dulu ya." Wanita itu mencium punggung tangan Aris.
"Iya. Hati-hati kamu bawa mobilnya. Jangan ngebut-ngebut. Jangan melanggar lalu lintas. Awas kalau sampai Lala kenapa-kenapa." Mata elang Aris menatap tajam Made yang meringis.
"Yailah, Om. Mas Ilham aja nggak sampai segitunya."
"Saya itu bapaknya."
"Tapi mas Ilham kan suaminya."
"Kamu ngajak berantem?" pria itu berkacak pinggang sementara Made terkekeh sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Peace, ah, Om. Makin tua makin emosian aja."
"Asem banget kamu jadi anak." kata Aris. Lala sudah menggandeng tangan Made menjauh sebelum semuanya jadi runyam. Ia mengucapkan salam saat melewati pintu.
***
Langit kemerahan menyemburat, membuat pemandangan sore itu kian indah. Made tengah sibuk mendirikan tenda sementara Elisa dan Wina sibuk di dapur. Lala sibuk mengunyah kentang goreng di bawah pohon sambil memandang langit sore yang menakjubkan.
"La...." laki-laki itu membanting peralatan campingnya sambil bertolak pinggang dan melotot tajam ke arah Lala yang menatapnya polos.
"Bantuin, kek. Biar berguna sedikit jadi orang." keluh Made.
"Dih... kok Made gitu sih."
"Ya lagian, lo nggak lihat gue kesulitan bikin tenda sendiri. Nggak peka banget lo jadi orang." Made menatap kesal sementara Lala terbahak. Gadis itu berdiri dari duduknya dan mendekati sahabatnya. Mengikuti instruksi Made hingga akhirnya dua buah tenda berdiri kokoh di taman belakang rumah Elisa.
Jam tujuh malam, semua perlengkapan sudah siap. Api unggun kecil sudah dinyalakan, Wina dan Elisa tengah sibuk memanggang daging, Made memainkan gitar di depan tenda sementara Lala ada di dalam tenda, tengah berbicara dengan Ilham melalui sambungan telepon.
"Jangan berisik apa, Mad. Gue lagi telepon masnya nih." teriak Lala dari dalam tenda. Elisa, Wina dan Made langsung menoleh ke asal suara.
"Suka-suka gue dong." kata Made tak mau kalah. Gadis itu menyibak penutup tenda dan menatap ke arah Made.
"Suara lo jeleek kalau buat nyanyi, Mad." ejek Lala.
"Mending, daripada lo, ngomong aja suara lo jeelek, apalagi nyanyi." balas Made telak.
Lala melirik sinis laki-laki itu. Setelah mematikan panggilan di ponselnya, ia melangkah mendekati Elisa dan Wina.
"Si Made kenapa judes banget sih? Kayak cewek lagi PMS aja." keluh Lala, tangannya mengambil capitan untuk membalik daging di panggangan.
"Mungkin dia lagi patah hati. Denger nggak, dari tadi dia nyanyi lagu galau mulu." Wina melirik Made di belakangnya.
"Makanya ndak usah pakai pacar-pacaran kalau ndak siap patah hati." tutur Elisa. Membuat kedua gadis di sebelahnya terdiam.
"Haji Ardhana versi cewek." kata Lala.
***
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam saat Fabian keluar dari rumahnya dengan sepotong kaos dan celana pendek warna army. Dengan motor besarnya, ia melaju menuju kediaman Elisa. Suasana jalanan yang tidak terlalu padat membuatnya bisa sampai kurang dari setengah jam.
Ia menghentikan motornya di sebuah minimarket dua puluh empat jam di komplek itu. Setelahnya, ia berjalan kaki menuju tujuannya. Sebatang rokok terselip di tangannya. Sesekali asap rokok itu terembus dari mulutnya. Tak butuh waktu lama untuk sampai di gerbang samping rumah milik Widya. Ia mengirup rokoknya dalam-dalam lalu mengembuskan asapnya ke udara. Setelahnya membuang rokok yang tersisa ke tanah dan menginjaknya.
Matanya menatap sekeliling, setelah menyadari bahwa keadaan sekitarnya aman, ia mulai menempatkan jari-jarinya pada sela-sela gerbang. Dalam hitungan ketiga, sebelah kakinya sudah menginjak satu sela gerbang, dengan kekuatan penuh, sebelah kakinya menyusul hingga akhirnya suara klakson terdengar. Ia terjatuh kembali ke tempat semula karena kaget.
"Fabian? Ngapain?" Fabian menoleh lalu melihat seringai Ilham dari jendela mobil yang terbuka.
"Elo mas, bikin kaget aja." kata Fabian seraya menghela napas lega. Ia tak membayangkan kalau dalam mobil itu bukan Ilham. Mungkin saat ini ia sudah digiring ke pos security karena dikira maling.
Ilham tertawa melihat tingkah Fabian. "Lagian lo ngapain manjat-majat di situ? Gerbang utama rusak emangnya?"
"Rumah ini udah nggak menerima tamu tanpa janji di atas jam delapan malam." jawab laki-laki itu.
"Ayo masuk." suruh Ilham sambil tertawa.
"Mau ke mana, Mas?"
"Masuk ke dalam. Tapi lewat gerbang utama." jawabnya. Laki-laki itu menurut, ia masuk ke dalam mobil, membiarkan mobil itu mendekati gerbang utama, menyapa security yang berjaga, masuk ke pelataran rumah besar itu hingga berhenti di depan garasi yang terbuka.
"Lo mau jemput Lala, Mas?" tanya Fabian.
"Lo nggak tahu kalau di sini ada acara?"
"Acara apa?"
"Camping ala cewek-cewek manja."
***
Ketiga pasang mata itu menatap satu laki-laki dengan pandangan bingung. Laki-laki itu tengah memetik gitar dengan raut wajah sendu. Lagu peri cintaku milik Marcell terlantun dari mulutnya.
"Gue bilang apa. Made pasti lagi galau." Wina berbisik pada Lala dan Elisa yang ada di kanan-kirinya.
"Tapi kok kita nggak tahu sih, Made lagi deket siapa." kata Lala sambil mengunyah popcorn dalam genggamannya.
"Jangan suudzon jadi orang. Mbok yo di tanya langsung sama orangnya." timpal Elisa.
Wina berdehem tepat saat Made menyelesaikan lirik terakhir. Lala dan Elisa bertepuk tangan sekilas lalu membiarkan suara Wina mendominasi.
"Lo lagi galau ya, Mad?" tanya gadis itu ragu. Sepasang mata di depannya menyipit.
"Kata siapa?"
"Kata Lala." jawab Wina. Lala yang ada di sebelahnya langsung menoleh dan menyenggol lengan Wina.
"Kok gue sih?" bisiknya.
"Ssssttt." Gadis itu menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Menyuruh Lala diam. Kini tatapan Made beralih pada Lala.
"Sok tahu lo, La." katanya dengan nada ketus.
"Tuh kan, gue lagi yang kena." Lala mengerucutkan bibirnya kesal.
"Bukannya gitu, Mad. Aneh aja tiba-tiba lo nyayiin lagu galau begitu."
"Waaah... jangan-jangan lo galau karena Raisa sama Hamish nikah ya?" Lala memberi pendapat. Mereka bertiga tahu bagaimana laki-laki itu ngefans setengah mati pada sosok penyanyi wanita itu.
"Mimpi mbok yo jangan ketinggian, toh." kata Elisa. Membuatnya semuanya terdiam lalu menatap gadis itu berbarengan.
***
Ketiganya tengah menikmati jagung bakar di depan api unggun saat sosok Ilham dan Fabian muncul. Lala melambaikan tangan pada suaminya dan cukup terkejut mendapati sosok Fabian berjalan di samping suaminya.
"Kenapa ada dia?" tanya Elisa dengan nada tak suka.
"Nggak apa-apa sih, El. Biar makin rame." kata Lala.
"Ketemu Fabian di mana, Mas?" tanya Wina saat kedua laki-laki itu duduk di sebelah Made.
"Di depan, lagi mau manjat pagar samping." jawab Ilham polos, membuat semuanya terkekeh ringan.
"Kok ada acara kayak gini, aku nggak di ajak sih, Ajeng?" tanya Fabian dengan nada menggoda.
"Ndak ada gunanya ngajak kamu juga." jawab gadis itu ketus.
Fabian menghela napas lalu mengambil gitar yang ada di sebelah Made.
"Ajeng, aku nyanyiin lagu buat kamu ya." kata laki-laki itu sambil mengedipkan sebelah matanya genit. Sementara yang lainnya berteriak riuh, Elisa justru menatapnya dengan tatapan mencibir.
"Lagu Jawa, Fa. Elisa kan orang Jawa." Bisik Made pada Fabian yang langsung mengangguk. Laki-laki itu tampak berpikir sejenak. Jari-jarinya mulai memetik senar gitar dan mulutnya terbuka,
"Lingsir... Wengi..." belum sempat ia melanjutkan liriknya, semua jagung bakar yang ada di tangan masing-masing terlempar ke arah Fabian hingga laki-laki itu mengaduh sakit.
To Be Continue
LalunKia