Suasana kantin sepi hanya ada para mbak-mbak penjaga kantin menunggu barang dagangannya yang berderet deret, berbagai jenis makanan masih tertata rapi dalam etalase kaca, setok makanan masih lengkap belum ada penjarahan dari para murid kelaparan setelah suntuknya belajar, kini mereka benar-benar bebas memilih makanan.
" Mbak, pesen gado-gado sama bakso satu-satu ya" Karina setengah berteriak agar mbak penjaga kantin denger, lanjut ia bergabung dengan para kawannya yang sudah memesan menu lain
" Jarang-jarang dapet tempat lega kayak gini, hi hi hi" Jihan terkikik geli bak Bu Kunti nangkring menjadikan lainnya merinding mendengar nya.
"Lu baru kerasukan ya? Tawa mu nyeremin tau"
" bilang aja terpesona" bela nya tak terima, Jihan dan Jesica hampir ribut kalau mbak-mbak kantin tidak datang dengan sajian untuk mereka.
"Eh- Abang mu Anggi kan? Kakak kelas pindahan itu"
"Iya, emang kenapa ji. Kaga dapet bapak ku mau nyerobot kakanda tiri ku kau"
Selesai berucap Celine mendapatkan pukulan gratis di jidat, ouch. Kepalanya akan membengkak rasanya.
"Tuh Abang lu bukan, kek nya mau kemari"
Dagu Jihan terangkat mengkode ke arah belakang Celine, sontak mereka menengok pada salah satu dari dua pria yang tengah berjalan ke arah mereka.
" Ngapain di sini"
Glup-.
Rasanya mereka menelan ludah sulit, cinderella palsu itu mungkin merasa seperti anak kecil kepergok ngompol di celana beda lagi tiga kepala di sana tengah mengagumi suguhan dari Tuhan. Anggi dengan perawakan manis bak oppa-oppa belum akhil balik, sedang di sebelahnya terdapat pria tinggi berbadan atletis berkulit Tan, siapa yang tak tau seorang Herri wirawan mengepalai tim sepak bola.
" Bolos lu ya"
" Ngak, lu juga ngapain di sini"
" Ini jam olahraga, makannya aku sama Herri mau ambil alatnya di gudang"
" Ya maaf, kita di usir dari kelas kak" Karina berujar malu-malu sudut matanya curi-curi kesempatan melihat Herri
Anggi mengangguk saja, ia memang bukan type suka ngomel
" Ya udah lain kali jangan di ulang, pasti kalian ngelangar perturan ya kan." Herri tersenyum cerah menampilkan senyum Pepsodent ala-ala promosi di tv tangan berurat itu mengelus kepala Karina lembut, " kamu lucu kek adek ku di rumah"
Lah, hampir aja mau baper.
Karina hanya tersenyum membalas Herri
" Ayok kita pergi Ngi, keburu dapet tegur nih" Herri menepuk pundak temannya agar cepat cabut sebelum adiknya dibuat depresi mendapat tatapan tajam dari kakak tiri.
" Pergi dulu ya, bye bye Cinderella KW"
Dengan begitu dua pria tadi melengos pergi meningalkan kesan berbeda beda dari wanita di sana, mungkin temannya akan berbunga-bunga mendapatkan tontonan gratis cowok tampan beda dengan Celine pemilik nama lengkap Celine Cinderella, namanya seperti bahan ledekan. Padahal ia sudah bersabar mendapat ledekan oleh kedua kakak tirinya ketika di rumah, bisa-bisa ia jadi Upik abu beneran.
****
'Buuukk'
Suara dentuman tas berat Cinderella terlempar ke sofa ia menjatuhkan diri dalam empuknya sofa mahal tak merasa bersalah pada ayahnya yang hampir kehilangan jantung di kaget kan secara mendadak oleh putrinya, tadinya ia mau memberi makan ikan mas dalam akuarium rumah mereka malah hampir saja ia menjadikan santapan ikan emas lucu-lucu jika terpleset masuk ke akuarium.
Dengan langkah cemas walaupun masih dongkol Narendra turun dari kursi berfungsi agar dirinya lebih tinggi untuk memberi makan anak kesayangannya alias hewan peliharaan
" Kenapa-kenapa, anak ayah kok pulang sendiri di mana kakak mu"
Pria dewasa itu ikut duduk sembari Kaki di lipat satu tangan nya bertumpu sandaran sofa menatap ke arahnya dalam seperti sosok ayah perhatian umumnya
Cinderella palsu itu menatap dari bawah Hingga atas, penampilan ayahnya seperti orang di palak cuman berbekal kolor muka pattric bintang laut dengan kaos buntung abu-abu, dapat darimana ayah slow modelannya kek gini.
"tadi pake taxi pulangnya, tau ah si Anggi mau gimana"
" Jangan gitu itu Abang kamu loh, ayah gak ngajarin kamu gak sopan ya"
" Yah, tau ngak tingkah anak mu yang dua itu kayak apa"
" Memang bagaimana? Angga anaknya humble kok baik sama kamu juga kan, Anggi juga anak nya gak neko-neko kan"
Aduh, dia harus bagaimana menyadarkan ayahnya, jangan-jangan ibu tirinya memang dukun lebih-lebih cinderella di cerita bapak nya mati, apakah ayahnya juga akan mati? Meninggalkan dirinya serta kakak tiri yang siap menyiksa si Upik abu, astaga. Pikiran gadis itu terlalu berfantasi ia bahkan tadi sekilas membayangkan para kakak tirinya ber gender lelaki tulen memakai dress pink dan kuning serta pita besar bak belalai gajah di kepala mereka tengah asik membully dirinya karena meminta pizza favoritnya, tidak-tidak konsep nya tidak begitu.
"Gini, aku jelasin yah. Sejak dua Minggu dari ayah nikah sama bunda mereka bully Celine yah. Malahan Anggi berani ngeledek aku di sekolah"
Pria itu sekita menunjukan mimik serius salah satu tangannya kini menggosok dagu nya seolah berfikir keras, " jadi kamu di apain aja sama mereka, ayah bakal hukum mereka" setelahnya pria 40an itu berdiri sembari ber-tolak pingang, menantang para pengangu putrinya
"Jadi dari kemaren-kemaren Celine di panggil Cinderella terus, mana ada pangilan kw nya pula, Celine malu yah. Tadi Anggi pangil aku cinderella di depan temen-temen sampai Celine di ketawain"
Niat hati pasang badan untuk sang anak kini pria itu duduk layu ke sofa menatap sang anak tak percaya, hanya itu?.
" Lah apa yang salah, kan nama mu memang Celine Cinderella " heran ayahnya tak paham sambil menggaruk rahangnya terasa gatal
"Ihhh, malu ayah. Nama ku aneh banget tauuu kenapa pake nama cinderella? Udah kepanjangan aneh pula mana di kira aku ini tokoh Upik abu dunia kartun apa"
Selesai unek-unek hidupnya di keluarkan nafas gadis itu memburu muka nya sedikit merah namun terasa ia telah lega mengeluarkan kekesalannya pada ayahnya.
Narendra menghela nafas tidak ingin adu argumen, memang sedikit konyol memberi nama tokoh Disney pada orang Asia apalagi Indonesia terkesan alay.
" Maafkan ayah, nanti ayah bakal marahin kakak mu"
Puk
Kedua tangan pria dewasa itu mengelus pundak anak nya membuat ritme tenang di dalam hati gadis remaja itu.
Tak berselang lama setelah acara hampir adu argumen, ayah anak itu kini asik nonton tv Celine juga sudah berganti pakaian dengan kaos kesukaannya.
'cklekk'
Pintu berderit serta tertutup kembali, kini menampakan sosok pemuda terlihat letih dari raut wajahnya seragamnya terlihat baru mengering dari keringat
" Baru pulang Ngi, kamu ganti baju dulu gih"
'auch', pria itu menahan cubitan kecil anaknya yakinlah walaupun Celine terlihat kurus cubitannya tak main sakitnya, "ayok bilang sama dia ayah" pintanya dengan lirih memberi kode untuk memarahi si Abang tiri.
Melihat Anggi, pemuda itu akan pergi Narendra buru-buru memangil kembali anak tirinya itu
" Ada apa yah?"
"Kamu mulai sekarang jangan pangil Putri ku dengan sebutan Cinderella KW"
Iya bagus ayah, marahin si muka berbi biar kapok
" Maaf, soal it-"
" Namannya Celine cinderella bukan KW, pangil cinderella aja kasian nanti di bulliy gara-gara ngak ORI"
Lah..
Khayalan indah melihat muka ketakutan Anggi sampe ngompol di sempak, hangus sia-sia apaan barusan? Ayah nya membela Anggi atau benerin perbuatan tidak senonoh Anggi padannya ?? What.
" Ya sudah pergi sana ke kamar, bunda mu tadi keluar paling pulang sore kalau kamu nyariin bunda"
Anggi mengangguk lalu pamit dengan sopan, meningalkan ayah tiri serta anaknya yang satu ferkuensi dengan kakak nya, sejenis abstrak nya.
" Ayahhhhhhhh"
Selanjutnya tentu sebagai orang tua apalagi pria, Narendra memilih kabur dari pada kena lemparan anaknya, biarkan lah si Cinderella ini kumat dulu.
Astaga dulu almarhum istri nya ngidam apa ya, sampai melahirkan anak secantik putrinya tapi tingkahnya bar-bar, kalau anak nya di kasih nama Tarzan lebih cocok? Mirip Joker sawanan kalau ngamuk.