Curhat

1146 Kata
"Yoo wassup my sister" Celine merotasi kan matanya, jengah. Satu lagi kadal gurun yang siap menganggu aktifitas sakralnya, iya Sakral. Kini gadis itu tengah menikmati sore nya dengan acara maskeran timun dengan kondisi sedang asik menjadi cicak mati di lantai karpet berbulu " Astaga, adik ku mau cosplay jadi sayuran ya dik" canda nya mengusili adik tiri nya. Jangan di jawab jangan marah tahan, kecantikan mu adalah jawaban mendapatkan hidup di permudah kalau jadi kaum glowing, tahan nya dalam hati mengingat kan kebutuhan primer yang cukup penting Wanita itu memasang ekspresi senyum tipis lalu melambaikan tangannya membuat gestur mengusir orang itu agar tak merecoki nya "Cinderella ngak mau apa nyambut Abang sendiri" goda Angga. Pria tinggi itu mendudukkan dirinya di lantai bersebelahan dengan Celine yang tengah mirip kura-kura terlentang atau laba-laba terjengkang, entahlah yang mana yang akan lebih mirip. "Ngipiin di sini" pengucapan wanita dengan wajah penuh irisan tipis timun menjadikan nya berhati-hati tak bebas berbicara jika ia mangap lebar-lebar dapat di pastikan longsor sudah hasil karya nya. "Ngipiin di sini, mimining ini bihisi ipi" Balas pria itu balik tak kalah abstrud nya, bahkan Celine tak paham ia bicara apa. "Cinderella.. la..Lala..la" Gabut atau lagi kemasukan jin dari kampus nih manusia " Jangan ngangu aku kak, rusak masker ku" kini ia tak begitu peduli jika beberapa lembar timun-timunnya akan berceceran yang terpenting abang nya paham bahasanya dan tak menganggu aktifitas wanita nya, cuman ini hobby nya sebagai wanita. Sisanya Alibi. " marah-marah Mulu cepet tua tau percumah maskeran toh bakal keriput" Sial " Ayahhhh- Abang Angga, mulai kampret...." Celine sontak terduduk berteriak kencang hingga Angga mau tak mau berlari dari TKP, sudah hancur mood nya kini. Nanti ia akan membereskan kekacauan insiden timun rontok ini setelah selsai mengejar pelaku penyulut emosi nya. . Suasana makan malam terlihat ramai tak seperti dulu hanya ada ayah dan seorang anak gadisnya seusai di tingal almarhum sang istri, kini mereka berlima dapat menikmati suasana ramai nya suasana keluarga di malam hari namun selain dentingan alat makan mereka terdiam sunyi Bunda, wanita yang irit bicara dan terkesan misterius membuat suasana di meja makan tak akan cocok jika ada keributan mungkin Anggi menuruni sifat pendiam dari ibunya namun kadang dia sama sekali tak bisa di pahami terkadang baik kadang sadis apa dia penganut bubur tak di aduk ketika makan? Lalu di samping Narendra ada sosok Angga kakak tertua diantara adik-adiknya, dilihat jika dia diam seperti itu ia nampak seperti orang cerdas dari perguruan tinggi terkenal namun akan hancur sekejap ketika ia mulai bertingkah, ajaib sekali keluarga nya tersebut. . " Astaga naga, ya tuhan... Apa salah ku ini kenapa nasip ku selalu tak beruntung tiba-tiba" gerutu nya di lampiaskan dengan cara mencekik boneka Pororo dimiliki oleh nya sejak SD itu. Malas sudah rasa nya baru juga dia menerima keluarga baru nya, eh. Malah mendapati kedua Abang nya usil, tepat nya Angga yang usil berbeda dengan Anggi yang tak tertebak. " Pusing...pusing.." gerutu nya terendam oleh bantal hingga suara nya terdengar samar. Celine membalikkan tubuh nya hingga terlentang, rambut nya nampak awut-awutan dibuat nya "Apa aku menelepon anak-anak saja ya" usul nya mulai meraih ponsel pintar berwarna hitam tersebut, jemari lincah nya menari-nari di atas layar tipis mencari nomor dengan nama tak asing. " Hallo, tumben kau menghubungi ku, ada apa? Ada yang kau butuh kan" sapa orang di sebrang, Celine melirik malas walaupun orang itu tak mungkin dapat melihat nya " Hey...hey.. aku marah sekarang" beritahu nya," aku terkesan teman yang numpang saat butuh saja" protes nya tak terima, tiba-tiba ia merasa menjadi pelaku goshting dan datang saat di butuhkan saja, mereka itu Seperi teman se-per-popok-an bagi nya. " Ha..ha..ha, kau pasti sedang merenggut kesal sekarang" tebak Karina dengan tepat dari sana, ya. Lawan bicara nya kini adalah gadis berkacamata itu dia tak mungkin memanggil dua teman nya yang lain, dua manusia itu gila.. menurut Celine walaupun dia sendiri tak waras. Setidak nya bagi nya Karin lah yang Ter- waras. " Menurut mu apa yang harus aku lakukan kalau punya dua pria di rumah ku" Pertanyaan Celine barusan pasti menghasilkan kerutan di dahi gadis pintar itu, cukup hening dan celin menunggu jawaban dari sebrang dia mengira Karina tengah mempersiapkan sebuah jawaban panjang untuk nya makan nya dia menunggu dengan sabar " Maaf... Baru balik, barusan selesai masak samyang, ini mau makan.." ujar sosok itu tak merasa berdosa ataupun bersalah. Celine melihat benda persegi itu dengan wajah penuh emosi, gigi nya terlihat ber-suara menahan marah, sedari tadi dia hanya menunggu orang masak yang di kira nya sedang menyusun kalimat " Sudah lah, terus kan makan mu" balas nya masih marah. " Hey.. thak boweh bgithu, maap klooh akhu salah" (Hey, tak boleh begitu, maaf deh kalau aku salah) Karina tengah menyuap mie nya sembari berbicara hingga suara nya terdengar tak jelas sama sekali untuk di dengar Celine. Walaupun masih dengan bahasa ala-ala orang berkumur Celine kurang lebih mengerti apa yanga anak itu bicarakan, berharap berbicara dengan Karina dia akan mendapatkan pencerahan tapi dia lupa circle nya sama sekali tak ada yang Waras, Celine menepuk jidatnya nya cukup keras "Jangan marah-marah, aku baru menelan sesuap tahu... Dan tadi pertanyaan mu itu, kau punya dua pacar yang mau kau ajak ke rumah?" Mendengar pertama kali Celine berkata tentang pria cukup membuat tanda tanya besar di kepala Karina, sejak kapan anak ini dekat dengan lelaki mana dua lagi, mungkin itu isi pikiran abstrak dari gadis pintar ini. Celine langsung beranjak duduk dari kasur, dengan mata terbuka lebar dan mulut ternganga cukup membuat dia menjadi bahan meme jika di foto. " Bukan itu... Kau tidak paham kah!" " Jhang mahu-mahu... Aajhu medkung mhu... Khou bicha memhuat cheritha harme lhoh" ( Jangan malu-malu.. aku mendukung mu.. kau bisa membuat cerita Harem loh) Karina kembali berbicara tak jelas karena ia kembali mengunyah masakan nya, Celine kembali menjauhkan ponsel nya menaruh nya ke bawah, dengan kesal ia berdiri di atas ranjang nya bersiap memukul ranjang nya, seolah dia tengah memukul makhluk bernama Karina yang di sebrang sana, bertindak seperti pegulat unggul walaupun dia hanyalah memukul udara. 'krieet...' Arah pandang Celine terarah pada daun pintu kamar nya, sosok Anggi kakak kedua nya menyembulkan kepalanya dari sana, semua nya nampak berhenti dari kegiatan masing-masing seolah waktu tak bergerak Anggi tersenyum canggung melihat tingkah adik tiri nya yang nampak tak 'beres' bagai mana tidak dia nampak berjingkrak-jingkrak tak jelas, kalau itu anak kecil 5th mungkin akan di maklumi, celine bahkan bukan anak SD lagi. " Ah.. anu.." bingung Celine mulai sadar dari ke-terkejutan diri nya " Aku mau meminjam charger ponsel mu kalau ada, charger ku rusak barusan Angga juga pelit di pinjami, tapi ku rasa tak perlu, silakan di lanjut kan" selesai berujar begitu Anggi menutup pintu nya kembali Celine sadar tingkat konyol barusan merangkak keluar kasur hingga sudah berada di karpet, " tolong... Jangan pergi dengan melihat ku begitu" perkataan nya sama sekali tak penting karena Anggi telah pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN