Maya merasa terpuruk, tak tentu arah. Sekarang, dia tak tahu harus kemana, ingin menginjakkan kaki di rumah itu lagi? Rasanya dia semakin tak punya harga diri. Sudah cukup, dia ternyata tak di anggap dan di harapkan sama sekali ketika fakta mengungkapkan tak ada janin dalam rahimnya. Seolah, statusnya yang awalnya ratu kini berubah lagi menjadi babu, tak pantas menjadi pendamping Arjuna. Bahkan mulut, lidah dan hatinya merasa tak layak menyebut tuan mudanya itu dengan sebutan 'Mas'. Maya merenungi nasibnya, duduk di taman ini sudah hampir setengah jam. Tangisnya belum bisa berhenti. Maya menundukkan kepalanya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis tersedu-sedu. Tapi, tangisnya terhenti saat seseorang memanggil namanya dia menoleh. "Mas Wira?" Ujarnya sambil mengusap a

