Yumna tidak kuasa menahan air matanya. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus saja berurai air mata. “Sayang, jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat kamu menangisi pria bajengan itu,” ucap Adrian, berusaha menghentikan tangisan Yumna untuk ke sekian kalinya. Yumna mengangguk. Ia ambil beberapa helai tisu yang memang selalu tersedia di mobil Adrian lalu ia seka air matanya. “Apa yang membuatmu menangis?” tanya Adrian, sebab ia belum mendapatkan jawaban dari Yumna. Ini adalah pertanyaan yang sama untuk ke tiga kalinya. Yumna menggeleng, “Sehina itu’kah diriku, Bang? Kenapa papa yang begitu aku sayangi, yang juga menyayangiku sedari kecil tega mengatakan hal itu padaku?” “Pria tua itu yang sudah gila. Pria yang tidak punya iman sama sekali. Lihat saja, diusianya yang sudah senja, ma

