Hari ini adalah hari pertama untuk Putri dan teman-temannya melaksanakan kerja praktek di Pabrik teh yang ditunjuk oleh kampusnya. Putri pun menyiapkan semua keperluannya sedari tadi. Mulai dari booknote, pulpen sebanyak tiga buah yang dia masukkan ke dalam saku jaket almamaternya, dan juga tidak lupa memasukkan tisu basah dan tisu kering ke dalam tas kecil yang akan dia bawa.
Setelah semuanya siap, Putri pun keluar dari kamarnya dan melihat semua temannya sudah berada di ruang makan. Di atas meja sudah tersaji menu sarapan hari ini. Ada satu mangkok besar nasi goreng, lalu ada pula roti tawar lengkap dengan berbagai macam selai. Ada pula beberapa jenis buah yang sungguh menggoda lambung yang kosong di pagi hari.
Semua itu tidak ada artinya untuk Putri. Karena dia tidak pernah merasa lapar jika yang di depan bukanlah daging segar. Tapi, karena saat ini dia sedang berbaur dengan manusia mau tidak mau dia harus makan setidaknya satu jenis makanan yang tersedia di atas meja makan pagi ini.
“Hei, Put. Akhirnya keluar juga lo dari kamar. Padahal kita semua sudah dari tadi duduk di sini. Nasi goreng yang dibuat sama Bik Minah wangi banget. Sampe-sampe saat siap-siap lambung gue sudah bersenandung merdu.” Ucap Robi saat melihat Putri mendekati meja makan.
“Hai. Iya, Tadi gue sibuk cari notebook sama pulpen. Jadinya tidak menghiraukan aroma harum nasi goreng itu walaupun gue merasakan lapar pagi ini.” Jawab Putri. Selama beberapa waktu ke depan dia harus melakukan omong kosong seperti ini.
Putri pun duduk di salah satu kursi yang masih kosong dan mengambil satu buah apel yang terlihat segar. Lalu dia memakan buah itu tanpa memperdulikan teman-temannya yang lain. Dia sibuk dengan ponselnya yang sedang memutar video tentang belajar bahasa pemrograman baru. Sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Bagas di sebelahnya.
Bagas melirik sedikit ke layar ponsel yang sedang Putri perhatikan. Lalu berdeham cukup keras sampai semua orang yang ada di meja makan ini mengalihkan perhatian mereka kepada Bagas kecuali Putri. Sebenarnya Putri mendengar semua yang teman-temannya bicarakan dan mengetahui apa saja yang mereka lakukan. Dan saat ini pun Putri tahu apa yang akan dikatakan oleh Bagas.
“Hari ini beberapa dari kalian akan dimintai tolong meembantu bagian administrasi. Dan beberapa akan dimintai tolong untuk mengembangkan sistem pengadaan yang di pabrik ini.” ucap Bagas.
Semua orang langsung terlihat antusias dan memperhatikan Bagas dengan seksama. Terpaksa Putri pun mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel ke Bagas. Dia menjedah video yang tadi dia tonton dan mulai mendengarkan apa yang disampaikan Bagas.
***
Waktu makan siang pun tiba. Semua pekerja di pabrik ini mulai menghentikan kegiatan mereka dan mencuci tangan lalu menuju kantin pabrik yang ada di bagian belakang bangunan pabrik. Semua karyawan di sini selalu diberikan makan siang untuk yang masuk shift pagi dan makan malam yang masuk shift siang.
Dan mahasiswa yang menjalani kerja praktek di pabrik ini pun ikut makan siang bersama karyawan yang lain. Robi sudah mendekati Putri sedari tadi, karena dia tahu Putri akan lari saat jam makan siang dan menghilang entah kemana. Hal semacam ini selalu terjadi di kampus.
Saat kuliah selesai dan semua teman sekelasnya pergi ke kantn, Putri selalu tidak ada. dia selalu hilang entah kemana. Di cari pun tidak akan pernah ketemu. Jadi, kali ini Robi mengikuti kemana pun Putri pergi.
“Ada apa? Kenapa lo ngikutin kemana gue pergi?” Tanya Putri akhirnya. Dia sudah tidak tahan dengan sikap Robi hari ini.
“Nggak ada apa-apa. Gue cuma lagi senang aja deket-deket sama lo. Memangnya nggak boleh?”
“NGGAK! Gue risih sama sikap lo!” jawab Putri ketus. Dan dia langsung berlari menjauh dari Robi.
Robi pun mengejar Putri dan mengikuti ke mana arah Putri pergi. Tapi, saat dia membuka pintu kantor yang mengarah ke bagian belakang pabrik, Putri sudah menghilang entah kemana.
“Buset, cepet banget tuh anak perginya.” gerutu Robi kesal.
Padahal hari ini dia tidak akan membiarkan Putri melewatkan jam makan siang yang sangat berharga untuk mahasiswa seperti mereka yang membutuhkan nutrisi untuk Otak mereka yang harus dipakai berpikir keras.
Robi pun berjalan lesu menuju kantin pabrik dan mencari temannya yang lain. Karena makan sendirian di tempat asing seperti ini pasti tidak menyenangkan. Robi pun langsung melihat ke kanan dan ke kiri mencari-cari teman satu timnya.
Sedangkan Putri, dia sekarang sedang duduk di sebuah pondok yang ada di pinggir kebun teh. Mungkin pagi hari akan sangat menyenangkan duduk di sini sambil melihat para pemetik teh sedang melakukan tugasnya. Tapi, hal seperti itu tidak bisa dia lakukan mengingat apa yang harus dia kerjakan di sini.
“Pemandangan di sini memang sangat menenangkan hati. Tapi, hal seperti ini tidak baik untuk lambung.” Ucap Bagas yang entah sejak kapan berdiri di samping Putri.
Putri pun langsung berdiri dan memberi salam kepada Bagas. Dia pun bingung dengan dirinya yang tidak menyadari kedatangan Bagas. Dan ini kali pertama baginya mengalami hal ini. Biasanya dia tidak pernah seperti ini. Dia selalu menyadari kehadiran seseorang saat radius mereka masih satu kilometer dan dapat mengetahui apa yang mereka pikirkan sebelum mereka mengatakannya.
“Pak Bagas. Maaf jika saya menyalahi aturan saat jam makan siang seperti ini. Saya akan kembali ke pabrik.”
“Santai saja, saya tidak masalah jika kamu ada di sini. Apa kamu tidak merasa lapar?”
“Ah… tidak, Pak. Saya makan cukup banyak saat sarapan tadi.” jawab Putri. Lagi-lagi dia mengatakan omong kosong seperti ini.
“Cukup banyak, ya? ehm… jika satu buah apel sudah sangat cukup untuk sarapan pagi dan juga makan siang, sepertinya kami bisa berhemat untuk biaya makanmu.” Sindir Bagas. dan hal itu sukses membuat Putri salah tingkah.
Putri pun langsung mentapak ke kanan dan ke kiri untuk mengalihkan pandangannya. Lalu dia pun langsung berpamitan kepada Bagas untuk pergi dari sini. Dia memilih untuk lari saat ini dari pada harus mengatakan omong kosong seperti tadi. Bagas pun tersenyum melihat tingkah Putri saat ini.
“Gadis yang cukup menarik. Dari semua mahasiswa yang datang ke sini hanya dia yang tidak pernah menatapku dengan tatapan memuja walau hanya sekali. sepertinya wajah ini tidak terlalu tampan baginya.” gumam Bagas Sambil memperhatikan Putri yang semakin jauh dari pandangannya. Putri pun hanya tertawa mendengar kata-kata Bagas tadi.