Hari sudah semakin petang, Putri pun langsung membereskan semua peralatannya yang masih berserakan. Saat dia hendak keluar dari ruangan server seseorang menahan tangannya. Putri memperhatikan orang ini dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
“Ada apa, Kak?” Tanya Putri berusaha tenang saat tahu apa yang akan orang ini katakan.
“Heh, lo cari perhatian sama Pka Bagas ya?! Gue peringatkan lo untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya, jangan deketin Pak Bagas, karena dia punya gue!” Ucap seorang karyawan perempuan yang tadi menjadi mentornya di ruang server ini.
Putri mengerutkan dahinya dalam. Dia bingung dengan apa yang dipikirkan manusia yang ada di hadapannya ini. Putri pun bertanya-tanya, memangnya Bagas itu barang yang bisa diperebutkan seperti ini.
“Punya gue?” Tanya Putri sambil mengulang kata-kata karyawan wanita itu. “Memangnya Pak Bagas barang ya, Kak?” Tanya Putri sok polos. Padahal di dalam hatinya dia ingin tertawa dengan sikap tidak masuk akal manusia yang ada di hadapannya ini.
“Ye… dikasih tahu Malah nyolot! Lo cari masalah sama gue, hah?” Bentak karyawan itu.
“Maaf, Kak. Saya tidak mau cari masalah sama siapa pun di sini. Saya berusaha untuk menyelesaikan tugas dari kampus ini tanpa ada masalah apapun.” Jawab Putri sambil mengluas senyum simpulnya.
“Wah… lo ngejek gue, hah?” Karyawan perempuan itu pun mendorong tubuh Putri kuat. Tubuh Putri sampai terdorong ke belakang dan menyenggol rak server yang ada di belakangnya.
Rak itu oleng dan jatuh menimpa Putri. Karyawan itu pun terkejut. Dia tidak menyangka apa yang dia lakukan bisa berakibat fatal seperti ini. Karena takut disalahkan dan mendapat masalah, karyawan ini pun langsung berlari keluar dari ruangan ini.
“Wah… kau bisa juga terkena masalah, Putri.” Ucap mahluk tak kasat mata yang sedari tadi memperhatikan interaksi Putri dan karyawan wanita itu.
“Diam kau! berisik!” Balas Putri ketus.
Dengan satu kali dorongan tangan Putri rak itu pun berhasil disingkirkan dari atas tubuhnya. Dan semua server yang terjatuh pun sudah kembali ke posisinya semula. Pelipis dan juga pipi Putri terluka dan mengeluarkan darah. Putri memegang luka itu karena terasa sedikit perih lalu mendecakkan lidahnya.
“Apa perlu aku bantu untuk memberi pelajaran wanita itu?” Tanya mahluk tak kasat mata itu.”
“Itu bukan urusanmu! Jadi kau tidak perlu ikut campur di sini! Sebelum aku murka pergilah dari sini. Kalau tidak kau akan musnah dari dunia ini!”
“Cih! Marahs ama orang kenapa aku yang jadi sasaran. Apa salahnya aku ada di sini. Aku sudah ada di sini sedari kau belum menjejakkan kakimu di sini, Putri!”
“Kalau kau tidak mau pergi, maka tutup mulutmu itu! Aku tidak perlu komentarmu saat ini!”
Mahluk tak kasat mata itu pun langsung menghilang dari hadapan Putri. Dia bersembunyi di balik tembok beton tempat ini. Dia tidak mau mengganggu penguasa rimba tanah ini. Perlahan luka yang ada di pelipis dan juga pipi Putri pun menutup dan darah yang mengalir pun mulai mengering. Setelah itu barulah Putri keluar dari ruangan ini.
Putri keluar dari dengan wajah yang sangat tidak enak di lihat, semua orang yang melihatnya pun tahu jika saat ini Putri sedang kesal atau sedang menahan amarahnya. Robi yang kebetulan melihat Putri melintas pun langsung melambaikan tangan dan memanggil Putri.
Tapi, bukannya menjawab Robi, Putri terus berjalan seolah tidak melihat Robi dan mendengar Robi. Saat ini Putri tidak mau berbicara dengan siapapun! Dia tidak mau orang yang tidak bersalah akan menjadi pelampiasan amarahnya. Putri membuka pintu yang menghubungkan kantor dengan pabrik ini dan saat Putri melangkahkan kakinya keluar dan menutup pintu itu dia sudah berada di puncak Gunung Dempo yang sangat sepi.
Wujudnya langsung berubah menjadi seekor harimau sumatera yang sangat besar. Lalu Putri pun berdiri tegak dan mengaum sangat keras. Semua hewan yang ada di puncak gunung ini terkejut. Mereka langsung mengintip dari sarang mereka masing-masing untuk melihat siapakah yang membuat mereka takut sore-sore begini.
Saat mereka tahu siapa pelakunya, semua hewan di puncak gunung ini langsung masuk kembali ke sarang mereka dan mengatakan kepada semua anak dan juga koloninya untuk tetap berada di sarang. Jangan berani-berani keluar dari sarang mereka. Karena saat ini sang putri rimba sedang marah.
Putri mengaum beberapa kali untuk meredakan emosinya yang saat ini sudah ada di ubun-ubunnya. Setelah merasa puas, Putri pun langsung berlari kencang menuju salah satu pohon besar yang ada di hutan ini. Dengan gerakan licahnya harimau sumatera yang berbobot leboh dari seratus kilogram itu pun memanjat pohon besar itu dan duduk di salah satu dahan besar yang dia anggap kokoh.
Matanya menatap kaki gunung yang ada di bawah sana. Tapi bukan jalanan yang dia lihat, melainkan gerak gerik karyawan yang tadi mencari masalah dengannya. Rasanya Putri ingin sekali menerkamnya dan mengoyak isi perutnya lalu memakan daging segar milik orang itu. Tapi, tentu saja dia tidak bisa melakukannya sekarang.
Jika dia melakukan itu, maka perjanjiannya dengan Dewa pun berakhir. Usahanya untuk menjadi manusia seutuhnya terbuang sia-sia. Cukup kemarin saja dia membunuh manusia. Dia tidak akan mengulangi kesalahannya beberapa abad yang lalu. Putri memjamkan matanya sore ini. Dia memilih berada di puncak gunung malam ini.
“Hei, Putri! Sudah lama sakali kau tidak menginjakkan kakimu di tanah ini.” Sapa suara yang sangat jelas di telinga Putri. Tapi Putri tahu yang mengelurakan suara itu sangat jauh saat ini. “Apakah kau ingin melampiaskan kekesalanmu kepada manusia itu? Silahkan saja, itu merupakan hal yang wajar. Tapi ingat Putri, jika samapai nyawanya terenggut, maka kau tidak akan pernah bisa menjadi manusia seutuhnya.” Ucap suara itu lagi panjang lebar.
“Ck! Aku tahu semua itu Dewa. Karena aku tahu semua konsekuensinya, makanya sekarang aku berada di sini! Jika tidak aku sudah ada di hadapannya saat ini.” Bala Putri kesal.
“Hahahahaha… baguslah kalau kau masih bisa menahan emosimu. Aku bukannya suka melihatmu teguh untuk menjadi manusia biasa, tapi aku tidak suka jika nyawa ciptaanku kau ambil dengan mudah. Aku Sudah menuliskan takdir hidupnya sampai sang kematian datang menjemputnya.”
“Iya… iya… aku paham. Aku mau istirahat, jadi aku mohon dengan hormat padamu, Dewa. Biarkan aku memejamkan mata ini dengan tenang. Bagaimana?”
“Baiklah… selamat beristirahat mahluk kesayanganku!”
Mendengar kata-kata terakhir dewa itu membuat Putri mendengus kesal. Putri pun memejamkan matanya kembali dan berusaha untuk tidur sore ini. Dia harus bangun saat matahari sudah benar-benar menghilang dan bulan pun muncul, karena tidak bisa berada di sini semalaman. Pasti akan ada yang mencarinya, terutama Robi.