Malam ini Putri menuruni gunung dengan berjalan kaki. Dia butuh melepaskan emosinya, jadi Putri tidka memilih untuk langsung berada di kamar yang dia tempati di tempat kediaman karyawan dan juga peserta magang di pabrik teh itu. Langkah kakinya pun sangat pelan, dia seakan sedang menikmati keindahan malam dari jalanan sepi ini.
Saat Putri tiba di kaki gunung, Putri langsung berjalan ke Arah kanan di mana perkebunan teh milih Bagaskara berada. Di tengah kegelapan malam ini mata Putri bersinar sangat indah. Tapi sayang, karena saat ini dia sedang kesal, tanah yang dia pijak berubah menjadi gersang. Rumput dan apapun yang tumbuh di tempat yang dia pijak tadi langsung mati.
Dewa Semidang dan Atung Bungsung yang melihat itu hanya bisa menghela napas mereka kesal. Karena perbuatan Putri itu membuat mereka akan bekerja ekstra subuh nanti. Saat Dewa Semidang ingin menegur Putri, Dewa Atung Bungsu langsung menghalanginya.
“Sudah, biarkan saja dulu seperti itu. Toh juga pekerjaan itu tidak akan memakan waktu lama. Biarkan dia melepaskan emosinya dengan cara seperti itu, dari pada nyawa orang dia hilangkan. Urusannya akan jauh lebih sulit. Kita Harus melapor kepada sang kematian, belum lagi kita harus mempertanggung jawabkan kepada Maha Dewa. Memikirkannya saja aku sudah pusing.” Ucap Dewa Atung Bungsu.
“Hah… kau benar.” Jawab Dewa Semidang sambil menghela napas panjang. “Kenapa kita harus bertangung jawab dengan nasib dan kehidupan rakyat Basemah ini.” Keluhnya lagi.
“Wah… kau ini benar-benar tidak bertanggung jawab rupanya, Semidang. Bukankah kita yang mengusulkan hal itu berabad-abad yang lalu? Dan aku masih ingat dengan jelas di luar kepala kau adalah orang yang paling semangat meberi gagasan ide itu. Kau yang bilang, ‘sunggu smat sayang jika Tanah yang subur itu tidak dikelolah dengan baik.’” Dewa Atung Bungsung pun menirukan cara bicara Dewa Semidang saat dia meminta Maha Dewa memberinya izin menciptakan manusia di tanah ini.
“Ck! Kau menyebalkan.”
“Dan itu sudah sejak lama aku seperti ini!” Jawab Dewa Atung Bungsu sambil tersenyum senang.
***
Putri pun tiba di depan pabrik teh yang menjadi tempatnya melakukan kerja praktek. Entah kenapa langkah kakinya bisa sampai di sini. Padahal dia ingin kembali ke penginapan. Sepertinya jalan yang dia ambil salah.
“Apakah kau tersesat lagi saat ini?” Tanya seseorang yang sedang berdiri di hadapan Putri. Bagaskara baru saja keluar dari pabrik dan sepertinya ingin kembali ke tempat tinggalnya.
“Sepertinya begitu.” Jawab Putri datar, Putri pun lalu berbalik arah dan berjalan menuju rumah yang ditempati oleh mahasiswa lainnya.
“Kalau kau mau kembali, kita berjalan sama-sama saja.” Ajak Bagas. Dia pun mencoba menyamakan langkahnya dengan Putri.
“Sebaiknya kita jalan masing-masing saja, Pak. Saya tidak mau dapat masalah yang lebih besar lagi karena terlihat dekat dengan Bapak.” Ucap Putri sinis sambil menghentikan langkahnya.
“Dapat masalah yang lebih besar lagi? Maksudnya bagaimana itu? Apakah ada yang mengganggumu di sini?” Tanya Bagas heran. Dia pun ikut menghentikan langkahnya dan menatap Putri lekat tepat di manik mata Putri.
Bagas tersentak saat menatap manik mata Putri. Dia merasakan sekujur tubuhnya meremang. Tatapan Putri sangat tajam, dia seperti sedang bertatapan dengan harimau saat ini. Warna mata itu pun berbeda dari kebanyakan mata yang dimiliki oleh manusia. Putri pun menyadari keterkejutan Bagas. Dia langsung menutup matanya sebentar dan membukanya lagi.
Tatapan mata Putri pun berubah dan warna matanya sudah kembali menjadi coklat kehitaman. Bagas masih memperhatikan mata itu, entah kenapa saat ini mata Putri sangat indah. Matanya yang besar dan juga bulat dihiasi bulu mata yang sangat lentik membuat cipataan itu begitu sempurna tanpa cela.
“Apa yang Anda lihat saat ini, Pak?” Tanya Putri ketus. Dia tidak suka dengan tatapan mata Bagas saat ini.
“Ah… maafkan aku jika aku berlaku tidak sopan.” Cepat-cepat Bagas menundukkan pandangannya dan menatap ke arah lain.
“Saya duluan, Pak.” Jawab Putri cepat. Dia langsung melangkah lebar-lebar dan berjalan cepat meninggalkan Bagas yang masih diam di tempatnya.
Bagas yang mencoba mengejar Putri untuk menjelaskan sikapnya tadi dibuat heran oleh Putri. Karena Putri sudah menghilang, tidak terlihat sama sekali. Padahal Bagas hanya diam beberapa detik saja.
“Cepat sekali dia berjalan. Tidak mungkin dia sudah sampai di rumah ‘kan?” Gumam Bagas heran.
Bagas langsung berjalan menyusul Putri yang sudah tidak terlihat lagi. Sesampainya dia di rumah, Bagas bertanya kepada penjaga rumah apakah dia melihat Putri, penjaga itu menggelengkan kepalanya. Karena sedari tadi dia tidak melihat siapapun yang lewat di depannya.
“Masa sih kamu tidak lihat ada mahasiswa yang lewat gerbang ini?” Tanya Bagas menyelidik. Dia tidak percaya dengan perkataan penjaga rumah ini.
“Betul, Pak. Dari tadi tidak ada yang lewat di depan saya.”
“Kamu tertidur sebentar ya?”
“Hah? Tidak, Pak. Saya dari tadi mengamati siapa saja yang lalu lalang di depan gerbang. Dan saya benar-benar tidak melihat kalau ada mahasiswa yang lewat.” Jawab penjaga itu mantap. Dia yakin betul tidak ada yang melewatinya sedari tadi kecuali Bagas yang saat ini tengah bertanya kepadanya.
“Sudahlah, kunci saja gerabang ini. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang akan keluar masuk. Lagi pula ini sudah malam.” Ucap Bagas akhirnya. Dia berjalan memasuki rumah, dan melihat ada beberapa mahasiswa yang sedang mengobrol di ruang tamu. Sepertinya mereka sedang membahas tugas mereka.
“Lo lihat, Putri nggak? Sedari pulang tadi dia belum kelihatan.” Tanya Robi kepada rekannya yang lain.
“Kagak lihat gue. ‘Kan yang biasanya sama cewek aneh itu elu. Kok nanya sama kita sih?”
“Sembarangan kalau ngomong! Cewek aneh kata lo? Elo yang aneh!” Jawab Robi kesal. Dia heran dengan orang-orang yang selalu mengatakan kalau Putri adalah cewek aneh. Padahal selama pengetahuan dia Putri adalah teman yang baik dan asik. Walaupun terkadang Putri sering ketus kepadanya.
Mendengar percakapan mereka, Bagas pun mengerutkan dahinya. Berarti benar apa yang dikatakan oleh penjaga rumah ini kalau Purei memang belum kembali. Ke mana orang itu pergi? Apakah dia masih ada di luar sana? Bagas pun berniat kembali ke gerbang depan untuk meminta penjaga rumah untuk tidak mengunci pintu dulu.
Tapi langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar Putri terbuka. Putri keluar dengan baju yang berbeda dari yang dia lihat tadi. Sepertinya Putri sudah mandi dan beganti baju. Di tangannya ada gelas berbahan keramik yang cukup besar. Mungkin dia ingin mengambil minum untuk dia bawa ke dalam kamar.
“Nah, itu si Putri.” Ucap teman satu kelompoknya.
“Lo kemana aja, Putri? Gue cariin dari tadi.” Tanya Robi. Dia berdiri dan menghampiri Putri.
“Nggak kemana-mana. Pulang dari pabrik gue langsung pulang! kenapa?” Tanya Putri yang bertingkah seperti orang bingung saat mendengar pertanyaa Robi.
Bagas yang melihat itu hanya bisa mendecakkan lidahnya saja. Dia tersenyum geli melihat tingkah Putri itu. Padahal jelas-jelas dia tadi berpapasan dengan Putri di pabrik. Dan Putri mengatakan tidak kemana-mana. Karena tidak mau terlibat dengan obrolan mahasiswa yang ada di depannya, Bagas pun berjalan menuju kamarnya. Dia masih dapat mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan ditanyakan kepada Putri di belakang sana. Robi pun terdengar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Putri.