Putri terbangun dari tidurnya. Dia bermimpi aneh, selama dia hidup di dunia ini dan menjalani dua kehidupan yang berulang baru kali ini dia bermimpi. Dan mimpinya ini sangat aneh. Dia seperti pernah bertemu dengan laki-laki yang ada di mimpinya ini. Tapi, dia lupa siapa laki-laki itu.
Putri pun keluar dari kamarnya dan mencari nenek Seruni. Biasanya di jam seperti ini nenek Seruni masih terjaga untuk mencari hewan buruannya. Sebagai manusia harimau, nenek Seruni lebih condong menjadi harimau dari pada menjadi manusia. Dia tidak pernah absen untuk berburu di malam hari seperti hewan nokturnal lainnya.
“Nek… Nenek… kau ada di mana?” Teriak Putri sambil mencari-cari keberadaan nenek Seruni.
Putri membuka pintu kamar yang ditempati nenek Seruni, tapi yang dia cari tidak ada di dalam sana. Lalu Putri pun berjalan ke halaman belakang tetap tidak menemukan nenek Seruni. Akhirnya dia pun menggunakan kelima panca inderanya untuk melacak keberadaan Nenek Seruni.
Putri berusaha melakukan telepati dan memanggil nenek Seruni tapi, tetap tidak ada jawaban. Putri pun menjadi gelisah, dia mengingat-ingat kembali tempat yang biasa nenek Seruni datangi. Dengan melakukan teleportasi, Putri pun mencari keberadaan nenek Seruni.
Seseorang yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri, seperti neneknya sendiri. Karena selama dia hidup dari zaman kerajaan sampai saat ini, hanya nenek Serunilah yang menemaninya. Nenek Senuri adalah pengikut yang setia dan tidak pernah membantah apapun yang Putri katakan.
Jika orang tidak tahu hubungan mereka yang sebenarnya mungkin mereka akan mengatakan jika Putri adalah cucu durhaka yang tidak pernah memikirkan perasaan neneknya. Padahal selama ini nenek Serunilah yang takut tidak bisa melayani majikannya dengan baik.
“Kau mencari dayangmu?” tanya sesosok yang tiba-tiba muncul di hadapan Putri.
Putri pun menganggukkan kepalanya. Dan sosok itu langsung memperlihatkan keberadaan nenek Seruni. Putri pun tersentak, dia melihat nenek Seruni sudah tergeletak di tanah, dengan tubuh berwujud harimau. Putri langsung melakukan teleportasi ke tempat nenek Seruni berada.
Putri bersimpuh di hadapan nenek Seruni dan memegang tubuh nenek Seruni yang sudah tidak bergerak itu. Putri berusaha mencari detak jantung nenek Seruni, tapi hasilnya nihil. Sepertinya saat ini adalah saat di mana Nenek Seruni mengakhiri janjinya dengan sang Dewa. Mungkin kematian sudah membawa jiwanya pergi jauh dari sini.
Putri pun membawa tubuh nenek Seruni ke rumahnya dan membaringkan tubuh yang berangsur kaku itu di atas altar besar yang terbuat dari batu. Putri memusatkan pikirannya dan langsung mengabarkan kepada semua klan manusia harimau yang berada di bawah kekuasaan kerajaan yang di dirikan oleh mendiang ayahnya.
Kabar duka itu membuat semua yang mendengarnya bersedih dan tak ayal meneteskan air mata kepedihan mereka. Nenek Seruni merupakan salah satu dari tetua di kalangan dayang kerajaan Manusia Harimau Sumatera. Hidupnya yang sudah lebih dari seratus abad pun berakhir begitu saja.
“Ya Dewa! Kenapa kau memanggilnya begitu cepat. Kenapa kau tidak memberikannya kesempatan lebih lama lagi? Kenapa Dewa?” Teriak Putri kencang. Teriakannya itu pun menggetarkan bumi yang dia pijak saat ini.
Dewa Atung Bungsu pun muncul di hadapan Putri. Dia adalah dewa yang bertanggung jawab mengenai hidup dan mati mahluk yang diciptakan untuk menempati dunia fana yang ada di tengah. Dunia fana ini terletak diantara dunia atas dan juga dunia bawah. Dewa Atung Bungsu pun merupakan atasan langsung sang kematian.
“Ada apa, Putri? Kau meragukan kinerja seorang Dewa? Cih yang benar saja, baru kali ini aku mendengarkan perkataan seperti itu!”
“Kau datang juga! Kau dewa yang mengatur hidup dan mati mahluk yang kalian ciptakan, bukan? Hidupkan kembali dayangku! Hidupkan kembali Nenek Seruni!” Teriak Putri lantang. Dia tidak memikirkan siapa yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
“Kau lupa atau berpura-pura lupa? Bukankah kau sudah mengetahui takdirnya? Dia bukan darah campuran murni sepertimu. Dia merupakan keturunan keempat dari manusia harimau. Masa hidupnya pun tidak sama sepertimu yang akan abadi selamanya. Dia memiliki masanya sendiri, dan sekarang sudah tiba. Bahkan Sang Kematian pun sedang membawanya menghadap kepada maha dewa untuk menjelaskan semua yang dia kerjakan selama hidup melayanimu!” Jelas Dewa Atung Bungsu.
Putri pun tergugu mendengar itu. Dia tidak bisa menahan isak tangisnya saat ini. Rintihannya pun membuat siapapun yang mendengarnya ikut pilu. Selama dia hidup ini kali keduanya menangsi tersedu seperti ini. Kali pertama adalah saat kedua orang Tuanya pergi untuk selamanya, dan yang ini adalah kepedihan kedua dalam hidupnya.
Pengikutnya, seorang dayang yang sudah dia anggap sebagai neneknya sendiri yang menggantikan peran orang tua untuknya selama dia hidup sudah pergi sekarang. Tidak ada lagi orang yang bisa dia ajak berbicara saat dia bosan. Dan tidak ada lagi seseorang yang bisa dia maki serta dia marahi saat dia sedang kesal.
“Kau benar-benar kejam! Kau ambil semua orang-orang yang ada di sekitarku! Kalian memang sangat ahli dalam menyiksa mahluk yang kalian ciptakan!” Teriak Putri kesal.
Dewa Atung Bungsu pun langsung pergi saat melihat Putri masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Dia memberikan waktu untuk Putri melepaskan kesedihannya. Helarcto yang mendapatkan kabar kematian Nenek Seruni pun langsung menghampiri Putri. Sepertinya masanya berdiam diri di gunung sudah berakhir.
Helarcto pun berjongkok mensejajarkan tubuh tingginya di samping Putri. Dia menepuk pundak sahabat sekaligus ‘tuan tanahnya’ dengan lembut. Direngkuhnya tubuh Putri yang masih bergetar itu ke dalam pelukannya. Helarcto berusaha mengurangi kepedihan yang saat ini dirasakan oleh Putri. Tidak ada kata yang dapat dia ucapkan dari mulutnya.
***
Putri berjalan lesu ditemani oleh Helarcto menyusuri koridor Fakultas Ilmu Komputer tempat Putri berkuliah saat ini. Mulai hari ini dia akan mendampingi Putri sepanjang waktu. Kemana pun Putri pergi dia akan selalu megikutinya sebagai pengawal yang setia. Dia akan menggantikan tugas Nenek Seruni. Waktu satu minggu sudah cukup untuk mereka melewati masa berkabung.
Helarcto mendaftar ke kampus ini sebagai mahasiswa pindahan dari luar negeri. Karena tidak mungkin dia menjadi mahasiswa pindahan yang berasal dari negara ini. Wajahnya tidak menunjukkan hal yang sama. Dia lebih terlihat seperti orang-orang yang berasal dari belahan dunia yang lain.
Putri mengetuk pintu ruang administrasi tempat yang harus dia datangi lebih dahulu. Dia harus mengurus semua administrasi Helarcto. Agar dia bisa berkuliah di sini bersamanya. Orang-orang yang ada di ruangan ini pun langsung terpanah dengan ketampanan Helarcto. Tidak hanya pegawai wanita, pegawai laki-laki pun ikut terpanah.
Baru kali ini ada pemandangan segar seperti ini. Kampus ini berada jauh dari keramaian kota dan memiliki suasana yang sedikit suram, karena dikelilingi hutan jati di setiap pelosok. Belum lagi adanya babi hutan yang sering lalu lalang di sekitar bangunan fakultas dan juga sapi ternak yang sering dilepas liarkan warga yang ingin memberi mereka makan.
Ya, kampus ini hampir mirip dengan taman safari yang ada di Afrika. Kalian bisa melihat berbagai macam hewan liar berkeliaran di sekitaran kampus. Tidak hanya kucing ataupun cicak, bahkan hewan yang lebih menyeramkan pun sering terlihat, seperti ular dan juga anjing hutan. Entah apa yang dipikirkan para pendiri kampus ini saat memilih lokasi dibangunya salah satu universitas ternama se-Asia Tenggara.
“Nah, semua berkas mahasiswa Helarcto sudah selesai. Mulai hari ini dia sudah bisa masuk di kelas yang sama dengan kamu, Putri.” Ucap kepala bidang administrasi.
“Baik, Bu. Terima kasih. Kalau begitu kami permisi.” Jawab Putri sambil tersenyum ramah.
Helarcto pun mengikuti Putri keluar dari ruangan administrasi. Dia melihat ke sekeliling fakultas ini, dan langsung mengatupkan rahangnya menahan kesal. Dia dapat melihat banyak sekali mahluk tak kasat mata yang bersikap usil dan mengganggu manusia di sini.
“Sudah, tidak perlu terlalu kau hiraukan mereka. Biarkan saja, selagi tidak keterlaluan.” Ucap Putri sambil terus berjalan.
“Kau selalu melihat pemandangan menjengkelkan seperti ini selama hidup bersama manusia?” Tanya Helarcto kesal.
“Jaga ucapanmu. Ingat saat ini kau adalah manusia. Jadi, belajarlah bersikap seperti manusia. Perhatikan cara mereka dan tiru. Tapi, hanya hal-hal yang baik saja yang perlu kau tiru!”
“Baiklah, Putri.”
“Dan satu lagi, perlakukan aku seperti saudara sepupumu! Jangan anggap aku ‘tuan tanahmu’.” Bisik Putri.
“Iya, aku mengerti. Kau sudah mengatakan itu ribuan kali sebelum aku menginjakkan kaki di tempat ini.”
“Baguslah.”
“Tapi, apa aku boleh bertanya?”
“Apa?”
“Siapa laki-laki yang sedari tadi memperhatikanmu dari seberang gedung itu? Apa perlu dia menggunakan teropong untuk melihat pergerakanmu? Dan perbincangan mereka bertiga membuatku ingin menerkam mereka.”
“Abaikan saja! Biarkan mereka melakukan sesuka hati mereka.”
“Aku tidak salah dengar? kau mengabaikan mereka? Bukankah mereka Harus dilenyapkan?”
“Ini bukan lagi zaman kerajaan yang bisa menghabisi nyawa seseorang seenaknya. Biarkan saja mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Toh hasil akhirnya tidak akan pernah sesuai harapan mereka.”
“Jika mereka sudah sangat keterlaluan biarkan aku memberi mereka pelajaran.”
“Apa kau tidak Ingat bagaimana mereka menembakmu saat di gunung?”
“Apa maksudmu? Apakah mereka kelompok orang yang waktu itu membuatku terjatuh ke tebing?” Tanya Helarcto tak percaya. Rasanya dia ingin sekali langsung menghampiri mereka dan mematahkan tangan mereka.
“Sudahlah, lupakan dan abaikan saja mereka. Kau Harus mengikuti perkataanku mulai sekarang! Jika kau tidak mau, sebaiknya kau Kembali ke gunung.”
“Dan membiarkanmu kesepian di sini? Tidak akan pernah aku lakukan!”
"Jika begitu ikuti semua yang aku perintahkan dan diam!"