Dia Yang Dari Jauh

1035 Kata
Kelas hari in menjadi sangat berisik. Semua mahasiswa perempuan langsung duduk disamping Putri dan juga Helarcto. Biasanya mereka tidak pernah mau duduk di barisan kursi paling belakang dan menjaga jarak dengan Putri. Tapi, tidak untuk hari ini. Seperti kutub magnet yang dapat menarik semua bahan logam disekitarnya, Helarcto pun menarik semua perhatian mahasiswa perempuan di kelas ini. Orang-orang itu berlomba-lomba mengajak Helarcto berbicara. Ada yang kebingungan menggunakan Bahasa Inggris, sampai kebingungan menggunakan bahasa tubuh mereka. Putri yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya karena jengah. Robi pun mendekati Putri dan mengajak Putri berbicara. Dia ingin menanyakan sesuatu kepada Putri. Tapi, belum sempat Robi membuka suaranya Helarcto sudah duduk di samping Putri sambil menatap Robi tajam. Helarcto mulai waspada dengan laki-laki yang ingin mendekati Putri. Melihat tatapan tajam Helarcto, Robi pun langsung menyingkir dari hadapan Putri. Dia tidak mau cari ribut sama anak baru ini.  Jika dilihat sekilas mata perawakan Helarcto sangat sempurna dan terlihat memiliki tenaga yang sangat besar. Dari pada nanti akan terjadi masalah, lebih baik Robi menjauh saja dan mencari aman. "Siapa dia? apakah kau dekat dengannya, Putri?" tanya Helarcto waspada. “Dia hanya teman satu kelas kita, namanya Robi. jadi kau tidak perlu berlebihan seperti itu. Berusahalah menjadi teman yang baik. Jangan hanya baik kepada perempuan saja.” bisik Putri sinis. Helarcto pun menampakkan gigi putihnya yang rapi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya dia harus belajar lebih banyak lagi. Hidup di hutan selama ratusan tahun membuatnya tidak pandai bergaul dengan sesama mahluk hidup. Dosen yang mengajar mata kuliah pertama pun masuk. dia membawa satu tupukan tinggi buku yang akan dia bagikan kepada mahasiswa di kelas ini. karena minggu kemarin dia berjanji akan membuatkan buku ajar yang bisa digunakan mahasiswanya berlatih di rumah. Satu persatu mahasiswa yang dipanggil pun maju untuk mengambil buku yang dibagikan oleh dosen itu dan memberikan uang sebesar dua puluh ribu. sedangkan PUtri memberikan uang lima puluh ribu. dia tidak tega memberikan uang dua puluh ribu itu untuk mengganti hasil jrih payah sang dosen yang entah berapa lama bergadang untuk menyusun buku itu dan mencetakya lalu merapikannya dengan dijilid seperti ini. “Kamu tidak ada uang pas saja, Putri?” “Tidak ada pak. biarkan saja saya beli bukunya seharga lima pulh ribu. Karena buku ini sangat berharga lebih dari lima puluh ribu.” “Kamu bisa saja. Terima kasih ya.” “Sama-sama, Pak.” Kuliah pun dimulai saat semua mahasiswa sdah mendapatkan buku mereka masing-masing. Dosen pemrograman Web itu pun mulai menjelaskan sedikit materi yang akan mereka ikuti selama satu semester ke depan. Dan mulai minggu depan mereka akan pindah ke laboratorium komputer untuk mengikuti kuliah selanjutnya. semua mahasiswa pun bersemangat menyambut pengumuman itu. Karena mulai minggu depanmereka bisa langsung mempraktekkan semua isi buku ini dan bisa membuat website sederhana milik mereka sendiri. *** Bryan dan dua temannya yang biasa selalu bersama menghampiri Fakultas ilmu komputer yang ada di seberang gedung fakultas teknik. Dia menyusuri koridor mencari-cari keberadaan Putri. seingatnya tadi dia melihat Putri memasuki ruang kelas A-1 yang ada di depannya ini. Tapi, saat dia mengintip ke dalam kelas, dia tidak menemukan Putri. Hanya ada beberapa mahasiswa perempuan yang masih bergosip. Matanya menangkap satu sosok orang yang dia kenal, orang itu Laras. Laras pun melambaikan tangannya dan tersenyum penuh arti ke arah Bryan. "Cari siapa, Bry?” tanya Laras manja. “Putri! lo lihat dia nggak?” "Tadi dia ada di belakang." jawab Laras sambil melihatke jajaran kursi yang ada di barisan paling belakang bersama Helarcto. tapi sekarang alah tidak terlihat sama sekali. Putri dan Helarcto masih memperhatikan Laras dan Bryan yang sedang mengobrol. Putri senaja menutup pandangan semua orang ke arahnya agar dia bisa menghindari Bryan. Dia sudah sangat bosan berbasa-basi dengan Bryan. Dari tempat duduknya dia bsia mendengar dengan jelas apa yang sedang Laras dan Bryan bicarakan. Helarcto tidak bisa percaya dengan apa yang dia ketahui dari pikiran kedua orang yang ada di depan kelas itu. Otak mereka dipenuhi hal-hal yang menjijikan baginya. Dia saja yang merupakan manusia setengah hewan tidak pernah memikirkan hal sekotor itu. “Wah… mereka berdua itu benar-benar menakjubkan. Apa yang sudah mereka lewati bersama sehingga bisa berpikiran seperti itu.” Ucap Helartco sambil menatap tajam ke Arah Bryan dan juga Laras. “Kau tidak perlu ikut ambil pusingd engan apa yang mereka pikirkan. Dan jangan sembarangan membaca pikiran orang! Itu tidak sopan. Aku saja jarang melakukannya.” Jawab Putri sambil memukul kepala Helarcto kuat. “Aw!! sakit, Putri. Kan kau bisa mengatakan itu tanpa harus Memukul kepalaku. Jika aku gegar otak karena guncangan yang disebabkan oleh pukulanmu bagaimana?” “Cih! Gegar otak dari mana? Kepala mu itu sangat keras asal kau tahu! Sudah ayo kita pergi dari kelas ini. Aku Sudah sangat lelah. Kau yang menyetir!” “Aku belum terlalu lancar. Dari pada nanti mobil barumu aku tabrakkan ke benda keras yang ada di depanku, lebih baik kau yang menyetir saja!” “Cih! Menyebalkan sekali.” Putri dan Helarcto pun keluar dari dalam kelas ini dengan hati-hati. Mereka tidak mau bertabrakan dengan orang lain. Walaupun saat ini mereka semua tidak dapat melihat Putri dan Helarcto, tapi mereka bisa merasakan saat mereka bertabrakan dengan keduanya. mereka Berdua berjalan menuju tempat yang sepi dan tidak ada orang lalu mulai menampakkan diri, baru berjalan menuju parkiran mobil. Tapi, sepertinya kesialan mengikuti kemana mereka pergi. Bryan tiba-tiba muncul di hadapan merkea dari balik mobil Putri dan tersenyum ramah ke arah Putri.  “Hai, Put. Dicariin dari tadi ternyata ada di sini. Lo Udah mau pulang ya?” “Hei, ada apa lo nyariin gue? Seinget gue, gue nggak ada hutang sama lo. Tapi, kenapa lo selalu cariin gue kemana-mana ya?” “Hahahaha… lo lucu juga ya, Put. Anyway, mau nggak ikut gue jalan sama anak-anak yang lain? Kita mau nonton nih, ada film terbaru dari marpel.” “Ehm… sorry ya. Gue ngga bisa nih, Bryan. Gue harus nganterin sepupu gue cari perlengkapan kuliah dan beberapa baju. Karena dia baru dateng dari luar negeri.” “Oh, gitu. Jadi, dia sepupu lo ya? Gue pikir dia pacar lo. Kalau gitu bareng kita aja sekalian.” “Sorry, gue nggak suka kalau pergi sama orang asing.” Sela Helarcto sinis. Dia menatap Bryan dengan tatapan tidak sukanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN