Musim Kawin

1211 Kata
Entah bagaimana ceritanya akhinya Putri dan Helarcto pun berakhir di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota Palembang. Mereka berdua pun berjalan bersama Bryan dan dua temannya. Sepanjang langkah yang diambil Putri ataupun Helarcto penuh dengan u*****n yang kalau di dengar oleh Bryan bisa membuatnya naik pitam. Sepertinya nasib belum mau menyerah menyengsarakan mereka berdua, dari tempatnya berdiri saat ini Putri dan Helarcto bisa melihat Laras dan dua temannya yang lain melambaikan tangan ke arah Bryan. “Selamat, Putri! Kau akan benar-benar tersiksa saat ini.” Ucap Helarcto sarkas. Putri hanya bisa menghembuskan napas kesalnya dan memutar bola matanya jengah. Putri langsung mengatakan kepada Bryan jika dia ingin ke toilet terlebih dahulu. Helarcto pun mengikutinya dan mereka berjalan cepat sebelum Laras benar-benar bergabung dengan rombongan membosankan ini. “Wah… manusia memang selalu gigih untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku benar-benar takjub dengan mereka.” Ucap Helarcto sambil sesekali melihat ke belakang. “Apa yang kau perlukan saat ini? baju? sepatu? Atau underware?” Tanya Putri tak acuh. “Semuanya. Aku butuh itu untuk menjadi manusia. Tapi, aku mau mengatakan sesuatu keapdamu, Putri.” “Nanti saja mengatakan apa yang ingin kau katakan. Sekarang kita berbelanja semua keperluanmu terlebih dahulu.” Putri pun langsung berjalan menuju salah satu departemen store yang menyediakan semua barang yang dibutuhkan oleh Helarcto. Dia membantu memilihkan model baju, jeans, celana bahans, dan sepatu untuk Helarcto. Sedangkan bagian underware dia membairkan Helarcto memilihnya sendiri. Satu tas belanja yang berukuran besar itu sudah penuh sesak oleh barang-barang yang dipilih oleh Helarcto. Putri berdiri di dekat kasir dan menunggu Helarcto memberikan semua barang yang dia beli. Setelah kasir selesai menghitung belanjaan Helarcto, Putri langsung memberikan kartu debitnya untuk membayar semua belanjaan itu. “Enak ya jadi pacarnya Kak Putri. Semua keperluan di beliin.” Ucap kasir itu berbasa-basi. “Dia bukan pacar saya, Kak. dia ini sepupu saya yang sangat kere. Jadi Kakak jangan tertipu dengan wajah tampan nan rupawannya! Di dompetnya benar-benar tidak ada uang sama sekali. Bahkan uang koin seratus rupiah pun tidak ada.” Jawab Putri sambil mengejek Helarcto. Mendengar kata-kata Putri kasir itu hanya tertawa geli. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Putri. Dia yakin Putri hanya bercanda dan sengaja melakukan itu untuk membuat sepupunya malu. Padahal apa yang dia katakan adalah kenyataan yang sebenarnya. Setelah selesai Putri dan Helarcto pun langsung menuju parkiran mobil yang ada di seberang lobi. Mereka berniat untuk langsung pulang tanpa memberitahu Bryan ataupun Laras. Mereka benar-benar tidak berniat untuk ikut dengan acara konyol manusia-manusia itu. Helarcto merebut kunci mobil yang dipegang Putri dan langsung membuka pintu di bagian pengemudi. Melihat itu Putri langsung geram dan memukul kepala Helarcto. Ternyata tadi saat di kampus dia hanya beralasan saja. Dia sengaja melakukan itu karena tidak mau menyetir jauh-jauh untuk ke sini. “Aw! Kau ini benar-benar kejam, Putri! Jika semua pengikumu tahu kau adalah Ratu yang sangat kasar, mereka pasti akan mengubah pandangannya terhadapmu.” Gerutu Helarcto sambil mengusap kepalanya yang masih terasa sakit. “Dan semua pengikutku tidak akan berpikiran seperti itu jika kau yang mengatakan kepada mereka. Karena mereka semua tahu bagaimana tingkahmu, Tuan Helarcto.” Balas Putri ketus. Sementara itu di tempat lain Bryan, Laras dan empat orang teman mereka menunggu kedatangan Putri dan Helarcto. Mereka sampai menunda membeli tiket untuk menonton film di bioskop. “Bry, lo yakin dua orang itu bakal balik lagi ke sini? Jangan-jangan mereka udah pulang lagi.” Tanya Laras yang sudah terlihat gusar. “Coba lo telepon! Kan dia temen sekelas lo.” “Gue nggak ada nomornya.” Jawab Laras cuek. “What? Lo nggak ada nomornya? Wah… parah lo, teman macam apa itu. Ada grup chat kelas nggak? Coba cari di sana. Masa iya dia juga nggak gabung sama grup chat kelas. Kan biasanya bagi-bagi informasi seputar kuliah di sana.” Laras pun mengikuti perktaan Bryan. Dia membuka aplikasi chatting dan mencari grup kelas mereka. Satu-persatu kontak anggota grup dia lihat dan sialnya tidak menemukan nama Putri di sana. “Dia nggak gabung sama grup.” Ucap Laras malas. “Masa iya sih. Jadi, dari mana dia tahu semua informasi seputaran kuliah?” “Mana gue tahu. Ya udah deh, kita nonton aja tanpa mereka. Nanti yang ada nggak kebagian tiket lagi.” Laras pun berdiri dan menuju counter tiket diikuti dua orang temannya yang lain. Mereka berdua sangat kecewa karena Helarcto tidak jadi ikut menonton. Padahal mereka mau ikut bersama Laras karena ingin tebar pesona dengan anak baru yang hari ini meramaikan kelas mereka. Bryan pun menyerah dan menyusul Laras. Dia meminta Laras untuk membeli enam tiket yang berdekatan. Mereka pun akhirnya menonton film tanpa Putri dan juga Helarcto. Padahal hari ini Bryan akan melancarkan serangannya kepada Putri. Tapi, rencana tinggallah rencana saja. *** Helarcto menyusun semua barang-barang yang tadi dibelikan oleh Putri ke dalam lemari baju. Dia adalah tipe manusia beruang yang sangat menjunjung tinggi kerapian dan kebersihan. Setelah selesai dia langsung keluar dari kamarnya. Dia teringat hal penting yang harus dia katakan kepada Putri. Helarcto mengetuk pintu kamar Putri beberapa kali sampai pintu itu terbuka dengan lebar. Putri yang terlihat lebih segar dari sebelumnya menatap Helarcto bingung. Tidak biasanya dia melihat Helarcto seperti ini. “Ada apa?” Tanya Putri dingin. “Aku mau mengatakn hal penting yang tadi sempat ditunda.” “Ah… tunggu sebentar, aku harus mengeringkan rambutku terlebih dahulu. Karena kalau tidak baunya sangat mengganggu.” Putri pun menutup kembali pintu kamarnya dan langsung mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. Sekitar tiga puluh menit Helarcto menunggu sampai pintu kamar itu terbuka dan Putri keluar dengan wajah yang sangat memukau. andai saja dia tidak ingat siapa Putri, sudah pasti Helarcto langsung menerkam Putri saat ini juga. “Ada apa?” Tanya Putri to the point, dia langsung duduk di hadapan Helarcto dan menatapnya serius. “Aku harus pergi untuk waktu yang cukup lama. Dua bulan mungkin.” “Dua bulan? Untuk apa? Kau lupa kalau kau baru saja masuk kuliah dan lagi aku baru saja membelikanmu banyak baju dan keperluan lainnya.” Celoteh Putri panjang lebar. Saat ini wajahnya sudah merah padam menahan amarah. “Dengarkan dulu baru marah. Saat ini aku memasuki musim kawin. Dan kau tahu dengan jelas apa yang akan aku lakukan jika memasuki masa ini. Tidak mungkin aku mengurung betina di rumah ini selama dua bulan.” “Ck! Kenapa kau tidak bilang sebelum aku mengurus semuanya. Jika kau menghilang selama dua bulan bagaimana aku menjelaskan dengan dosen di kampus. Kau ini merepotkan saja.” “Bukankah kau bisa menggunakan salah satu mahluk tak kasat mata yang ada di kelas itu agar menyerupai diriku dan hadir di setiap kelas yang ada.” Jawab Helarcto hati-hati. “Cih! Kau tahu bukan aku paling tidak suka memanfaatkan mereka! Aku meminimalisir kontak dengan mereka.” “Ayolah Putri… saat ini saja aku mohon kepadamu, Ratuku yang cantik nan bijaksana.” Bujuk Helarcto. Dia pun mulai melontarkan kata-kata manis yang dapat mengubah keputusan Putri dan melembutkan hatinya yang berpura-pura keras. “Baiklah… aku akan pikirkan caranya! Bisa-bisanya di saat seperti ini kau benar-benar merepotkanku!” “Hehehe… aku minta tolong sekali ini saja untuk tahun ini.” Putri pun mendengus kasar sambil menatap sengit ke arah Helarcto. Bisa-bisanya dia menghabiskan uang yang dia tabung selama ini untuk kebutuhan manusia beruang yang ada di hadapannya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN