Bertemu Para Dewa Part 1

1357 Kata
Setelah berpikir bermalam-malam, akhirnya Putri pun memutuskan untuk menemui tiga dewa penderiti jagat Basemah seperti saran Kiti. Putri berusaha menggunakan semua inderanya untuk mencari tahu di mana keberadaan mereka. Tapi sepertinya radar inderanya telah berkurang karena terlalu lama tidak dia gunakan. Jadi dia pun mencoba mengirimkan pesan melalui telepati. Ingat Putri adalah sang Nenek Gunung dan dia merupakan manusia harimau! Bukan manusia jaman now yang bisa menggunakan sambungan internet 4G bahkan 5G. Jangan julid saudara-saudara! Putri pun berusaha memusatkan pikirannya. Beruntungnya usahanya itu tidak sia-sia. Salah satu diantara tiga dewa itu merespon pesannya. Bak layar proyektor yang tengah dihidupkan dan tersambung dengan layanan video confrens wajah Dewa Semidang pun muncul di hadapan Putri. “Hai gadis cantik yang ada nun jauh di sana. Ada apa gerangan kamu mengirimiku pesan untuk berbicara? Sepertinya ini sudah begitu lama. Entah berapa purnama kau tak menghiraukanku!” Sapa Dewa Semidang. "Tidak usah berbasa-basi! Apakah kau sudah tidak suka lagi tidur di penghujung Senja seperti ini?” Ejek Putri sambil tersenyum sinis. Dewa Semidang adalah dewa yang dikenal sebagai Dewa yang suka tidur di penghujung senja sampai matahari terbit. “Kamu masih ingat kebiasaanku ternyata gadis cantik. Jadi ada keperluan apa sampai kau memanggilku?” Tanya Dewa Semidang sekali lagi. “Aku ingin bertanya satu hal padamu. Apakah kau tahu bagaimana caranya menjadi manusia seutuhnya?” “Hffftttt!” Dewa Semidang menahan gelak tawanya. Dia harus menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulutnya agar tawanya tak sampai lepas keluar. Karena jika itu terjadi sudah bisa dipastikan gadis cantik di depannya ini akan marah. Karena merasa dipermainkan. “Ada apa gerangan sampai kamu ingin menjadi manusia? Bukankah semua manusia berharap bisa sepertimu? Hidup abadi tanpa pusing bagaimana caranya berhadapan dengan sang kematian.” Tanyanya bingung bercampur geli. “Jika ingin tertawa, tertawalah sepuasnya. Aku tidak keberatan. Karena kau bukanlah orang pertama yang melakukan itu.” “Begitu rupanya. Baiklah, tunggu sejenak.” Dewa Semidang pun mengeluarkan tawanya. Suaranya itu sangat besar sampai-sampai seisi gunung ini keluar dari peraduannya. Mereka bingung dengan apa yang mereka dengar. Karena gunung ini sudah lama tidak sebising ini. Dewa Semidang pun menghentikan tawanya saat dia melihat seisi gunung keluar dan dia langsung meminta maaf atas kegaduhan yang baru saja dia ciptakan. Setelah tahu siapa yang mengganggu kedamaian gunung di penghujung senja seperti ini, mereka pun kembali ke tempatnya masing-masing sambil mengumpat dan menggerutu kesal. “Sejujurnya aku tak tahu bagaimana caranya. Tapi mungkin kamu bisa mencoba mandi di air terjun yang ada di sebelah barat gunung ini. Mungkin air bersih nan jernih itu bisa meluruhkan semua kekuatan magis yang kamu miliki, Gadis cantik.” “Berhenti memanggilku gadis cantik seolah-olah aku ini masih anak kecil.” “Jadi aku harus memanggilmu apa? Kau sudah memiliki nama sekarang?” “Tentu saja aku sudah memiliki nama! Kau lupa jika aku ini anak dari raja rimba penguasa gunung ini. Bagaimana bisa aku dilahirkan tanpa nama.” “Tapi ‘kan selama ini semua isi gunung ini memanggilmu Nenek. Apakah aku harus memanggilmu Nenek juga? Yang benar saja! Aku sudah ada sebelum kau megikat janji dengan Maha Dewa sebelum terlahir ke dunia fana itu!” Dewa Semidang tak sudi jika harus memanggil anak raja rimba itu Nenek. “Kau bisa memanggilku Putri Mangkubumi!” “Baiklah, Putri Mangkubumi. Seperti yang tadi aku katakan. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa menjadi manusia seutuhnya. Tapi sepertinya itu akan sulit.” “Cih! Percuma saja aku menghabiskan energiku untuk berkomunikasi denganmu jika jawabannya seperti ini.” “Hei… hei… kamu ini memang benar-benar bocah tak tahu sopan santun ya. Masa iya berkomunikasi dengan kerabat lamamu membuat energimu terbuang percuma? Tentu saja tidak! Justru kamu akan mendapatkan kebaikan dari hal ini.” “Oya? Apa contohnya?” Tanya Putri malas. Bibirnya mencibir mengejek Dewa Semidang. “Ini!” Dewa Semidang melemparkan sesuatu yang langsung masuk ke dalam tubuh Putri sang Nenek Gunung. Benda itu merupakan batu gunung yang telah dia simpan lama. Batu itu akan membuat Putri dapat berubah menjadi manusia lebih lama dari biasanya. “Apa itu tadi? Jangan bilang kau memberiku kekuatan lain?” “Begitulah.” Jawab Dewa Semidang acuh tak acuh. Dia mengangkat kedua bahunya malas Sambil membersihkan kuku-kuku panjangnya yang tak pernah kotor. “YA!!!! Kau ini benar-benar menyebalkan! Aku ini mau menjadi manusia bukannya mau bertambah kuat! Haissshhh!!! Sungguh menyebalkan!” Putri pun mengumpat kasar. Dia kesal bukan main. Karena tujuannya menghubungi dewa satu ini bukan meminta kekuatan tambahan.   “Hahahahaha… santuy atuh, Neng.”   “Santuy? Apa pula itu?”   “Ya Dewa!!! Kamu tidak tahu istilah itu? Kemana saja? Jangan bilang jika kamu menjadi petapa? ck! Sungguh seperti itu? Putri Mangkubumi, itu istilah yang sering digunakan anak jaman sekarang. Aku saja yang hidup dan menetap di negeri atas tahu. Cobalah untuk turun gunung. Berbaur dengan manusia lainnya. Mungkin dengan seperti itu kamu bisa menjadi manusia seutuhnya.”   “Itu akan membuatku kerepotan saja!”   “Hei Putri Mangkubumi! Bukankah jika ingin menjadi suatu kaum, kamu harus mempelajari kaum itu. Jadi, di saat kamu sudah berubah menjadi kaum itu kamu akan terbiasa dengan hal-hal yang mereka lakukan? Duh, kok ya anak raja rimba satu ini polos sekali! Ah, sepertinya bukan polos, tapi bodoh!” Ejek Dewa Semidang.   “Hihihihihihi…” terdengar suara tawa Kiti di ujung sana saat mendengar ejekan Dewa Semidang yang ditujukan kepada Putri Sang Nenek Gunung. Sedari tadi dia hanya mendengarkan saja tanpa berniat berkomentar. “Anda benar Dewa. Nenek Gunung ini tidak tahu apa-apa tentang dunia manusia! Tapi dia berlagak ingin menjadi manusia.” lanjutnya.   Mendengar itu Putri pun langsung merapatkan giginya dan menatap tajam ke arah Kiti yang tengah duduk bersantai di atas pohon besar itu. Saat Putri memejamkan matanya, kobaran api pun mengelilingi si Kiti.   “Aduuuuh! Ampun, Put… aku hanya bercanda! Tolong hilangkan benda panas membara ini! Aku bisa lenyap dari dunia ini!” Si Kiti mulai terbang ke sana kemari menghindari si api. Tapi usahanya tak membuahkan hasil   Tanpa memperdulikan si Kiti, Putri kembali bercakap-cakap dengan Dewa Semidang. Tapi pemandangan Kiti yang kepanasan itu membuat Dewa Semidang tak tega, akhirnya dia pun meniupkan angin dari mulutnya dan api yang mengelilingi Kiti pun hilang.   “Terima kasih Dewa. Anda masih berbaik hati dengan mahluk negeri bawah seperti saya.” ucap tulus si Kiti.   “Ya, sama-sama. Makanya, kasta rendah sepertimu jangan memancing emosi sang penguasa tempatmu tinggal. Ingatlah pesanku ini, dimana bumi di pijak, di situ langit di junjung! Kau paham?” “Paham Dewa. Sekali lagi terima kasih. Silahkan lanjutkan perbincangan kalian. Aku sebaiknya pergi berjalan-jalan.”   “Ya, pergilah.”    “Hei! Jangan lupa peraturan yang aku buat! Jika kau melanggar lagi seperti beberapa waktu lalu, aku pastikan kau akan lenyap selamanya!” Nenek Gunung pun memperingatkan Kiti.   “Iya! Aku ingat , Put!”   “Awas saja kau mengingkari kata-katamu! Dan berhenti memanggilku PUT!”   “Sudah-sudah! Kamu jangan bersikap kasar seperti itu. Mau bagaimana pun mahluk negeri bawah seperti dialah yang menemani kesendirianmu di gunung ini.” Lerai Dewa Semidang.   "Jadi kau tak tahu bagaimana caranya aku bisa menjadi manusia?" tanya Putri. Dia ingin  memastikan untuk yang terakhir kalinya.   "Iya, aku hanya tahu itu saja. Cobalah dulu semua saranku tadi. Siapa tahu berhasil." bujuk Dewa Semidang.   "Aku coba! Tapi jika tidak berhasil awas saja!"   "Hei! kau mengancamku? Apa aku tidak salah dengar? Ya Dewa... anak kemarin sore ini berani-beraninya mengancamku! Ingat Putri Mangkubumi, aku jauh lebih kuat darimu." ucap Dewa Semidang sambil menyeringai seram.   "Dan aku yakin aku bisa menandingi kekuatanmu!" jawab Putri jumawa.   "Heh! bisa-bisanya kamu berkata seperti itu. Apakah kamu lupa, ayahmu wafat hanya karena peluru perak dari penjajah tanah itu! Dan ibumu hanya manusia biasa yang meninggal setelah usianya di dunia telah usai!" Dewa Semidang berusaha mengingatkan Putri yang saat ini tengah berlagak di depannya.   "Dan kau tidak tahu, jika aku sudah tidak bisa dibunuh dengan peluru perak ataupun benda apapun dari perak!"   "Ya, sudahlah. Dari pada kita berdebat terus seperti ini, lebih baik kita akhiri saja percakapan kita. Semoga berhasil!"   "Tunggu! dimana rekanmu yang lain? kenapa mereka tidak menjawab panggilanku?" tanya Putri penasaran.   Tapi belum sempat dia mendapatkan jawaban, Dewa Semidang sudah menghilang dari pandangannya. Hal itu berhasil membuat Putri sangat amat  kesal!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN