Kembali!

1650 Kata
Putri Mangkubumi merasakan tubuhnya seperti di tarik ke dalam sebuah lubang semut yang sangat kecil. Rasa sakit itu menjalar samapi ke setiap sendi tulang yang melekat pada tubuhnya. Belum lagi rasa pening yang dia rasakan seakan dapat membuat kepalanya meledak dan isi otaknya berhamburan di tanah. Apa yang dikatakan Dewa Semidang tidak dia kira akan sesakit ini. Putri Mangkubumi masih begitu percaya diri saat mengiyakan tawaran sang Dewa. Tapi, jika dia tahu rasa sakitnya akan seperti ini, mungkin dia akan berpikir ulang untuk menyetujui saran Dewa itu. Setelah merasakan tubuhnya hancur berantakan dan isi otaknya berhamburan, Putri Mangkubumi pun di merasakan jiwanya bersatu dengan raga yang perlahan kembali utuh. Menunggu kepingan raga yang disatukan kembali itu rasanya sangat lama sekali. Dan rasa sakit yang menderanya pun perlahan hilang tak berbekas. Putri Mangkubumi pun membuka matanya. Dia melihat ke kanan dan ke kirinya. Saat ini dia sedang berada di kerajaan milik ayahnya. Dia melihat ada dua raga yang Sudah terbujur kaku di atas meja kremasi. Satu raga berwujud manusia yang merupakan ibunya Masayu Agustin dan satu lagi bermujud harimau Sumatera Besar yang tidak lain adalah ayahnya Rimba Mangkubumi. Putri Mangkubumi pun terduduk lemas dihadapan kedua jenazah berbeda wujud itu. Ternyata Dewa Semidang mengembalikannya di masa dia harus melakukan upacara kremasi untuk kedua orang tuanya. Tanpa dia sadarai air matanya pun mulai jatuh ke tanah. tubuhnya bergetar dan dia merasakan emosi yang begitu besar. Ya, saat ini Putri merasakan kembali kesedihannya yang sangat mendalam. Kesedihannya kehilangan kedua orang tuanya. Dan rasa dendamnya kepada penjajah tanah ini. Karena mereka yang membuat ayahnya meregang nyawa akibat terkena peluru perak yang mereka gunakan. Mereka hanya ingin merebut lahan kebun kopi dan juga rempah-rempah milik warga sekitar yang selalu dijaga oleh klan keluarganya. Sialnya ayahnya Rimba Mangkubumi tidak pernah mengira jika hari ini adalah hari di mana kehidupannya akan berakhir tragis seperti ini. Sesepuh adat pun maju mendekati Putri, dia menepuk lembut bahu Putri yang Sudah terguncang hebat itu. Lalu membisikkan kata-kata yang membuat hatinya sedikit tenang. Perlahan Putri pun bangkit berdiri dan memberanikan diri menatap kedua jenazah itu. Di dekatinya jenazah sang ibu, yang sudah terlihat tua. Kulitnya sudah keriput dan rambutnya pun Sudah memutih. Tapi, paras ayunya tak lekang dimakan waktu. Dia tetaplah Wanita cantik di tanah ini. Masayu Agustin, seorang bangsawan dari kerajaan Sriwijaya selalu tampak ayu dan menawan walaupun diusia senjanya. Putri mengelus rambut berwarna perak yang tak lagi berkilau seperti biasanya dengan sangat pelan. Dia ingin merasai setiap waktu yang saat ini sedang berjalan. Dia ingin mengingat momen ini sebelum benar-benar hilang dimakan waktu. Setelah puas dengan jenazah ibunya, Putri pun menghampiri jenazah sang ayah yang sudah berubah menjadi harimau Sumatera. Putri menggenggam tangan besar harimau itu dan menciumnya dalam. Dia ingin mencium aroma tubuh ayahnya untuk terakhir kali. Aroma Sang Raja Rimba. Saat air matanya ingin jatuh, dengan cepat Putri menengadah menatap langit yang saat ini tak secerah bisanya. Dia ingat, saat upacara kremasi jenazah kedua orang tuanya, hujan rintik pun mengiringi. Seakan langit pun ikut bersedih atas wafatnya sang ayah. Dalam hati Putri berteriak dan bertanya kepada Dewa Semidang, kenapa dia dikirim ke jaman dan waktu ini? Kenapa dia ingin sekali menyiksa batinnya seperti ini? “Ratu, saat ini sudah waktunya dimulai.” Ucap Sesepuh adat.  Dia memberikan obor yang sudah menyala. Api itu pun berusaha menjilat-jilat udara yang ada di sekitarnya. Perlahan Putri mendekati obor itu ke bawah tumpukan kayu yang ada di bawah meja altar kremasi ibunya. Lalu dia beralih ke meja altar kremasi ayahnya. Tak lama kobaran api pun mulai terlihat. Perlahan Putri melangkah mundur dan membiarkan api itu melahap habis tubuh kedua orang tuanya. Saat ini Putri pun berjanji akan membalaskan kematian ayahnya dengan cara yang benar. Dia tidak akan tinggal diam seperti dulu. Saat ini dia akan menghabisi semua penjajah tanah ini. Dia harus membebaskan warga yang selama ini dilindungi oleh ayahnya dari tekanan penjajah. Saat ini dia tidak takut seperti dulu. Dia sudah jauh berbeda, ditambah dengan kekuatannya yang meningkat pesar. Tapi, sebelum dia menghadapi penjajah, Putri harus memastikan semua hal terlebih dahulu dengan Sang Dewa. Jangan sampai dia salah langkah dan menyebabkan kesempatannya berkurang satu. *** Putri Mangkubumi sudah berganti pakaian. Dia sudah mengenakan pakaian seorang ratu. Karena hari ini dia sudah resmi dinobatkan sebagai pengganti ayahnya. Sekarang dia sudah menjadi pemimpin kerajaan manusia harimau Gunung Dempo. Semua warga desa dan juga manusia harimau berdarah campuran turunan sudah berkumpul di aula kerajaannya. putri berjalan perlahan menuju singgah sananya. Dia harus memimpin rakyat ini. Dan dia harus membalas kematian ayahnya. Satu per satu orang-orang yang berkumpul di aula ini ditatap lekat oleh Putri. Dia ingin mengingat semua orang yang ada di ruangan ini dengan banar. Dan dia akan menuliskan nama mereka semua dalam buku sejarah yang akan di tulis oleh sang pemenang. “Pagi ini, aku Putri Mangkubumi siap menjalankan tugasku sebagai seorang Ratu kerajaan Manusia Harimau Sumatera Gunung Dempo.” Ucap Putri lantang dan tegas. Suara gemuruh pun mulai terdengar. kalimat ucapan selamat pun terdengar di mana-mana. Di setiap sudut aula ini semua orang bertepuk tangan dan bersorak-sorai menyambut penobatan ini. “Berjayalah Ratu kami… Berjayalah Ratu kami…” Suara itu pun terdengar di mana-mana. Putri tersenyum menatap mereka. Ada rasa haru dan juga bahagia saat ini. Dia tidak menyangka jika dia akan diterima dengan segembira ini. Putri lupa momen ini dia lewatkan seperti apa dulu. Dia hanya ingat betapa terpuruknya dia saat ditinggalkan kedua orang tuanya. Setelah menghadiri upacara penobatannya sebagai ratu, Putri pun kembali ke kediamannya. Istana utama ini terasa begitu besar dan sangat dingin serta sepi. seingatnya istana utama terasa sangat hangat. biasanya dia mendengar gelak tawa ayahnya ketika mendengar ocah tidak jelas yang dia ucapkan. Sekarang suasan itu tidak lagi sama. Putri langsung masuk ke kamar pribadinya. melepaskan semua atribut baju kebesaran seorang ratu dibantu oleh beberapa dayang kerajaan yang dulu melayani ibunya. “Ratu, apakah setelah ini Anda ingin berendam air mawar?” Tanya kepala dayang istana utama. “Tidak aku ingin tidur saja. kalian boleh keluar dari sini.” “Baik, Ratu.” Mereka pun bergegas memabtu Putri mengganti bajunya dan menyisir rambut panjang yang Sudah tergerai. Setelah tugas mereka selesai, mereka langsung berjalan mundur dan keluar dari kamar Putri Mangkubumi. “Dewas Semidang! Di mana kau sekarang?” tanya Putri melalui telepatinya. Namun sayang Dewa Semidang tidak langsung menjawab panggilannya. mungkin saat ini dia sedang sibuk mengurusi urusan dunia atas. setelah tuga kali tidak ada jawaban, Putri pun kesal dan berniat untuk tidur. Sudah beberapa posisi dia coba untuk membuatnya terlelap. Tapi, otaknya menolak untuk berhenti berpikir. Akhirnya, Putri memutuskan untuk pergi ke ruang baca yang masih ada di dalam kamar miliknya. Putri pun membaca semua informasi mengenai penjajah tanah ini. Dia harus tahu dengan pasti apa saja kelemahan mereka dan apa tujuan mereka datang ke tanah yang tadinya damai ini. ada satu buku yang berisikan tulisan tangan ayahnya. sepertinya ini merupakan jurnal yang ayahnya tulis. Di buku ini tertulis semua informasi yang Putri butuhkan. Tidak ada satu pun informasi yang disembunyikan oleh ayahnya. seolah ayahnya tahu dia akan membaca buku ini. satu persatu lembaran buku itu Putri baca dengan teliti. dia pun membuat catatan kecil untuknya agar dia dapat mengingat ulang informasi yang dia butuhkan. Tidak terasa hari semakin gelap, dan sinar bulan pun mulai malu-malu masuk ke dalam kamarnya dari balik jendela kayu besar yang ada di depannya. Putri pun langsung menyudahi kegiatannya hari in. Dia harus beristirahat sekarang. Saat Putri ingin merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Suara kepala dayang istana utama terdengar. Dia mengabarkan jika makan malam sudah siap dan akan diantarkan ke dalam kamar. Mendengar itu Putri langsung menghembuskan napas lelahnya. “Bawa saja masuk!” Jawab Putri, Kepala dayang istana utama pun membuka pintu kamar ini dan langsung mempersilahkan dayang-dayang yang membawa makan untuk masuk ke kamar sang ratu. Ada lima orang yang masuk ke dalam kamarnya dan mereka semua membawa makana yang berbeda. Makanan itu pun disajikan satu persatu. Ada dua makanan utama dan dua makanan penutup serta satu makanan pendamping. Putri langsung mengerutkan dahinya. Dia sudah terbiasa dengan menu makanan sederhana. Jadi saat kembali ke masa ini dia sedikit canggung dan juga sedikit merasa mubazir. “Apakah kalian selalu memasak menu sebanyak ini setiap hari?” Tanya Putri kepada kepala dayang istana utama. “Betul, Ratu. Apakah ada yang salah dari menu ini?” Tanya Kepala dayang itu takut. “Tidak ada yang salah. Hanya saja aku merasa ini terlalu berlebihan. Mulai besok siapkan saja satu hidangan utama dan satu hidangan penutup. Tidak perlu membuat makanan pendamping. Dan anggaran makanku kau potong saja jadi setengahnya.” Ucap Putri lagi. Semua orang yang mendengar itu langsung saling pandang. Mereka bingung dengan perintah aneh yang baru saja Putri katakan. Padahal selama ini dia tidak pernah meributkan menu makanannya. Kepala dayang istana utama pun memerintahkan semua orang untuk keluar. Dan mereka langsung menuruti perintah kepala dayang itu. “Ada apa, Ratu? Apakah ada menu makanan yang tidak Anda sukai?” “Tidak, tidak ada sama sekali. Hanya saja aku merasa terlalu menghambur-hamburkan uang yang aku peroleh dari upeti rakyat. Jadi, aku memutuskan untuk memotong anggaran belanjaku menjadi setengahnya dan memberikan setengahnya untuk pembangunan dan perbaikan di kerajaan ini. Apakah aku salah?” Tanya Putri sambil menatap kepala dayang itu nyalang. “Tida, Ratu. Tidak sama sekali!” Jawabnya cepat. Dia pun takut dengan tatapan itu dan langsung menundukkan kepalanya. “Bagus! Sekarang kau boleh duduk bersamaku dan kita makan bersama.” Perintah Putri tegas. “Tapi, Ratu… ini tidak Etis dan tidak boleh terjadi seperti ini.” “Kau membantah perintah Ratumu?” “Ah… tidak… saya tidak berani, Ratu. Baiklah saya akan menghabiskan makanan ini.” jawab kepala dayang istana utama. Putri pun tersenyum mendengar itu. mereka berdua pun makan bersama. Di sela makannya Putri menanyakan banyak ha; tentang keadaan dunia yang saat ini dia tinggali. Putri tidak mau melewatkan hal sekecil apapun. Karena yang dia lihat saat ini banyak sekali yang berubah. Putri tidak mau salah mengambil langkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN