Bab 15 : Bayangan di Balik Pemakaman

1592 Kata
Hujan gerimis yang turun sejak pagi hari seakan tidak berhenti, menyelimuti kota dengan kesenduan yang membasahi bumi. Di pinggiran kota, air yang jatuh dengan lembut itu semakin menipis saat mencapai pemakaman umum yang terletak agak terpencil. Tanah yang basah dan becek menjadi saksi bisu dari batu nisan baru yang tegak berdiri, sementara karangan bunga yang awalnya indah kini tampak layu dan tersiram tetesan air hujan yang terus turun. Di sekitar area pemakaman, dua sosok berdiri dengan penuh kewaspadaan di dekat liang yang sudah tertutup rapat: seorang pria berpakaian jas hitam yang longgar dan seorang wanita muda yang memegang payung, menahan hujan. Dari kejauhan, mungkin mereka tampak seperti staf administratif yayasan yang sekadar datang untuk menghormati dan mewakili lembaga mereka. Namun sebetulnya, di balik mantel hujan yang mereka kenakan, Rizal dan Sari menyembunyikan perekam suara mungil serta kamera tersembunyi yang terpasang rapi di bros pada busana mereka. Pemuda yang dimakamkan itu dikenal sebagai Dani, seorang relawan yayasan yang dalam berita resmi disebut telah "bunuh diri" hanya dua malam sebelumnya. Upacara pemakaman dilakukan dengan sangat sederhana, namun yang menimbulkan teka-teki, banyak wajah yang hadir tampak asing. Mereka bukanlah anggota keluarga Dani dan juga bukan teman-teman kuliahnya. Sekelompok pria berjas gelap dan beberapa wanita dengan kacamata hitam terus berdiri berjarak sembari menatap tajam ke arah liang kubur, seolah tengah menunggu sesuatu. Tak jauh dari kerumunan, sebuah mobil hitam terparkir dengan mesin yang masih menyala. Dari balik kaca gelap mobil itu, terlihat bayangan samar seseorang yang mengamati situasi sembari menyalakan sebatang rokok. Diam-diam, Sari berbisik tanpa menoleh ke arah Rizal. "Riz, mereka bukan dari pihak keluarga. Aku sudah bertanya ke penjaga makam, dan katanya, ibunya sedang sakit di kampung, jadi tidak bisa datang." Rizal menjawab dengan nada tenang namun penuh kewaspadaan, "Kalau begitu, ini bukan sekadar upacara duka, tapi lebih mirip pertemuan tertutup. Mereka menggunakan kematian Dani sebagai peringatan bagi yang lain." Tiba-tiba, seorang perempuan berbaju putih melangkah maju ke depan nisan. Meskipun penampilannya tenang, tatapan matanya tajam dan penuh arti. Dengan penuh kehati-hatian, ia meletakkan mawar satu per satu di atas liang, sebelum berbicara dengan singkat namun menggugah kesadaran. "Dia adalah anak yang baik. Tapi, terlalu banyak tahu," ungkapnya. Tanpa menunggu aba-aba, Sari memberi pandangan cepat ke arah Rizal. "Apakah kamu mendengar itu?" "Tentu, aku mendengarnya," jawab Rizal. "Dan jika seseorang berani mengucapkan kata-kata seperti itu di depan umum, artinya semua orang yang hadir di sini sudah mengetahui benar apa yang terjadi." Dengan gaya yang mirip pemimpin rapat, perempuan itu melanjutkan ucapannya sambil menatap kerumunan. "Marilah kita hormati pengorbanan ini. Namun ingat, bagi yang berbicara tanpa izin... mereka akan menyusulnya. Yayasan tidak akan melindungi seorang pengkhianat." Semua yang mendengar kata-katanya tampak mendadak terdiam, hanya menunduk sementara suasana hening dipecahkan oleh suara hujan yang semakin deras. Sari segera menunduk, menurunkan payungnya, sementara tangannya masuk ke dalam kantong, menekan tombol kecil pada perekam suaranya. “Kita punya semua bukti, ini ancaman langsung yang terekam.” "Tunggu," Rizal menenangkan, "Jangan salah langkah, biarkan mereka bergerak maju dulu." Belum selesai mereka berdiskusi, dari arah mobil hitam, muncul seorang pria berbadan tegap dengan postur militer. Pria tersebut bukanlah bagian dari yayasan. Langkahnya tegas, kedua tangannya tersembunyi di dalam saku jasnya, namun gerakannya kaku seolah sedang melakukan latihan rutin. Dengan percaya diri, ia berjalan lurus menuju wanita berbaju putih itu dan menyerahkan sebuah amplop yang tertutup rapat. Perempuan itu membukanya dengan cepat, membaca isi di dalamnya, lalu mengangguk singkat seolah memahami semua isi pesannya. Rizal merasakan ada yang aneh — posisi berdiri, isyarat tangan, dan cara pria itu memperhatikan sekeliling tampak mencurigakan. Ia mengira orang itu mirip prajurit lapangan, tetapi bukan dari tim mereka. Meski seragamnya tidak jelas, namun firasat Rizal mengatakan bahwa ini bukan orang sipil biasa. Mereka berbicara dengan sangat pelan — terlalu jauh untuk terbaca melalui mikrofon. Namun Dito, yang mengamati dari van pengawasan di luar area pemakaman, berhasil mengintersep sebagian percakapan menggunakan boom mic berdaya tangkap jauh. Melalui rekaman suara yang samar, terdengar suara wanita berkata: “Perintah dari atas. Proyek 'seimbang' harus dilanjutkan. Jangan ganggu yang ada di pemerintahan, posisi mereka sudah diatur." Kemudian balasan suara pria cukup singkat: "Dan Bravo?" Tak lama setelahnya, sinyal percakapan mendadak terputus—mereka pindah ke jalur komunikasi yang lebih aman, atau mungkin menyadari bahwa mereka sedang disadap. Dengan sigap, Dito menekan tombol pada radio komunikasinya. “Rizal, nama tim kalian disebut. Aku ulang: 'Bravo'. Posisi kalian terekspos, bergerak perlahan untuk keluar dari sana!” Rizal merespon dengan tekanan suara yang terjaga sambil berkata, “Posisi di sini padat—jadi tidak bisa bergerak cepat. Kita memerlukan rencana.” Secara tiba-tiba, pandangan Sari terarah ke belakang. “Riz, lihat pria yang ada di dekat pohon itu—yang mengenakan topi hujan abu-abu?” Rizal melihat ke arah yang dimaksud Sari, pria tersebut berdiri tidak terlalu jauh dari mereka, wajahnya tampak tak asing, Rizal ingat pernah melihatnya di markas pada suatu waktu. “Itu... dari unit Kolonel Hendra,” Rizal bergumam penuh kecurigaan. “Apakah mereka mengirimkan pengawas?” Namun, pria itu tidak memberikan tanda untuk menyatakan bantuan, melainkan malah menatap tajam ke arah tim mereka, satu tangan dimasukkan ke balik jasnya, seolah bersiap menarik sesuatu. Perasaan gundah semakin menguasai diri Sari. “Riz... jika sosok itu benar adalah pengawas, mengapa…?” Baru saja Sari menyelesaikan kalimatnya, terdengar satu suara letusan kecil. 'Whiz!' Secara tiba-tiba, proyektil logam terbang melesat, mengenai nisan yang berada di dekat mereka. Spontan, Rizal segera menarik Sari jatuh bersembunyi di balik nisan berbatu yang besar. Kepanikan seketika merebak di sekitar mereka. Orang-orang di area pemakaman mulai berlarian menyelamatkan diri, sementara mobil hitam yang sejak tadi tampak pasif, perlahan bergerak maju tanpa menunjukkan tanda-tanda terburu-buru. Tidak ada yang sempat berteriak memanggil polisi. Cepat-cepat Rizal menggeret Sari keluar dari jalur pandang. "Dito, dari arah mana tembakan itu?!" Dengan nada cemas, suara Dito terdengar dari radio, “Dari sudut kiri pemakaman! Penembaknya tidak kelihatan jelas—menggunakan jaket yang sama seperti anggota keamanan internal! Satgas lokal juga belum tiba!" Di radio, terdengar suara Maya yang memberikan perintah dari mobil pengintaian lainnya. “Riz, aku lihat pria dengan topi abu-abu! Dia lagi buka saku—ambil tas… bukan senjata—itu alat jammer! Mereka berusaha memblokir sinyal radio!” Rizal menggertak gigi, penuh konsentrasi. “Mereka sedang mencoba memutuskan komunikasi kita. Sari, lebih baik kita berpencar. Aku akan ke kiri, sementara kamu menuju ke gerbang untuk memanggil tim cadangan.” Walau tampak gugup, Sari mengangguk dengan penuh keberanian, “Hati-hati ya.” Hujan yang semakin deras membasahi tanah mengakibatkan permukaan menjadi licin, batu nisan pun berlumuran air hujan. Rizal beringsut ke sisi lain, bergerak dengan lincah di antara makam yang ada. Suara langkah kaki terdengar bercampur dengan gemericik air. Dalam jarak sekitar 30 meter, kembali terlihat sosok pria dengan topi abu-abu, saat ini ia tampak memperhatikan sesuatu pada tangannya: sebuah ponsel yang terdapat logo tengkorak kecil di layarnya sebelum redup. Ia sempat melihat ke arah Rizal sebelum bergegas kabur ke sisi belakang pemakaman dan menghilang melompati pagar besi yang tampak karatan. Sari muncul dari sisi kanan, dengan sigap memanggil mobil bantuan menggunakan sinar senter kecil. Maya, yang bertugas menjemput mereka, turun buru-buru. “Cepat masuk!” Dari kejauhan, samar-samar terdengar bunyi sirene, namun jaraknya masih jauh dan mendekati lokasi kejadian. Rizal berhasil sampai di lokasi mobil dengan baju yang basah kuyup dan napas yang terengah-engah. Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Dito segera menutup seluruh perangkat monitor. “Kita kehilangan mereka. Nomor pelat mobil hitam itu tidak terdaftar. Namun begitu, sinyal jammer sempat mempengaruhi semua CCTV selama sekitar tiga menit. Mereka bergerak dengan sangat bersih.” Dari markas, terdengar suara Fauzan memantau situasi dengan gugup. “Mereka pasti sudah tahu kalian semua ada di sana — entah informasi ini bocor dari markas kita langsung, atau mungkin dari pihak pengamat eksternal.” Rizal masih saja menatap ke luar jendela mobil, pandangan kosongnya terarah pada gerbang pemakaman. “Yang jelas, mereka sangat mengetahui posisi Dani adalah tekanannya. Setelah ini, tidak akan ada lagi peringatan, mereka akan langsung melakukan tindakan eksekusi.” Sari memalingkan wajahnya ke arah Rizal. “Saat perempuan itu mengatakan ‘Yayasan tidak melindungi pengkhianat’—itu adalah bagian dari strategi mereka, Riz. Jika kita bisa membuat salah satu dari 'level tengah' ketakutan, kemungkinan dia akan datang kepada kita.” Rizal menarik napas panjang dalam-dalam. “Ya. Hanya saja, kita tidak bisa menebak pasti berapa banyak anggota dari ‘Tengkorak Nol’ yang telah menyusup masuk ke berbagai lembaga resmi. Tadi jelas sekali ada seseorang yang memakai metode seperti dari unit Hendra. Jika mereka memiliki orang di jajaran aparat, maka ini bukan lagi masalah misi lapangan biasa, melainkan telah menjadi penyusupan terhadap struktur internal.” Dalam desahan suara pelan, terdengar Hasan dari radio. “Fakta bahwa kalian berhasil keluar dengan selamat, itu sudah sangat beruntung. Namun bila musuh bisa menyamar serupa dengan kita… kita sudah lama terlibat dalam perang yang tidak terlihat.” Rizal melihat bayangannya sendiri yang samar dalam kaca jendela berembun. “Perang ini bermula di hutan," katanya lembut, "dan kini telah menjalar ke dalam setiap lembaga, setiap tingkat pangkat. Ini bukan lagi pertempuran biasa. Ini adalah infiltrasi terhadap sistem.” Mobil bergerak keluar dari area pemakaman. Tanpa diketahui tim, kamera CCTV yang berada di gerbang bergerak diam-diam mengikuti mereka—tanpa ada operator. Semua rekaman kemudian tersimpan dalam server dengan alamat IP, yang tanpa mereka sadari, mengarah ke domain dari sebuah perusahaan keamanan yang dulunya pernah mensponsori yayasan yang sama. Cerita ini diakhiri dengan ketegangan yang bukan lagi soal senjata atau ritual semata, namun tantangan bagaimana musuh kini telah menjadi bagian dari struktur resmi. Teror telah berubah rupa. Kini, siapa pun bisa dengan mudah mengenakan seragam yang serupa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN