Bab 8 : Evakuasi Berdarah di Puncak

2271 Kata
Helikopter militer MH-47 Chinook menderu mendekati punggung gunung dengan raungan baling-baling yang memecah sisa kabut seperti pisau raksasa, suara berdebum keras seperti mekanik raksasa yang seolah-olah hendak menghancurkan apa pun yang menghalanginya. Cahaya sorot tim pencari menerangi lingkaran batu retak di bawahnya, seolah menyoroti panggung untuk drama yang penuh dengan ketegangan, menerpa wajah-wajah pucat sepuluh orang survivor yang berdiri tegang dengan flare merah masih membara di tanah. Hembusan angin dari rotor menyapu debu dan pasir gunung seperti badai pasir mini, tak henti-hentinya bergerak dan mengamuk, membuat pohon obsidian di tepi jurang bergoyang ganas, seolah roh-roh tua dari punggung gunung marah atas gangguan dari besi modern ini. Getaran dengung rendah yang berasal dari batu-batu di lingkaran itu kini bercampur dengan getaran dari rotor—dua kekuatan yang bertabrakan dalam udara tropis yang lembab ini, menciptakan suasana yang tegang dan menakutkan. Pintu samping helikopter membuka dengan dentuman keras, tali evakuasi tebal dilempar ke bawah dengan gesit, disertai dengan tali pengaman dan penjepit karabiner yang mengkilap—sebuah pemandangan yang menghidupkan harapan di tengah krisis—dua penerbang SAR berpakaian tempur lengkap melambai isyarat "cepat naik!", suara megafon bergemuruh memenuhi langit yang mulai gelap, membahana "Bravo Team! Empat per empat! Yang terluka parah jadi prioritas! Cuaca buruk 10 menit lagi!" Mereka bergerak cepat, terpacu oleh peringatan bahaya yang sudah menghantui bahwa waktu adalah musuh terbesar mereka, tapi terhuyung oleh angin rotor yang tanpa ampun, Bima dipapah dengan susah payah oleh Fauzan dan Sari, pertama-tama, dengan luka nanah di dadanya yang masih basah darah segar, nafasnya tersengal-sengal seperti benang yang nyaris putus. Sementara helikopter terus melayang stabil di ketinggian 20 meter di atas permukaan punggung gunung, tali bergoyang liar seperti ular hidup yang mengamuk dalam badai. Rizal memegang karabiner erat, suaranya menggelegar melawan raungan rotor, seolah ia bukan hanya berbicara kepada timnya tetapi juga kepada gunung itu sendiri, sambil menjepit tali ke harness darurat mereka. "Prioritas yang luka! Bima, Fahri, Sari perlu diangkat pertama-tama—Fauzan, kau angkat dia! Amira, Dito ikut setelah mereka! Tono, Maya siapkan senjata ke arah jurang—roh gunung mungkin mengganggu! Rangga, Hasan berjaga di belakangku! Bergerak cepat—cuaca buruk hampir datang!" Ia menjepit karabiner Bima pertama, menariknya naik pelan meski angin rotor seolah-olah ingin menjatuhkan mereka ke dalam jurang yang menganga di bawah. Fauzan berjuang setengah mati mengangkat Bima, karabiner kedua terpasang di d**a, seruannya melawan angin "Bima tahan, bro! kau telah menyelamatkan kami berkali-kali!" Bima hanya bisa mengerang lemah, mata menatap dalam keadaan setengah terbuka "Fau... darah... gunung... ingat...", namun tali telah menarik mereka pelan ke pintu helikopter, tangan-tangan kuat SAR menyambar dan menarik mereka masuk dengan keras, teriakan, "Satu aman! Tiga lagi!" Sari memapah Fahri yang mengigau "bayang... mata... pulang...", karabiner ketiga terpasang, air mata bercampur dengan keringat, "Fahri, bisa dengar helikopternya? Kita pulang!" Fahri mengguman lemah "Titik... pertemuan... mereka lihat...", namun akhirnya naik dengan aman, diikuti oleh Amira dan Dito yang segera menjepit tali keempat, radio Dito berderit keras "Sinyal stabil—bantuan utama 30 menit lagi!" Tono dan Maya naik kelima dan keenam, busur Maya digantung di punggungnya, matanya yang setajam elang mengamati kabut jurang yang naik lagi seperti gelombang amarah. "Riz, kabut bergerak aneh—roh sepertinya menolak kehadiran helikopter ini!" Hasan memasang karabiner ketujuh, pistol tua namun bisa diandalkan diisi ulang, suaranya yang berpengalaman berkata pelan "Mari naik cepat—punggung gunung ini bisa retak lagi kapan saja!" Rangga menjepit karabiner kedelapan, kalung liontin tulangnya terasa hangat, memberi harapan dan perlindungan dari suara getaran batu yang dingin di sekitar mereka, berkata "Roh tua sedang mundur—mereka mengizinkan kita pergi untuk sementara. Riz, giliranmu terakhir sekarang." Rizal mengangguk, menjepit karabiner kesembilan, tapi tiba-tiba punggung gunung bergemuruh hebat—retakan batu melebar dengan cepat, pasir dan batu kecil longsor ke dalam jurang, pohon obsidian mulai bergoyang, akarnya tercabut dari tanah dengan kekuatan yang tampaknya ingin menjerat tali helikopter! "Punggung runtuh! Tarik cepat!" teriak Rizal, namun talinya bergoyang liar, angin rotor dihantam oleh hembusan kabut jurang yang membuat karabiner tergeser. Di dalam helikopter, SAR berteriak panik "Tahan! Cuaca buruk sudah datang!" Tapi kabut jurang melompat tinggi seperti tsunami abu, menjerat kaki Rizal dan menariknya ke arah jurang sambil berdengung raungan, seolah berkata "Ganggu... tinggal... milik!" Rangga melompat dari pintu helikopter untuk memegang tali Rizal, menikam kabut yang menjerat dengan pisau "Pegang! Roh hanya menggertak!" Hasan menembakkan pistol ke kabut, pelurunya lenyap namun suara jeritan terdengar samar. Fauzan menarik tali dari dalam "Riz, cepat naik, sialan, gunung ini!" Namun retakan di punggung semakin meluas mencapai pohon obsidian—pohon itu akhirnya tumbang perlahan ke dalam jurang, akarnya menjerat tali helikopter dan menariknya menjadi miring, rotor menderu dengan daya terlalu besar! Pilot berteriak "Evakuasi darurat! Lepaskan tali!" Helikopter tertarik dengan sudut kemiringan mencapai 30 derajat, para survivor menjerit dan tergeser di dalam kabin. Rizal memanjat tali dengan sekuat tenaga, tangan SAR meraih lengannya dan menariknya masuk tepat saat tali terputus—pohon obsidian jatuh ke dalam jurang, mengguncang bumi dengan longsor, setengah punggung gunung runtuh, dan kabut jurang menelan puing-puing! Helikopter naik cepat dengan stabil, pintu tertutup, dan mereka yang selamat ambruk dengan napas ngos-ngosan di lantai kabin yang sempit. Tim medis SAR segera memeriksa Bima "Luka kritis—infeksi parah! Stabilkan segera!" Suara pilot melaporkan "Base, Bravo aman 10 orang! Kami akan kembali ke base terdekat—cuaca buruk mendekat dengan cepat!" Rizal duduk terdiam, memandang punggung gunung yang telah runtuh dari jendela helikopter "Kita... selamat kali ini, tapi gunung ini akan mengingat kita selamanya." Fauzan merangkul Sari dengan rasa lega "Fahri stabil? Apakah Bima masih bisa bertahan?" Sari mengangguk dengan mata basah oleh air mata "Ya... kita akan pulang." Rangga diam di pojok, liontinnya menjadi dingin lagi, hanya bergumam lirih "Titik pertemuan telah ditutup. Roh tua kini hanya diam... sementara." Helikopter tetap menderu dan melaju meninggalkan hutan yang terasa mencekam, tetapi di bawah sana, kabut jurang naik menutupi puing-puing yang runtuh—sebuah bayangan mata hitam samar-samar mengintip dari retakan, seperti janji akan balas dendam dari masa depan. Demikianlah evakuasi yang berdarah ini dimulai, sepuluh jiwa terselamatkan namun sebesar itulah trauma yang akan mereka hadapi di masa depan, meninggalkan misteri hutan yang akan terus tertutup untuk sementara waktu. *** Kabin MH-47 Chinook bergoyang ganas seperti kaleng sarden di tengah guncangan gempa, berusaha bertahan melawan kekuatan alam yang brutal saat rotor menderu overload menghadapi angin badai tropis yang tiba-tiba menerpa dari arah barat, mendadak datang dengan intensitas yang mengejutkan. Hujan deras dengan kekuatan luar biasa menghujam kaca jendela seolah-olah menembakkan peluru kaca, setiap tetesan membawa kebisingan yang hampir memekakkan telinga, sementara kilat menyambar dengan cepat dan tanpa ampun di langit yang kini tertutup hitam pekat, melingkupi matahari senja yang seharusnya menyinari hari dengan hangat. Udara di dalam kabin terasa pengap, sebuah campuran yang beracun dari bau keringat, aroma darah segar yang menguap dari luka Bima yang baru saja robek lagi saat menarik tali, disandingkan dengan antiseptik medis yang menyengat dari tim SAR, dan bau tajam logam panas dari helikopter yang berjuang melawan cuaca. Cahaya lampu darurat merah berkedip-kedip secara mendadak, menerangi sepuluh orang survivor yang meringkuk dengan penuh ketakutan di lantai kabin yang sempit, sementara harness pengaman dikunci dengan gesit oleh kru SAR yang berpakaian tempur dan basah kuyup karena hujan yang tiada henti. Di tengah kekacauan ini, pilot di kokpit berteriak melalui intercom yang nyaring, memberikan peringatan genting, "Badai sudah masuk zona! Turbulensi ekstrem—tahan selama 20 menit lagi hingga kita mencapai base militer terdekat! Medis harus prioritaskan luka yang paling kritis!" Peringatan ini membuat ketegangan meningkat, dengan Bima terbaring lemas di tandu darurat, d**a yang dipenuhi nanah terbuka secara menyakitkan dan dibungkus ulang secara cepat dengan infus antibiotik guna melawan infeksi yang mengancam hidupnya. Napasnya tersengal seperti mesin yang rusak, dibantu ventilator yang berfungsi lebih kencang dari biasanya, sementara Fahri yang masih setengah sadar duduk di bangku di sebelahnya, matanya yang liar memandang jendela yang sedang hujan deras, memperhatikan bayangan gunung yang seolah mengecil tetapi dalam ingatannya masih terus mengejar. Helikopter miring dengan sudut 45 derajat untuk menghindari sambaran kilat yang tak terprediksi, dan para survivor berteriak memegang harness mereka erat-erat, pikiran mereka campur aduk antara euforia selamat dan trauma mendalam dari hutan yang sepertinya tidak mau membiarkan mereka pergi. Rizal duduk tegang di bangku depan, senjata SS1-nya diserahkan kepada tim SAR, tangan yang kini gemetar tegang memegang bahu Amira sambil menatap kokpit dengan ketidakpastian mencerminkan keadaan kritis yang dihadapi. "Pilot, berapa lama estimasi untuk sampai ke base? Bagaimana dengan kondisi Bima, apakah dia stabil? Apakah demam Fahri kambuh lagi?!" Suaranya serak, berusaha mengatasi raungan rotor dan badai yang ganas, tetapi dalam intonasi keberanian meski jelas bahwa keadaan ini melelahkan semua pihak yang terlibat. Pilot membalas melalui intercom dengan nada tegang, memberikan informasi terkini, "Base militer masih berjarak 15 menit — saat ini kita sedang mengalami puncak turbulensi! Medis melaporkan bahwa Bima mengalami infeksi sepsis stadium akhir, kita mungkin perlu melakukan operasi darurat saat landing! Fahri sekarang sedang distabilkan dari psikosis —dia mengigau tentang 'mata gunung'!" Seolah berusaha memperbaiki keadaan, Sersan Tari, anggota pertama medis SAR, dengan segera menyuntik Bima dengan m****n sambil berteriak, "Nanah di dadanya bercampur dengan racun parang — kita harus maksimalkan dengan antibiotik IV! Denyut nadi di angka 110, dan tekanan darahnya menurun drastis! Fauzan, tekan luka pada dadanya — jangan dilepas tekanannya!" Fauzan dengan cepat mengangguk, tangannya yang sudah berdarah memegang perban pada Bima dengan kuat, matanya basah mengungkapkan betapa dia peduli, "Bro, kau kuat! Kau menyelamatkan kita — tahan dulu selama evakuasi ini agar kita bisa membawa pulang semua orang dengan selamat!" Sementara itu, Sari memeluk Fahri yang kini mulai mengigau, "Titik pertemuan... mereka lihat helikopter... balik...", ia berbisik dengan tenang untuk menenangkan, "Fahri, kita aman sekarang — hutan adalah mimpi buruk yang akan berlalu. Helikopter ini akan membawa kita pulang!" Fahri bergumam dalam kondisi setengah sadar, "Bayang... ikut juga... mata hitam dari kabut...", namun tetap memegang tangan Sari dengan erat, demamnya perlahan turun berkat infus yang diberikan. Dito memegang radio SAR, suara blaring konfirmasi dari base benar-benar membuat keadaan sedikit lebih lega, "Bravo semuanya aman dalam evakuasi — ada sepuluh survivor, dua di antaranya dalam kondisi kritis! Kami sedang menuju landasan di landasan pacu 1!" Ia berteriak gembira melawan badai yang mengancam, "Riz, kita akhirnya berhasil selamat sepenuhnya! Mereka mengirim tim medis untuk proses di darat!" Di saat yang sama, Amira, yang mengenakan harness dengan erat, menatap keluar jendela namun tetap waspada dengan kilatan petir, "Tapi badai ini... seperti gunung yang mengirimkan sesuatu! Dengarkan suara dengung rohtor bercampur dengung batu tadi?!" Tono mengangguk dengan wajah pucat, peta yang sudah basah berada di pangkuannya, "Puncak gunung runtuh tepat saat kita naik — seolah roh tua menolak kehadiran besi modern!" Maya, yang busurnya digantung di dinding kabin, dengan mata elangnya mengamati bayangan awan yang aneh, "Lihat awan itu — bentuknya mirip mata spiral seperti ukiran batu! Hasan — apakah ini fenomena alam atau...?" Hasan, yang sudah menyerahkan pistolnya, dengan suara tenang melawan turbulensi berkata, "Alam marah karena kita mengganggu keseimbangan. Kultus, suku, roh — semua akibat darah kita yang sudah banyak tumpah. Gunung: membiarkan kita pergi, tetapi untuk mengingat selamanya." Rangga duduk diam di sudut kabin, liontin tulang menghangat pelan, pisau belati masih diasah secara ritmis melawan getaran helikopter, dia menatap dingin keluar jendela. "Roh tua membiarkan evakuasi ini berlangsung — titik pertemuan akan ditutup untuk sementara. Tetapi bayangan mata ikut bersama dengan angin badai ini. Base aman, namun trauma akan terus berlanjut." Tiba-tiba, helikopter mendadak miring ekstrem — kilat menyambar rotor, panel alatm kokpit berbunyi yang memekakkan "Petir langsung! Engine 2 mengalami overload!" Pilot berteriak dengan cemas, "Dive darurat! Tahan semua!" Kabin berputar pelan, survivor berteriak panic saat satu harness putus — tandu Bima bergeser menabrak dinding, infusnya terlepas hingga darahnya muncrat! "Stabilkan Bima sekarang!" teriak Sersan Tari, segera mengaitkan infus Bima. Fauzan menekan d**a Bima lebih kuat, "Jangan mati sekarang, sialan! Ini bukan saatnya!" Rizal segera bangkit, memegang brankar agar tetap stabil, dia berseru kepada pilot, "Turunkan altitude darurat! Medis di darat sudah siap!" Helikopter perlahan-lahan kembali stabil, meskipun badai luar tambah ganas — hujan es bercampur petir, rotor berderu hingga batas kemampuan. Fahri jerit kembali tersadar, "Mata! Mereka ada di awan — panggil kembali!" Sari menutup telinga Fahri dengan lembut, berkata, "Diam, mimpi buruk ini telah selesai!" Dito di radio, "Base terlihat — lampu landasan pacu! Lima menit lagi untuk sampai!" Pilot bersiap untuk melakukan landing paksa, "Berhati-hatilah semua!" Helikopter melakukan dive curam, roda landasan menyentuh runway militer yang basah akibat hujan deras, meluncur 200 meter sebelum berhenti secara dramatis, pintu kabin membuka dengan cepat dan kru medis darat bergegas masuk seakan tersapu badai untuk memastikan semua dilakukan tepat waktu. Tim medis militer dengan sigap mengangkat tandu Bima dan Fahri dengan cepat menuju ambulans, "Sepsis kritis — operasi langsung sekarang!" Para survivor turun dengan terpincang-pincang dalam hujan deras, berpelukan satu sama lain dalam kondisi basah kuyup, Rizal menatap langit yang masih badai dengan rasa syukur tak terhingga dan berkata, "Kita... pulang. Sepuluh jiwa selamat dari neraka." Fauzan pertama kali memeluk Rangga, "Bro... kau adalah penjaga kami." Rangga mengangguk dengan diam dan dingin, "Ini adalah survival. Hutan akan selalu mengingat kita — jangan pernah kembali." Di base militer, area yang ramai oleh wartawan di helikopter kedua, namun para survivor lebih memilih diam, trauma masih nyata dalam pandangan mereka, mata mereka masih melihat bayangan diantara kabut di awan. Malam itu, di rumah sakit militer, operasi yang dilakukan pada Bima memakan waktu enam jam dan ia selamat, Fahri mendapatkan terapi psikosis sebagai upaya pengobatan, sementara yang lain melalui interogasi rahasia — kisah hutan kutukan menjadi klasifikasi top secret. Tetapi dalam mimpi mereka, dengung dan mata hitam masih mengintip, selalu ada dalam kenangan. Evakuasi yang penuh darah dan perjuangan akhirnya selesai, sepuluh jiwa selamat tiba di dasar militer, namun bayangan hutan tetap abadi dalam jiwa mereka semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN