Bab 12 : Sirene Malam di Gang Sempit

1160 Kata
Razia malam tiba bagaikan hujan deras yang benar-benar tak terduga, ketika suara sirene polisi yang samar-samar menggema dari jalan raya utama, memantul-mantul di antara dinding-dinding gang sempit di sebuah kampung yang kumuh di pinggiran kota. Bangunan-bangunan rumah panggung yang reyot berdiri dengan rapuh, diselimuti kabel listrik yang kusut menyerupai sarang laba-laba. Suasana malam itu terasa pengap, bercampur bau gorengan dari kios-kios pinggir jalan, aroma saluran air hitam dan kotor yang menguap, serta asap knalpot motor yang melintas. Sementara itu, cahaya lampu neon dari sebuah minimarket jauh di sana berusaha menyusup tipis ke dalam kegelapan gang buntu yang menjadi tujuan operasi malam ini. Di ujung gang tersebut, berdiri sebuah gudang tua dengan bangunan semen yang penuh dengan retakan, pintu besi berkarat, dan jendela yang pecah tertutup dengan papan. Dari luar, gudang itu mungkin terlihat biasa saja, namun tim Bravo mengetahui rahasia di dalamnya: petunjuk bot segar yang ditinggalkan, van tanpa plat yang terlihat malam sebelumnya, dan panas dari liontin yang digenggam Rangga yang seakan tak pernah mereda. Tim Bravo malam itu terdiri dari sembilan orang yang tegar dan berani, ditambah dengan dua puluh anggota SATGAS militer yang mengenakan pakaian sipil berwarna hitam. Mereka bergerak dalam keheningan menggunakan NVG dan senjata bersilencer. Rizal, yang memimpin di depan dengan persenjataan SS2 yang siap untuk menembak, sementara Fauzan bergerak di flank kiri dengan parang cadangan, Maya menjaga flank kanan dengan busur yang siap digunakan, dan Hasan menjaga bagian belakang. Sementara itu, Sari, Fahri, Bima, Amira, Dito, dan Tono bersiaga di van pengintaian sekitar 100 meter di belakang, sedangkan Rangga sebagai scout bergerak di depan dengan tak terlihat. Rizal menyampaikan melalui radio enkripsi dengan suara tegang yang beradu dengan deru motor yang melintas di gang. "Posisi satu, siap untuk masuk. Rangga, pastikan pintu belakang dapat diakses. Fauzan, Maya—siagakan diri di jendela atas. Hasan, pastikan pintu gudang aman terkendali. Kolonel, SATGAS tetap standby pada jarak 50 meter. Kita bergerak dalam keheningan—mereka tahu kita sudah dekat." Dari bayang-bayang di atap gudang, Rangga membalas dengan sensasi hangat liontin yang menusuk dadanya. "Pintu belakang terkunci dengan rantai. Dua bayangan bergerak di dalam." Fauzan melompati pagar besi dengan pelan, parang yang digenggamnya menebas kawat duri tanpa suara, matanya terfokus pada jendela atas yang gelap. "Maya, lihat ke dalam—terdapat cahaya redup dari lampu meja. Apa itu spreadsheet atau altar kecil?" Maya menarik panah NVG-nya, matanya yang tajam seperti elang memicing ke dalam kegelapan. "Ini spreadsheet. Ada dua orang—satu mengenakan jas rapi, lainnya kaosan. Yang berjas memegang HP. Mereka membicarakan sesuatu dengan suara pelan... "'hutan aman, kurban siap dikirim'." Hasan, dari belakang gudang dengan pistol suppressor di tangan, menyampaikan melalui radio, "Pintu aman. Rizal, kita siap masuk—mereka sedang bergerak menuju kotak kayu yang panjang di pojok." Rizal memberi isyarat tangan, SATGAS bergerak pelan dengan granat flashbang yang siap untuk digunakan. "Masuk dalam hitungan tiga... dua... satu." Pintu besi terbuka perlahan menggunakan dorongan hidrolik, tim masuk dengan cepat, Rizal menembakkan peluru silencer ke atas sebagai peringatan. "Militer! Angkat tangan ke kepala! Jangan gerak!" Di dalam gudang yang pengap penuh dengan tumpukan kardus berlabel "bantuan sosial", dua pria terdiam membeku: pria paruh baya yang berjas rapi itu menampilkan wajahnya sedang tersenyum tenang meski dengan tangan terangkat, sementara pria berkaos itu gemetar, memegang kotak kayu panjang dengan noda cokelat yang kering. Di atas meja besi itu ada laptop yang terbuka menampilkan spreadsheet donasi, peta kota dengan lingkaran merah bertanda "target rekrut", dan pin d**a dengan simbol tengkorak yang distilisasi. Pria berjas itu berbicara dengan tenang, suaranya halus seperti sales yang sedang menawarkan produk. "Tenang, Pak Tentara. Kami adalah staf yayasan—kami di sini untuk memberikan bantuan kepada masyarakat. Lihat saja, kotak itu berisi makanan kaleng." Fauzan membuka kotak tersebut—dan isinya bukanlah makanan, namun kain putih kusut dengan bercak darah yang mengering, pisau lipat berkarat, dan liontin tulang mirip yang dimiliki Rangga. "Makanan? Anda pembohong!" Sementara itu, pria berkaos tersebut berteriak dengan panik, "Jangan bunuh saya! Saya cuma seorang kurir—mereka yang menyuruh saya mengantarkan barang dari dan ke desa!" Rizal segera menekan tombol pada radio, "Kolonel, kita sudah menangkap dua orang. Sudah cukup bukti—darah mengering yang ada di kotak, spreadsheet dengan target. Tapi yang berjas ini terlalu tenang. Periksa HP-nya." SATGAS kemudian menelusuri gudang, menemukan sebuah ruang belakang yang tersembunyi: dinding yang terbuat dari semen yang dapat dibuka mengarah ke sebuah ruangan berukuran 3x3 meter, dengan altar meja kayu yang berisi patung tengkorak dari semen kecil, lilin yang mati, dan tercantum daftar nama dua puluh orang sebagai "terlindungi" oleh yayasan mereka—dilengkapi dengan foto mereka yang hilang dari laporan polisi. Pria berjas itu tersenyum tipis melihat hasilnya, "Oh, yayasan kami menyelamatkan mereka dari kemiskinan. Altar ini? Hanya dekorasi budaya." Maya menembakkan panah ke dinding—terdengar bunyi sesuatu yang berongga. "Ada ruang lainnya. Siap-siap untuk masuk." Rizal mendorong pintu rahasia tersebut, dan tim memasuki lorong sempit sepanjang sepuluh meter yang mengarah ke sebuah ruang beton bawah tanah: terdapat rack server yang berkedip hijau, monitor CCTV yang menampilkan live feed dari apartemen mewah, kantor polisi, bahkan markas Bravo pada malam sebelumnya. Seorang wanita misterius yang mengenakan jas hitam tengah duduk di depan keyboard, wajahnya terpantul oleh layar namun terlihat matanya yang dingin ketika ia mengangkat tangan. "Kalian sudah terlambat. Data sudah diunggah ke cloud. Sekarang kalian tahu siapa kami sebenarnya." Fauzan berteriak, "Siapa?! Bos sindikat?!" Wanita itu tersenyum samar, suaranya halus seperti seorang narator. "Kami adalah penjaga. Hutan atau kota—semua sama bagi kami. Data Bravo sudah menyebar di dark web. Untuk sementara, keluarga kalian aman." Rizal menembakkan pistol silenced di dekat kakinya sebagai peringatan. "Berikan HP enkripsi itu! Passwordnya sekarang!" Wanita itu melemparkan HP-nya dengan perlahan. "Sudah dilakukan. Kodenya Tengkorak Nol. Selamat bermain, kawan." SATGAS kemudian menangkap ketiga orang tersebut, gudang disegel, dan semua bukti diangkut ke dalam van. Namun di dalam van pengintaian, Dito tiba-tiba berteriak sambil menatap laptop "Server ini memiliki fitur wipe otomatis—80% data telah hilang! Live feed kami telah terekam oleh musuh!" Rizal menatap HP wanita tersebut, menemukan pesan terakhir yang baru masuk: foto Kolonel Hendra di sebuah rapat rahasia malam itu, dengan caption 'Partner baru?' Misteri semakin dalam: apakah sindikat ini memiliki mata-mata di dalam tim? Kolonel menyampaikan melalui radio dengan nada tegang, "Ekstraksi sekarang! Analisis bukti di markas. Mereka bermain dengan cerdas—misterius, dan tak terlihat." Fauzan meninju dinding van dengan kesal. "Tengkorak Nol? Siapa itu sebenarnya? Apakah kita salah sasaran merazia gudang ini?" Rangga dari menyahut, "Tidak ada yang salah. Mereka sengaja meninggalkan jejak—memancing kita ke dalam sebuah jebakan yang besar. Bos mereka bergerak dalam bayang-bayang." Suara sirene kota semakin dekat bergemuruh, tim bergerak dengan cepat untuk mengevakuasi kawasan tersebut—namun HP Rizal bergetar menerima sebuah pesan baru dari pengirim anonim: "Selamat malam, Bravo. Besok, akan ada kurban pertama di kota." Dilengkapi dengan lampiran koordinat di pusat kota. Hal ini memuncak dalam razia yang penuh dengan misteri, dengan sindikat sebagai lawan yang bermain dalam kegelapan, dan Tengkorak Nol menunggu langkah berikutnya dari tim Bravo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN