Bab 10 : Bayang Kota di Balik Sirene

4999 Kata
Hujan sore mengguyur kota seperti tirai tipis yang tak putus-putus, memantulkan cahaya lampu jalan dan sirene patroli yang lewat sesekali di kejauhan, menambah nuansa misterius pada malam yang kian larut. Gedung-gedung beton menjulang diam dengan megah, seolah tak peduli pada rahasia yang bergerak di celah gang sempit, atau di lantai-lantai kantor yang lampunya terlambat padam meski malam semakin pekat. Di salah satu sudut kota itu yang tampaknya biasa saja tanpa kegaduhan yang menonjol, sebuah gedung pemerintahan bertingkat, tampak biasa saja dari luar dengan pagar besi yang kokoh, pos keamanan yang selalu waspada, dan parkiran yang penuh dengan kendaraan dinas—menyimpan sebuah ruangan di basement yang tidak tercantum di denah resmi. Di sanalah Rizal dan sisa tim “Bravo” kembali didudukkan, kali ini bukan sebagai korban yang selamat dari kecelakaan pelatihan yang nyaris merenggut nyawa mereka, melainkan sebagai saksi kunci dalam dugaan sindikat kekerasan terorganisir yang menyamar sebagai “kultus” di daerah terpencil dengan kedok penuh tipu daya. Ruangannya tidak lagi seperti bunker dingin sebelumnya yang menimbulkan rasa terkurung tanpa harapan. Dindingnya tetap beton, tetapi kini dihiasi papan tulis kaca yang besar dipenuhi garis, foto-foto yang berbicara tanpa suara, dan peta kota yang terbentang dengan titik-titik mencurigakan. Di tengah, meja besar dengan beberapa map berlabel “OPERASI TENGKORAK – URBAN NODE” menjadi pusat perhatian setiap helai kertas yang berisi informasi penting. Di ujung meja, Kolonel Hendra duduk dengan seragam rapi tanpa baret, tampak lebih seperti pejabat birokrasi daripada komandan lapangan yang garang, tapi sorot matanya masih sama: tajam, menilai, tidak mudah percaya dan selalu siaga. Di sekeliling meja, hadir pula dua orang baru: seorang perempuan berjas abu-abu, rambut diikat rapi—perwakilan kejaksaan militer yang datang dengan membawa agenda hukum—dan seorang pria paruh baya berkemeja putih tanpa dasi, yang hanya dikenalkan sebagai “konsultan” dengan air muka penuh pengamatan. Rizal duduk tegak meski punggungnya masih sering sakit kalau terlalu lama duduk—sisa benturan dan kelelahan berkepanjangan sejak insiden yang mengubah hidup mereka. Bekas luka di pelipisnya sudah menipis, tapi garisnya tetap terlihat menghiasi wajahnya jika cahaya lampu mengenai sudut tertentu dengan cara yang membuatnya tampak lebih tegas. Di sampingnya, Fauzan duduk bersandar, kedua tangannya menyilang dengan cerminan ekspresi wajah lebih keras dari sebelumnya. Sari di sebelah Fahri, yang kini tampak jauh lebih tenang—obat dan terapi beberapa minggu belakangan menahan mimpi buruknya yang dulu menghantui setiap tidurnya, meski kadang tatapannya masih kosong selama beberapa detik sebelum kembali fokus pada kenyataan yang mengusik pikirannya. Bima datang dengan tongkat, menolak kursi roda yang ditawarkan, sementara Maya, Tono, Amira, Dito, Hasan, dan Rangga menempati kursi masing-masing, saling bertukar pandang ketika Kolonel mengetuk meja tiga kali yang mengisyaratkan pentingnya pertemuan ini. “Baik,” ucap Kolonel Hendra, suaranya tenang namun penuh otoritas seperti yang selalu ia tunjukkan. “Kita mulai. Ini bukan lagi soal laporan evakuasi biasa yang bisa diselesaikan dengan sekadar berkas. Ini perkara hukum yang rumit. Dan mungkin, perkara jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.” Ia menunjuk papan kaca di belakangnya dengan gerakan yang tegas. “Ini kota kita. Lampu, kantor, bar, pusat perbelanjaan, apartemen, dan segala hal yang tampak normal di permukaan. Tapi menurut bukti yang kalian bawa dari desa—” ia mengangkat satu map tipis berisi fotokopi peta dengan lingkaran merah di beberapa titik yang mencurigakan, “—ada cabang dari kelompok kekerasan yang kalian sebut ‘kultus Tengkorak’ yang beroperasi di sini, menyamar sebagai organisasi sah dengan tipu muslihat yang nyaris sempurna.” Perempuan berjas abu-abu menambahkan, suaranya lebih kering dan berwibawa. “Secara hukum, kita belum menyebutnya kultus secara eksplisit. Istilah resmi sementara: sindikat kekerasan terorganisir dengan pola ritual yang meresahkan. Beberapa nama yang kalian sebut telah lama ada dalam radar kejaksaan yang terus mencermati gerak-geriknya: yayasan sosial, perusahaan keamanan swasta, dan satu-dua tokoh politik daerah yang banyak bicara soal ‘pembersihan moral di perbatasan’ yang terdengar mulia.” Rizal mencondongkan tubuh dengan rasa penasaran yang semakin membesar. “Jadi yang kami hadapi di hutan bukan cuma fanatik lokal yang terisolasi?” tanyanya dengan nada ingin penjelasan lebih. “Ada orang kota yang memodali mereka untuk tujuan tertentu?” Pria berkemeja putih yang sejak tadi diam, ikut bicara. Suaranya datar, tapi cara dia memilih kata-kata menunjukkan pengalaman panjang yang penuh dengan kebijakan. “Fanatisme jarang berjalan sendiri tanpa dukungan,” ujarnya. “Kalian sebut sepatu bot modern, senjata standar, logistik yang tidak mungkin dibangun dari satu desa miskin di tepi hutan tanpa sumber. Itu butuh jaringan yang tertata. Jaringan butuh uang. Uang butuh wajah ‘terhormat’ untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya.” Fauzan mengetuk meja pelan dengan jarinya, menandakan keseriusannya. “Wajah terhormat itu... ada di kota ini dan menunjukkan eksistensinya di sana?” Kolonel menggeser beberapa foto ke tengah meja agar dapat dilihat semua orang. Ada foto sebuah gedung kantor mewah dengan logo perusahaan keamanan yang tampak megah; foto spanduk yayasan sosial yang mengadakan bakti sosial di desa dengan nuansa mulia; foto seorang pria tersenyum di depan podium—anggota dewan daerah—dengan slogan “Menjaga Perbatasan, Menjaga Moral Bangsa” yang direka dengan penuh perhatian. Di sudut salah satu foto, kalau dilihat baik-baik, terlihat siluet kecil simbol tengkorak stilisasi di bagian bawah spanduk—tidak mencolok, hampir seperti ornamen biasa yang biasa ditemui. “Kami menemukan simbol yang sama di berbagai tempat,” jelas perempuan kejaksaan. “Tidak selalu jelas, tapi cukup konsisten untuk disebut pola yang bisa mencurigakan. Di bagian bawah formulir sumbangan, di desain stiker mobil, di pin kecil yang dipakai beberapa anggota ‘klub diskusi malam’ yang kami awasi dengan sinyal waspada. Selama ini, kami menduga itu sekadar tanda kelompok eksklusif biasa tanpa kehebohan berarti. Lalu kalian kembali dari hutan dengan foto altar, peta koordinat, dan nama-nama yang cocok membuat kami tersentak. Mendadak simbol itu bukan lagi sekadar gaya atau hiasan belaka.” Dito, yang memegang map rekaman frekuensi radio selama operasi dengan penuh ketelitian, ikut bersuara. “Sinyal yang saya tangkap di rawa dan punggung gunung,” katanya pelan, “tidak hanya suara ritual yang dapat diabaikan. Di sela-sela noise, ada kode pendek, angka dan huruf—seperti panggilan logistik yang ditebar dengan cermat. Beberapa cocok dengan frekuensi yang dipakai perusahaan keamanan di kota ini yang sudah diteliti. Saya sudah cocokkan dengan log buku radio militer. Ada jam-jam yang mencurigakan yang perlu diselidiki lebih jauh.” Hasan mengangguk pelan, menunjukkan pemahaman yang mendalam. “Dalam perang,” katanya sambil menghela napas berat, “logistik sering lebih jujur daripada pernyataan pers yang bisa direka ulang.” Kolonel memutar sebuah pena di jarinya seolah sedang memikirkan dengan serius. “Masalahnya,” ujarnya, “bukti yang kalian bawa cukup kuat untuk mengindikasikan keterkaitan yang saling mengikat, tapi belum cukup untuk menyeret orang-orang ini ke meja hijau dengan tuduhan resmi. Mereka punya pengacara, jaringan, dan cara untuk membalikkan narasi dengan kecerdikan yang lihai. Salah sedikit, kita yang dituduh mengarang cerita. Atau lebih parah: kalian dianggap trauma berat dan halusinasi massal bisa terjadi tanpa bukti yang valid.” Sari menegang dengan rasa gelisah yang tak bisa disembunyikan. “Jadi... semua yang kami hadapi di sana, semua yang mati... akan dibiarkan begitu saja tanpa tindakan nyata?” suaranya bergetar penuh emosi. “Lina jatuh ke jurang. Yang lain mati di lembah. Kalau sindikat ini dibiarkan beraksi, mereka akan bangun altar baru di tempat lain dengan modus serupa. Mungkin di kota ini saat waktunya tiba.” Perempuan kejaksaan menatapnya dengan sorot mata yang sedikit melunak, menunjukkan empati yang terbuka. “Justru karena itu kami tidak boleh gegabah dan kehilangan arah,” katanya dengan nada prihatin. “Kalian sudah menembus sisi paling kotor dari operasi mereka yang sarkas. Tapi di kota, mereka bermain dengan aturan lain yang lebih licik. Di sini, mereka tidak pakai parang—mereka pakai kontrak, donasi, dan acara media yang bisa memengaruhi persepsi umum.” Suasana ruangan mengeras lagi, menambah ketegangan yang melingkupi mereka. Hujan di luar mengetuk pelan atap beton, seperti jam yang menghitung mundur dengan ketidaksabaran. Rangga, yang sejak tadi diam dan tampak tenang, akhirnya berbicara. “Wajahnya berbeda, caranya berbeda,” katanya pelan, menunjukkan keprihatinannya, “tapi yang mereka cari sama: kontrol. Di hutan, mereka pakai ketakutan dan darah mentah. Di kota, mereka pakai rasa aman yang dibuat-buat untuk menipu. Orang desa percaya mereka ‘melindungi’ perbatasan dengan niat baik. Orang kota percaya mereka ‘menjaga ketertiban’ sebagai bagian dari tugas mulia.” Pria berkemeja putih menatap Rangga lebih lama, menunjukkan ketertarikannya. “Kau pernah ke kota sebelumnya?” tanyanya dengan rasa penasaran. “Pernah,” jawab Rangga dengan penuh nostalgia. “Sekali. Kakek membawa saya ke kantor seseorang yang mengaku ingin ‘membantu desa’ dengan perlindungan yang membingungkan. Ia pakai jam mahal dan parfum yang baunya kuat menandakan gaya hidup yang mewah. Tapi cara dia memegang sendok waktu minum kopi... seperti memegang senjata yang siap digunakan. Kakek menolak, lalu malamnya rumah kami dibakar dengan tanpa ampun. Sejak itu, kami pindah lebih dalam ke hutan demi keselamatan.” Rizal menoleh cepat, terkejut dengan pengakuan baru. “Kau belum pernah cerita bagian itu sebelum ini.” “Tidak ada yang tanya,” jawab Rangga singkat dengan nada tidak menyalahkan. Kolonel Hendra menghela napas pelan, menatap semua dengan penuh perhatian. “Baik,” katanya membangun kembali fokus. “Jadi begini: secara resmi, kalian sudah selesai menjalani tugas yang menguras stamina. Kalian bisa memilih kembali ke unit masing-masing, mengundurkan diri dengan hormat, atau menjalani rehabilitasi penuh untuk pemulihan mental dan fisik. Tapi secara tak resmi... kita butuh kalian untuk menghadapi tantangan baru.” Amira mengerutkan kening, menunjukkan ketidakpastian. “Butuh... dalam arti apa yang dimaksud?” “Kalian satu-satunya yang pernah melihat kedua sisi dengan mata kepala sendiri,” jawab Kolonel. “Sisi liar mereka di hutan, dan jejak kecil mereka yang bocor ke kota tanpa sepengetahuan umum. Kami punya data, alat, dan kewenangan penuh untuk melakukan investigasi. Kalian punya pengalaman langsung, insting, dan—” ia menatap Rizal dan yang lain satu per satu dengan penuh makna, “—alasan pribadi yang tidak bisa diabaikan begitu saja.” Fauzan terkekeh pendek, pahit, menunjukkan pemahaman bercampur skepticisme. “Alasan pribadi? Itu cara halus dari dendam untuk menggugah hati?” “Kalau mau disebut begitu, terserah pada interpretasi kalian,” sahut Kolonel dengan tegas. “Tapi bedakan dendam dengan rasa tanggung jawab yang diperlukan. Dendam membuat kalian gegabah dalam bertindak. Rasa tanggung jawab membuat kalian berhitung sebelum bergerak dalam mengambil keputusan.” Bima memegang tongkatnya kuat-kuat, tidak ingin memperlihatkan kelemahan. “Saya tidak bisa lari lagi di hutan,” katanya jujur tanpa menutup-nutupi keadaan. “d**a saya tidak seperti dulu lagi yang dulu perkasa. Tapi saya bisa membaca laporan dengan teliti. Menganalisis pola yang ada. Kalau mereka pakai jaringan di kota, itu medan baru yang perlu dipahami. Saya mau ikut berkontribusi....” Fahri menarik napas dalam-dalam, seolah memeriksa apakah suara-suara di kepalanya ikut nimbrung dengan situasi yang ada. “Di kepala saya, suara-suara itu sudah menurun,” katanya. “Tapi bayangan mereka tidak hilang untuk mengancam mental. Kalau kita menutup mata, bukan berarti mereka berhenti bergerak. Kalau kalian mau saya bantu, saya akan ikut memberikan kontribusi. Tapi saya tidak mau disuruh pura-pura tidak pernah melihat apa yang pernah terjadi.” Dito mengangkat radio rusak yang masih ia bawa seperti kebiasaan yang mengusik. “Sinyal di hutan sudah selesai diurai,” ujarnya. “Sekarang saya penasaran dengan sinyal di kota. Telepon genggam, CCTV, komunikasi internal perusahaan dapat menjadi sumber informasi. Kalau mereka benar-benar tertata dengan rapi, pasti ada pola yang bisa dijadikan petunjuk. Dan pola selalu meninggalkan jejak yang bisa dipakai.” Maya duduk lebih tegak, menunjukkan komitmennya. “Saya tidak ahli bicara di ruang rapat yang penuh formalitas,” katanya. “Tapi saya tahu cara mengikuti orang tanpa terlihat dan membaur. Di hutan atau di kota, orang yang merasa aman selalu membuat kesalahan yang sama: mereka meremehkan yang tidak terlihat dan berpotensi mengancam.” Hasan menghela napas panjang, menatap Kolonel dengan tegas. “Saya sudah pernah di medan perang dengan pengalaman yang banyak,” ujarnya. “Tapi kalau perang sedang pindah ke kota saya sendiri kali ini, saya tidak akan pura-pura tidak dengar atau mengabaikan.” Semua mata kemudian beralih ke Rizal tanpa diminta, menunjukkan kepercayaan. Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu menatap lurus ke depan dengan penuh tekad. “Kalau kami setuju dengan pembagian tugas,” katanya pelan, “apa yang akan kalian minta dari kami untuk menjamin kerjasama yang sukses?” Pria berkemeja putih menyusun beberapa map tipis dan menggesernya ke tengah meja, memberikan sesuatu yang lebih konkret. Di dalamnya, tampak foto-foto candid—seorang direktur perusahaan keamanan memasuki klub malam yang tertutup dengan elegan; seorang tokoh agama yang sering muncul di televisi sedang berbicara dengan seseorang di parkiran basement yang tampak misterius; sebuah mobil van tanpa logo berhenti beberapa kali di lokasi hilangnya beberapa warga pinggiran kota tanpa jejak. “Kami tidak perlu kalian menangkap siapa pun dengan risiko yang luar biasa,” katanya. “Kami butuh mata, telinga, dan intuisi kalian yang telah terlatih. Kalian akan dibagi dalam beberapa tim kecil, seolah-olah kalian menjalani rehabilitasi sipil—kelas, pekerjaan ringan, konseling untuk pemulihan. Di sela-sela itu, kalian mengamati, melaporkan, menguji dugaan dengan penuh perhatian. Tidak ada aksi lapangan tanpa ijin formal. Tidak ada aksi heroik sendirian dengan risiko tinggi.” Rangga mengangkat alis tipis, menunjukkan skeptisme. “Dan kalau kami menolak dalam kondisi ini?” Perempuan kejaksaan menjawab, suaranya datar dengan informasi yang jelas. “Kalau kalian menolak, kalian tetap bebas... dalam batas tertentu. Kalian akan menjalani program rehabilitasi biasa sesuai prosedur, data kalian dikunci untuk keamanan, dan kalian dilarang membicarakan insiden apa pun di hutan itu dengan siapa pun sebagai perlindungan. Tidak ada sanksi, selama kalian diam dan mematuhi peraturan. Tapi kalau kalian mencari sendiri tanpa koordinasi, kalian akan dianggap mengganggu penyidikan resmi dengan resiko yang berkepanjangan.” Ruangan menjadi sunyi sejenak, hanya suara hujan di atas kepala yang terdengar. Pilihannya jelas, tapi jauh dari mudah dengan implikasi besar. Fauzan memandang ke meja, lalu ke Rizal dengan intens. “Kau yang biasa memimpin dengan pengalaman dan keahlian,” katanya pelan. “Kau yang putuskan di hutan dengan kesadaran penuh. Di kota... aku ikut keputusanmu dengan kerelaan.” Sari menunduk, menggenggam tangan Fahri yang mengartikan kedekatan. “Aku... lelah,” bisiknya. “Tapi ketika aku bayangkan orang lain terjebak di lembah atau rawa seperti kita, hanya karena sindikat ini butuh ‘kurban’ untuk menggerakkan operasinya... lelah rasanya jadi egois dan menutup diri.” Rizal menarik napas panjang, lalu berdiri dengan langkah pasti. “Saya tidak bisa berbicara totalitas untuk mewakili semuanya,” katanya. “Tapi saya tahu satu hal yang pasti. Kalau kita berpura-pura semua yang terjadi di hutan cuma mimpi buruk yang bisa dilupakan, maka semua yang mati di sana benar-benar hanya akan jadi mimpi tanpa arti.” Ia menatap Kolonel dengan fokus. “Saya setuju. Dalam batas yang jelas dan terukur. Kami bukan pion, kami partner dalam kerjasama ini.” Kolonel Hendra mengangguk pelan, menunjukkan persetujuan. “Partner,” ia mengulangi dengan tegas. “Itu kata yang berani untuk diungkapkan. Simpan kata itu dalam benak kalian. Sebentar lagi, kalian akan sadar betapa sedikitnya partner yang bisa dipercaya di kota ini dengan lingkungan yang kompleks.” Di luar, sirene polisi terdengar samar, bercampur dengan bunyi klakson, tawa dari kafe di seberang jalan, dan denting sendok di warung kopi menjadi latar belakang. Kota tampak normal—seperti biasa, sama sekali tanpa tanda gangguan. Tapi di ruangan bawah tanah itu, hal baru sudah resmi dibuka: hal di mana bayang-bayang dari hutan tidak lagi bersembunyi di antara akar dan kabut, melainkan di balik kaca tinggi, jas rapi, dan senyum pada kamera dengan penuh intrik dan konspirasi. Ini berakhir dengan sebuah kesepakatan sunyi: perang belum selesai dengan tantangan baru yang menanti. Hanya saja, medan dan bahasanya berubah dengan cepat. Dari tanah yang lembab dan darah segar yang mengenaskan, menjadi laporan, rapat tertutup, dan jejak digital yang sengaja disamarkan untuk menghilangkan suspicious. Dan di tengah itu semua, nama-nama yang dulu dibisikkan di altar kini mulai terdengar pelan di balik layar kota dengan harapan untuk perubahan. *** Upacara pengangkatan yang berlangsung di lapangan apel besar milik batalyon pendidikan ini diadakan tepat setelah hujan pagi yang cukup deras mereda, menyisakan kilauan butiran-butiran air yang tersisa di atas aspal hitam yang basah. Barisan ratusan siswa tentara berdiri dengan tegas dan rapi dalam formasi kotak yang solid, seragam hijau daun loreng-loreng mereka terlihat seragam tanpa cacat, topi baret yang mereka kenakan miring dengan sudut yang sama seolah ada aturan tidak tertulis yang menjadikannya wajib, membingkai wajah-wajah muda yang menunjukkan ekspresi penuh tekad menatap lurus ke depan. Sebagai pembeda, di depan formasi besar itu, terdapat satu barisan yang tampak berbeda dari yang lainnya: hanya sembilan orang yang tampak begitu khas, dengan bekas luka yang belum sepenuhnya pudar di tubuh mereka, tatapan mata yang jauh lebih dewasa dari usia mereka yang sebenarnya, dan cara berdiri yang tampak penuh dengan pengalaman, bukan sekadar hasil latihan, melainkan bekas dari pengalaman bertahan hidup di tengah situasi yang sulit dan mendesak. Di podium, bendera merah putih berkibar perlahan tertiup angin pagi yang sejuk nan menyegarkan. Mikrofon telah disetel dengan baik untuk memastikan suara terdengar jelas dan nyaring, kursi pejabat tersusun rapi dan menambah kesan formal acara tersebut. Kolonel Hendra berdiri termenung di samping seorang jenderal berbintang dua yang memimpin jalannya upacara, sementara beberapa perwira staf dan tamu kehormatan—termasuk perwakilan dari kejaksaan dan beberapa “konsultan” yang sebelumnya telah mereka temukan—duduk di deretan belakang memperhatikan jalannya acara. Di antara jajaran perwira, Hasan berdiri dengan gagah, mengenakan seragam lengkap yang dihiasi dengan tanda-tanda operasi dari masa lalunya. Namun, tidak demikian dengan Rangga, ia tidak berada di deretan barisan yang penuh dengan formalitas tersebut; Rangga memilih berdiri di bawah naungan pohon di pinggir lapangan, mengenakan kemeja sederhana dan jaket lusuh yang kontras dengan suasana resmi, seolah hanya menjadi penonton yang tidak terikat oleh acara, tetapi pandangannya yang tajam terus mengikuti setiap gerakan yang terjadi di lapangan. “Pasukan, siap—GR!” Komandan upacara berseru dengan suara yang menggema, terpantul dan memenuhi udara, disambut dengan dengungan serempak dari ratusan d**a yang menjawab penuh semangat dan kompak. Di posisi paling depan dari barisan kecil survivor yang penuh dengan cerita, Rizal berdiri dengan seragamnya yang kini telah resmi—tak lagi sekadar seragam latihan yang membosankan. Pundaknya sekarang memikul pangkat yang seharusnya sudah ia raih setelah lulus dari pendidikan, sama seperti teman-teman seangkatannya yang tidak ikut masuk ke dalam hutan lebat yang penuh dengan misteri. Bedanya, di saku kirinya terdapat satu tanda kecil tambahan: pita operasi darurat, simbol dari perjuangan yang mereka lalui. Tanda yang sama terpasang di seragam Fauzan, Sari, Fahri, Bima, Dito, Tono, Maya, dan Amira, menegaskan status mereka sebagai pejuang yang telah melalui rintangan yang tak terduga. Seorang Mayor Jenderal kemudian melangkah dengan mantap ke mimbar, suaranya berat dan terlatih untuk terdengar jelas di lapangan terbuka yang luas ini. “Hari ini,” katanya dengan penuh khidmat dan kehormatan, “kita mengesahkan status kalian sebagai prajurit yang teruji dan terlatih. Tidak hanya kalian yang telah menempuh pendidikan sesuai dengan kurikulum resmi, namun juga bagi mereka yang terpaksa meluluskan diri lebih cepat melalui jalur yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.” Ia memberikan tatapan sekilas ke arah barisan Rizal dan kawan-kawan, senyumnya mengandung kebanggaan. “Ada hal-hal yang tidak akan tercantum di dokumen resmi yang kita miliki. Ada cerita-cerita yang tidak akan dibagikan di buku pelajaran. Tapi negara ini tahu baik siapa yang telah pulang dan siapa yang tidak, dan kita menghormati itu.” Dengan teguh, Fauzan menelan ludah, tenggorokan terasa kering meski udara lembab mengelilingi. Di belakangnya, Bima berdiri dengan bantuan tongkat—ia diizinkan untuk tidak ikut berdiri terlalu lama, namun ia bersikukuh tetap di barisan, enggan menerima kursi yang disediakan di pinggir. Sari berdiri tegak di sebelah Fahri, yang kali ini tatapan matanya terfokus, mengikuti setiap kata yang keluar dari suara sang mayor jenderal. “Ada ratusan siswa yang pada hari itu tidak ikut masuk ke hutan,” lanjut sang jenderal dengan tegas. “Mereka tetap menjalankan latihan di jalur lain. Bukan karena mereka kurang berani menghadapi tantangan yang ada, tetapi karena penugasan berkata demikian. Hari ini, pangkat kalian sama. Kalian semua adalah prajurit. Yang membedakan bukanlah tanda di pundak, tetapi pengalaman yang kalian bawa di dalam kepala kalian masing-masing.” Suara bisik-bisik kecil terdengar di antara barisan siswa lainnya—rasa ingin tahu yang mendalam, perasaan kagum yang meluap-luap, bahkan sedikit rasa iri yang tidak bisa dihindari. Nama-nama “Bravo” sudah beredar dari mulut ke mulut, membentuk cerita sendiri, meski versi resminya hanya mencakup “misi penyelamatan di daerah rawan”. Cerita-cerita liar—tentang lembah misterius, rawa yang mematikan, dan punggung gunung yang menjadi saksi—tidak pernah dikonfirmasi, tetapi bayangannya yang kuat cukup untuk memicu imajinasi. Komandan upacara memanggil satu per satu nama secara simbolis. “Sersan Dua Rizal.” Rizal maju dengan langkah pasti, memberi hormat sepenuhnya. Jenderal mengangkat tangan membalas hormat yang diberikan, kemudian menyematkan secara simbolis tanda pangkat di pundaknya yang mengandung makna mendalam. “Mulai hari ini, kau bukan lagi calon. Kau prajurit. Ingat selalu, pangkat kecil bukan berarti tanggung jawabnya kecil.” Rizal menjawab dengan tegas dan lantang, “Siap, Jenderal!” meskipun di dalam kepalanya, ia teringat akan suara batu retak dari lembah yang mengepung dan dengung di punggung gunung yang menyertainya. “Sersan Dua Fauzan.” Fauzan maju, rahangnya mengeras, menerima penyematan yang sama penuh kehormatan. “Kau banyak bertanya di lapangan,” kata jenderal rendah dengan suara yang hanya terdengar olehnya, “jangan pernah berhenti. Tapi pastikan kau juga bersedia mendengar.” “Siap.” “Sersan Dua Sari.” Ketika Sari melangkah dengan penuh percaya diri, jenderal menatap luka kecil di pelipisnya yang menjadi saksi perjalanannya. “Tak banyak yang bertahan sebagai penopang di tengah kekacauan yang melanda. Kau adalah salah satunya. Jangan biarkan rasa bersalah mengalahkan rasa tanggung jawab yang harus kau pikul.” Sari mengangguk dengan tenang, suaranya pelan tapi mantap. “Siap.” Nama demi nama dipanggil, giliran mereka tiba satu persatu: Fahri, Bima, Dito, Tono, Maya, Amira. Setiap penyematan disertai dengan kalimat pendek, semacam pesan yang lebih bersifat pribadi yang memberikan dorongan moral, ditujukan kepada apa yang jenderal lihat di mata mereka masing-masing. Hasan berdiri mengamati dengan seksama, sedikit tersenyum ketika tiba giliran Bima—yang harus maju pelan dengan bantuan tongkat yang digenggam erat di tangan. “Kau jalan tertatih sekarang,” kata jenderal kepada Bima dengan penuh perhatian, “tapi banyak yang tidak bisa berjalan sama sekali karena tidak punya keberanian yang sama seperti yang kau miliki.” “Siap, Jenderal,” jawab Bima, suaranya serak namun penuh dengan tekad yang membara. Upacara resmi diakhiri dengan hormat bendera dan teriakan yel-yel semangat. Setelah formasi dibubarkan secara resmi, kerumunan siswa mulai bergerak perlahan, sebagian mendekati barisan kecil survivor dengan ekspresi campuran kagum, hati-hati, dan penasaran yang bercampur aduk. Beberapa hanya berani melirik dari jauh, yang lain mencoba menyapa dengan sedikit kikuk. Seorang siswa—rambutnya masih sangat rapi, wajahnya nyaris polos tanpa bekas kerasnya medan yang dirasakan para survivor—mendekati Rizal dan Fauzan. “Bang,” katanya dengan pelan dan penuh rasa penasaran, “dengar-dengar... di sana benar-benar... seburuk itu?” Fauzan hendak menjawab dengan bercanda untuk mencairkan suasana, tetapi Rizal lebih dulu bicara dengan tenang. “Lebih buruk,” katanya singkat dan tegas. “Dan lebih rumit dari yang bisa diceritakan di lapangan apel.” Ia menepuk bahu siswa itu dengan penuh pengertian. “Yang penting, kalian belajar serius dan sabar. Kalau suatu hari kalian dikirim ke tempat seperti itu, kalian siap, bukan cuma kuat badan, tapi kuat kepala.” Siswa itu mengangguk dengan cepat, penuh dengan semangat. “Siap, Bang. Selamat atas pangkatnya. Semoga sukses selalu.” Di pinggir lapangan yang mulai lengang, di bawah pohon yang berdiri kokoh, Rangga menyandarkan punggungnya yang lelah ke batang pohon. Ia memperhatikan dari jauh semua peristiwa, tanpa seragam, tanpa pangkat resmi yang mengekang. Hasan mendekatinya, dua cangkir kopi panas di tangan yang siap dibagi. “Kau seperti orang yang melihat dunia lain,” komentar Hasan sambil menyerahkan satu cangkir kopi yang mengepulkan aroma hangat dan menggugah selera. “Lumayan,” jawab Rangga datar, menerima kopi yang diberikan. “Di hutan, upacara seperti ini tidak ada. Hanya pohon dan batu yang jadi saksi.” “Di sini pun,” gumam Hasan, menatap lapangan yang perlahan mulai sepi, “Kadang saksi yang paling jujur bukanlah manusia yang hadir.” Rangga meliriknya dengan sedikit keraguan. “Kau yakin dengan bijak mengajak saya dalam ‘permainan kota’ ini? Saya bukan tentara. Tidak punya pangkat. Tidak punya perlindungan yang bisa dijadikan tameng.” “Justru itu,” kata Hasan dengan tegas. “Kau tidak terikat seperti kami yang terikat oleh aturan. Ada hal-hal yang lebih mudah dilakukan orang yang tidak resmi tercatat di struktur resmi. Dan kamu... sudah terbiasa menjadi orang yang ‘tidak terlihat’ yang beroperasi di bayang-bayang.” Rangga tertawa singkat, tanpa humor yang mengiringi. “Kedengarannya seperti pujian yang berbahaya dan mengandung risiko.” “Bisa jadi,” sahut Hasan dengan yakin. “Tapi dunia yang akan kita masuki juga berbahaya. Sindikat ini bukan hanya soal ritual seperti di hutan yang menakutkan. Mereka punya rekening, kantor yang terorganisir, dan mungkin, bahkan teman di antara orang-orang yang hari ini berdiri di podium menyaksikan.” Sementara itu, di sisi lain lapangan yang lengang, Sari dan Amira berbicara secara pelan. “Rasanya aneh,” kata Sari, menatap pangkat di pundaknya yang baru ia terima. “Dulu kita membayangkan momen ini digelar dengan keluarga di tribun menyaksikan, foto-foto, mungkin sedikit tawa yang melebur. Bukan setelah... semua kejadian mengerikan itu.” Amira menghela napas panjang. “Tapi kalau dipikir, kita memang sudah terarah ke sini. Jalan kita memang menuju ke sini. Bedanya cuma rute dan medannya.” Ia menatap ke arah gedung staf, di mana Kolonel Hendra baru saja masuk dan menghilang di balik pintu. “Dan rute kita... dipaksa memutar jauh ke dalam sesuatu yang orang lain tidak akan percaya tanpa saksi.” Fahri bergabung, menyelip di antara mereka dengan santai. “Aku baru sadar satu hal,” katanya. “Di sana, di lembah dan rawa yang penuh misteri, kita selalu bertanya: ‘siapa yang mengendalikan semua ini dan kapan ini akan berakhir?’ Sekarang, di sini, pertanyaannya tidak hilang begitu saja. Cuma berganti bentuk. Dari altar batu jadi ruang rapat dan layar monitor yang mengawasi setiap gerakan.” “Dan suara-suara itu?” tanya Amira hati-hati dengan sedikit ragu. Fahri menatap langit yang mulai cerah pasca hujan. “Lebih pelan,” jawabnya. “Kadang muncul, tapi bukan untuk menakut-nakuti. Lebih seperti... pengingat tentang apa yang pernah kita lalui. Kalau kita mulai berpikir bahwa semua ini hanya soal kenaikan pangkat dan gaji, mereka mengingatkan: ada yang mati untuk sampai di sini dengan bekas luka yang tak terlihat.” Bima mendekat pelan, tongkatnya mengetuk aspal. “Jika hari ini hanyalah upacara formal untuk menyambut, maka besok kita mulai dengan sesuatu yang baru. Mereka sudah bilang kan? Kita akan disebar ke berbagai tempat, seolah-olah masuk program rehab, tapi sebenarnya mengawasi titik-titik yang mereka curigai dan pantau.” Tono mengangguk dengan mantap, setuju. “Aku mendengar dari Kolonel. Kita akan ditempatkan di berbagai ‘peran sipil’: ada yang di badan keamanan masyarakat, ada yang di yayasan amal, ada yang di kantor pemerintahan yang menyangkut berbagai proyek. Seolah-olah ini proses adaptasi prajurit ke lingkungan baru yang lebih luas. Padahal...” “Padahal kita diminta jadi mata dan telinga yang bergerak,” sambung Dito dengan mantap. “Mencari pola di tengah keramaian kota yang sibuk dan tidak mudah dibandingkan dengan medan perang. Bedanya, di sini, musuh tidak pakai topeng tengkorak yang menakutkan. Mereka pakai jas.” Maya menatap mereka satu per satu dengan percaya diri. “Kita sudah sepakat kan?” katanya penuh keyakinan. “Tidak ada aksi nekat sendiri yang gegabah. Apapun yang kita lihat, kita laporkan dulu bahkan sampai detail. Kita sudah cukup sering hampir mati tanpa backup.” “Sepakat,” kata Rizal, yang bergabung kembali usai dipanggil sebentar oleh Kolonel untuk koordinasi. “Di hutan, kita belajar bertahan hidup dengan keras. Di kota, kita harus belajar bertahan secara waras dengan segala rintangan. Itu dua hal yang berbeda dari segi mental dan fisik.” Hasan dan Rangga mendekat, lingkaran itu kini lengkap dalam keheningan. Mereka berdiri di tengah lapangan yang mulai kosong, di tengah suara yang jauh dari mobil dan motor dari kampung sebelah yang terdengar samar, di bawah langit yang pelan-pelan membuka awan kelabu. Dari kejauhan, sirene kota terdengar samar dan terputus-putus, mengingatkan bahwa di luar pagar batalyon, kehidupan terus berjalan menjadi normal—orang bekerja, nongkrong di kafe, menonton berita malam tentang berita terkini yang tidak ada hubungannya dengan lembah misterius, rawa yang ganas, atau punggung gunung yang menjadi saksi. “Mulai hari ini,” ujar Rizal pelan dengan penuh wibawa, “kita adalah tentara resmi yang terlatih. Tapi misi kita tidak berhenti di sini begitu saja. Kita mungkin akan pakai seragam yang berbeda, bahkan mungkin pakaian sipil. Tapi apa yang kita lihat di hutan... tidak bisa kita kembalikan ke dalam mimpi yang indah.” Rangga menatap gerbang batalyon yang menjulang tinggi. “Dan apa yang menunggu di luar sana,” tambahnya dengan penuh kewaspadaan, “mungkin lebih rumit daripada apa pun yang kita hadapi di hutan. Karena di hutan, ancamannya jelas dan menggigit. Di kota, ancamannya tersenyum dan menyapa.” Mereka tidak tertawa. Tidak ada yang membalas dengan candaan ringan. Hanya ada kesepakatan sunyi yang tidak terucapkan yang mengikat mereka lebih kuat daripada pangkat: mereka akan melangkah ke “kota” bukan sebagai korban yang selamat dari tragedi, tetapi sebagai orang-orang yang tahu bahwa di balik sirene dan lampu kota yang gemerlap, selalu ada bayang-bayang yang memilih bersembunyi di belakang layar yang rumit andai mereka terlena. Ini menutup satu pintu—pendidikan resmi, pangkat yang mereka raih, barisan apel kebanggaan—dan membuka pintu lain: penugasan baru di tengah kota yang tampak biasa dan damai, di mana sindikat yang dulu bersembunyi di balik ritual kini bergerak di balik kontrak bisnis, yayasan amal, dan panggung politik yang menggoda. Mereka kini punya status, punya pangkat yang menjulang, tapi juga punya sesuatu yang jauh lebih berat dan berarti: pengetahuan bahwa perang yang sebenarnya baru akan dimulai dalam dimensi yang berbeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN