Rencana Gagal

2190 Kata
Abrisam baru menjadi seorang dosen selama enam bulan, tetapi hanya dosen pengganti. Ia akan berhenti jika dosen yang digantinya sudah dapat mengajar kembali. Atau, pihak kampus yang sudah menemukan dosen lain karena Abrisam sendiri memang tidak memenuhi kualifikasi sebagai dosen tetap. Selama enam bulan itu, Abrisam sedikit mengenal seperti apa Sabila, yaitu pintar dan mudah mengerti dengan materi-materi yang dijelaskannya. Pria berusia 32 tahun itu seorang duda anak satu. Sikapnya terbilang acuh terhadap wanita, tepatnya cinta. Jika hubungannya bersama sang kekasih kandas, perlu beberapa tahun kemudian untuk menjalin kasih dengan wanita baru. Bukan susah move on, ia hanya tidak mementingkan percintaan. Padahal, wajah Abrisam mencerminkan orang yang berpendidikan, pintar, dan dewasa. Tak heran, ia begitu digandrungi banyak mahasiswi cantik di kampus. Namun, Abrisam tak pernah merespons apa pun dan bersikap profesional sebagai dosen. Selain tidak peka, ia pun sulit untuk jatuh cinta. “Pak, Pak, Pak, berhenti, berhenti.” Sabila meminta mobil berhenti dengan cepat. Abrisam langsung menurut tanpa bertanya. Sedangkan Sabila, segera keluar dari mobil, lalu menghampiri seorang gadis yang sedang berjalan sendirian. “Ran?” Sabila mengagetkan Rani yang langsung mengangkat wajahnya. “Kakak!” Rani tersenyum kegirangan. “Kamu ngapain di sini?” tegur Sabila tak santai, khawatir. “Ayah marah-marah terus di rumah karna gak ada makanan.” Wajah Rani yang semula cemberut, berubah ketika menyadari sesuatu. Ia pun bertanya seraya menelisik penampilan sang kakak dari atas sampai bawah, “Kakak dandan? Mau ke mana?” “Lagian, ngapain kamu pulang? 'Kan udah Kakak suruh nginep di rumah temen kamu.” Sabila balik mengomel tanpa ingin menyahuti perihal penampilannya. “Dicariin Ayah, disuruh nginep di rumah. Minta dibikinin makanan, padahal udah tau nggak ada bahan makanan di dapur.” Rani mengeluh. “Bentar.” Sabila meminta Rani untuk menunggu, sedangkan dirinya menghampiri mobil Abrisam. “Pak, boleh ... minta uangnya dikit? Ma—maksudnya sepuluh ribu aja,” ucapnya yang sebenarnya sungkan, tetapi dipaksakan karena tidak ada pilihan. Sempat celingukan beberapa detik, Abrisam akhirnya mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya, tidak ada uang kecil. Sabila terpaksa mengambil uang itu, lalu berjalan ke arah warung nasi yang masih di sekitar sana bersama Rani. Selesai membeli makan, Sabila lanjut membawa Rani ke dalam gang menuju rumahnya. Selain mengantarkan adiknya itu, ia pun ingin berganti pakaian yang tak nyaman dipakainya. Belum lagi, dirinya malah menjadi pusat perhatian beberapa orang termasuk tetangganya karena pakaian serta riasan yang ada. “Ke mana aja, hah? Ngapain pake baju kayak gitu? Mau ngikutin si Nadya?!” maki Erip ketika Sabila baru saja datang. Sabila malas menjawab, segera memasuki kamarnya. Rani yang memberikan nasi bungkus kepada ayahnya. Wajah pria itu tampak sedikit memar, mungkin habis ditampar atau bahkan dipukul oleh orang-orang tadi. “Assalamu'alaikum.” Suara seorang wanita seraya memasuki rumah. “Wa'alaikumsalam.” Erip membalas salam tanpa mau melakukan apa pun. “Marni drop lagi. Gak inget apa-apa.” Wanita itu, Ropah, kakak Marni melaporkan kondisi sang adik. “Lah, terus ngapain malah ke sini?” Erip malah terlihat bingung, tidak ada niatan untuk menemui istrinya. “Ditanyain ini itu sama dokter, aku gak bisa jawabnya.” Ropah mengeluh, akhirnya memutuskan untuk pulang. “Bil, Bila! Cepet ke rumah sakit!” Erip teriak-teriak tanpa mau bergerak dari tempat duduknya. Rumah itu sangat sempit, tentu Sabila dapat mendengar apa yang disampaikan Ropah. Ia tidak kaget mengingat bibinya itu adalah orang yang kolot, tak bisa berhadapan dengan seorang dokter. Belum lagi Ropah memang tidak tahu keseharian adiknya, apalagi mengetahui penyakitnya dengan jelas. Di dalam mobilnya, Abrisam menatap sekelilingnya tanpa minat. Mulai menduga-duga bagaimana kehidupan Sabila, sepertinya gadis itu sangatlah kekurangan dalam hal materi. Ia tahu Sabila malu saat tadi meminta uang sepuluh ribu, tetapi gadis itu menutupi rasa malunya karena terpaksa. Tidak masuk akal jika Sabila bekerja sebagai PSK, tetapi uang sepuluh ribu saja tidak punya. Sedang asyik melamun yang tak penting, Abrisam melihat Sabila keluar dari gang sempit dengan pakaian comprang-campring andalannya. Wajahnya juga kembali seperti semula, kusam dan tidak memiliki daya tarik sama sekali. Sabila tidak datang sendiri, melainkan bersama Ropah. “Pak, antar ke rumah sakit dulu, ya.” Sabila duduk di kursi depan, sedangkan Ropah di kursi belakang. “Ngapain?” Abrisam menatap bingung. “Ngepel pos satpam! Ya jenguk orang sakit lah, Pak!” jawab Sabila tak santai. “Kamu pikir ini taksi?” Abrisam tak suka diperintah. “Pak, please, antar dulu ke rumah sakit. Bentar aja. Lagian, rumah sakitnya gak jauh dari sini.” Sabila tak malu memohon, terpaksa. Akhirnya, Abrisam mengangguk lemah. Tidak ada salahnya mengantarkan gadis itu ke rumah sakit lebih dulu. Alasannya apa, Abrisam tidak berniat untuk sekadar bertanya. Pikirannya mendadak kacau yang entah apa penyebabnya. Yang jelas, rasa-rasanya ia kehilangan semangatnya untuk melakukan apa pun. “Heh, jangan bilang mau kabur.” Abrisam memperingati saat Sabila akan keluar dari mobil, sedangkan Ropah sudah keluar lebih dulu dan langsung memasuki rumah sakit. “Masa kabur ke rumah sakit? Gak ada tempat lain apa?” Sabila jelas mengumpat, melotot kesal. “Bisa aja 'kan kamu gak masuk ke rumah sakit, malah naik kendaraan lain.” Abrisam hanya asal bicara. “Bapak ikut aja biar tau sendiri.” Sabila tak ingin dituduh yang tidak-tidak, sekalian biar dosennya itu tahu keadaan yang sebenarnya. “Dih, ngapain saya ikut.” Abrisam mengangkat bahunya ogah-ogahan. “Udah, ikut aja.” Sabila memaksa. “Kamu aja, tapi jangan lama.” Abrisam tak ingin repot-repot keluar dari mobil. “Pokoknya Bapak ikut!” paksa Sabila seraya keluar dari mobil. “Ini kok jadi dia yang maksa?” Abrisam menggaruk kepalanya dengan kesal. Tak ingin Sabila membukakan pintu dan mungkin akan menariknya keluar dengan paksa, Abrisam segera keluar dari mobil dan mengekori langkah wanita itu. Jaraknya tidak dekat, dan tidak ada yang menyadari bahwa kedua manusia itu datang secara bersamaan. Ketika Sabila memasuki ruang inap yang ditempati ibunya, Abrisam memutuskan untuk menunggunya di luar. Lagipula, untuk apa ikut masuk? Siapa yang sakit juga ia tak tahu karena tidak bertanya. Saat sibuk melihat orang berlalu-lalang di hadapannya, tiba-tiba ia mengeluarkan ponselnya yang berdering tanda panggilan masuk. “Bi, di mana kamu?” tanya paman Abrisam, Beni. “Di rumah sakit.” Abrisam menjawab malas. “Kamu ngapain pilih cewek itu?” Beni terdengar geram, menyalahkan, juga merendahkan. “Kenapa emang? Bukannya bebas milih?” balas Abrisam santai. “Nih, kakaknya mau ngomong.” Beni memberikan ponselnya kepada Nadya. “Pak, maaf, itu adik saya. Dia gak kerja gituan. Dia cuma ... dia gak mau dipilih. Maksud saya, dia cuma mau dapat sedikit uang sebagai yang tidak terpilih. Ngerti 'kan maksudnya?” Nada bicara Nadya terdengar tak enak. “Jadi?” Abrisam pura-pura tak mengerti. “Pilih cewek lain aja. Dia suruh pulang.” Suara Beni kembali menyapa. “Bukannya kamu lagi di rumah sakit? Ngapain?” tanyanya kemudian. “Nganter cewek itu, jenguk orang sakit,” jawab Abrisam apa adanya. “Loh? Ngapain dianter segala? Kamu balik aja ke tempat tadi, bawa satu cewek lagi.” Beni kembali menggeram kesal. Untuk apa mengantarkan Sabila? Selain Nadya, Beni juga tidak tahu bahwa sebenarnya Abrisam dan Sabila saling kenal. “Hm.” Abrisam hanya berdeham malas, lalu mengakhiri panggilan. Mengingat kembali penolakan Sabila dan perkataannya tadi, ternyata wanita itu tidak asal bicara. Awalnya Abrisam tidak percaya, menganggap ucapan Sabila hanya bualan semata. Namun, penilaian-penilaian negatif yang semula hinggap di kepalanya hilang seketika saat Nadya memberitahu kenyataannya. Pantas saja Sabila tidak memiliki uang sepuluh ribu saja, itu pun untuk membeli makan adiknya. Ahhhh, gagal sudah rencana Abrisam. Padahal, ia sudah membayangkan gaya kuda lumping kesurupan, gaya kadal mesir, gaya batu yang cuma diem sambil ... ah baiklah, lupakan saja! Abrisam anak baik, bisa yuk gak ngeres gitu. Lagi pula, Sabila masih bocil menurut pandangan Abrisam sendiri. Jelas saja, selisih usianya sampai 12 tahun! Tak lama dari itu, Sabila datang dengan wajah bingungnya. Tatapannya tak dapat diartikan, persis seperti ingin berkata sesuatu tetapi sulit mengatakannya. Abrisam telah membelinya, dan tidak bisa dibatalkan begitu saja. Nadya bilang yang terpilih akan mendapatkan uang belasan juta. Salahkah Sabila yang merasa senang akan mendapatkan uang tanpa memikirkan apa yang seharusnya ia korbankan? Belasan juta, sepertinya ia tidak memerlukan uang tambahan dari Nadya seperti yang dikatakan wanita itu tadi untuk melunasi hutang Erip. “Kenapa? Ngapain liatin saya kayak gitu?” tegur Abrisam tak suka. “Nggak apa-apa, Pak. Kita mau lanjut ke mana, nih?” tanya Sabila malas. “Kamu mau terima pembelian?” Abrisam menatap penuh selidik. Sabila bingung dibuatnya. Ia pun bertanya secara bertubi-tubi, “Emang bisa gak jadi? Bukannya Bapak sendiri yang maksa? Bapak—” “Saya udah tau.” Abrisam mengangguk malas, menghentikan pidato Sabila. “Tau apa?” Sabila bingung. “Soal kamu yang pura-pura kerja gituan.” Abrisam menjelaskan. “Berapa yang kamu butuhkan?” tanyanya. Sabila terdiam sesaat, mencerna dengan baik ucapan Abrisam. Pria itu sudah tahu dirinya hanya berpura-pura menjadi seorang PSK? Tapi, mengapa menawarkan nominal? Ini maksudnya penawaran baru, apa gimana? Seakan tahu apa yang dipikirkan Sabila, Abrisam berkata cetus, “Saya mau sedikit bantu kamu, bukan berarti saya mau apa-apain kamu. Punya otak kok ngeres.” Tak terima dibilang otak ngeres, Sabila langsung mengoceh, “Lagian Bapak bilang udah tau, tapi malah nanya mau berapa. 'Kan ambigu. Gak salah kalo aku bingung, Bapak itu—” “Butuh uang gak, sih? Ditawarin malah ngajak ribut.” Abrisam menyela ucapan, tak ingin mendengar omelan. “Gak jadi, deh.” Sabila menggelengkan kepalanya dengan kesal. “Kenapa?” Abrisam penasaran. “'Kan Bapak juga gak jadi itunya.” Sabila bingung sendiri menjawabnya. “Kalau seandainya jadi, emang kamu butuh berapa?” Abrisam sengaja bertanya dengan santai, hanya ingin mengetahui jawabannya secara baik-baik. “Kalo totalannya gak tau, sih. Mungkin sekitar lima juta atau bahkan lebih,” jawab Sabila tak yakin. “Cuma segitu?” Abrisam melongo, nominal sekecil itu akan Sabila tukar dengan kehormatannya? “Cuma? Uang segitu buat saya mah besar, Pak!” Sabila kembali meradang. “Oke, oke. Jangan ngajak debat di sini.” Abrisam mulai bosan dengan nada darting-nya Sabila. Ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang yang tidak dihitung dulu, lalu menyodorkannya kepada gadis itu. “Nih.” “Ini apa dulu? Bapak minjemin apa gimana?” Sabila meminta kejelasan. “Udah, pake aja dulu.” Abrisam juga tak tahu alasannya ingin memberikan uang. “Tambahin seratus bisa, gak?” pinta Sabila tanpa tahu malu. “Buat?” Abrisam menatap malas. Bukannya berterima kasih, itu cewek malah minta tambah. Definisi diberi hati malah minta jantung. Emang rada-rada, harap maklum aja. “Buat makan,” jawab Sabila jujur. “Kita cari tempat makan sekitar sini.” Abrisam lalu berbalik bermaksud keluar dari kawasan itu untuk mencari makan. “Tapi, kayaknya mending aku minta seratus ribu aja.” Sabila menawar, berjalan di belakang tubuh tinggi Abrisam. “Kenapa?” Abrisam tentu bingung. “Makan aku paling dua puluh ribu, sisanya masih lumayan 'kan, tuh.” Sabila sudah mempertimbangkan pengeluarannya, takut-takut hanya dikasih makan saja tanpa uang tambahan. “Ikut aja, sih.” Abrisam berdecak malas. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya Sabila berduaan dengan seorang pria. Percaya atau tidak, di usianya yang bukan ABG lagi, ia belum pernah memiliki kekasih. Bukan tidak normal, tetapi justru penampilan serta sikapnya yang membuat pria-pria menghindarinya bagai wabah virus. Sudah beberapa kali ia menyukai seorang pria, tapi jangan harap akan mendapatkan balasan yang sama. “Nasi goreng aja, Mas.” Sabila memesan makanannya di rumah makan sederhana. “Samain aja,” pinta Abrisam tak keberatan. “Jadi, kamu pura-pura kerja jadi cewek gituan buat bayar perawatan ibu kamu? Atau ada alasan lain?” tebak Abrisam yang mendapatkan gelengan di kepala Sabila sebagai jawaban. “Biaya kuliah?” tebaknya lagi, tetapi lagi-lagi Sabila menjawab 'tidak' dari kepalanya. “Terus?” Abrisam meminta jawaban jelas. “Gak usah tau, deh.” Sabila malas memberitahu. “Kenapa emang?” Abrisam malah semakin penasaran. “Ribet kalo dijelasin. Mending-mending kalo percaya, kalo nggak? Percuma dong ngasih tau.” Sabila malas bercerita, apalagi kepada orang baru seperti Abrisam. “Cerita aja belum, gimana mau percaya?” Abrisam mendesah kesal. “Uang itu buat bayar utang Bapak saya, Pak.” Akhirnya, Sabila mau menjawab jujur juga. “Loh? Terus, bayar rumah sakit uang dari mana?” Abrisam ingin tahu. “Gratis, Pak. Ada kartu kesehatan,” jawab Sabila apa adanya. Obrolan pun terus berlanjut ke sana ke mari. Tidak, lebih tepatnya Abrisam yang mendadak menjadi seorang wartawan, bertanya ini dan itu, terutama tentang keluarga Sabila. Abrisam memang baru pertama kali bertemu Nadya, tetapi ia sudah dapat melihat perbedaan yang signifikan. Nadya terlihat berkelas, tetapi Sabila malah sebaliknya. Bukankah mereka bersaudara? Pantaskah Abrisam merasa iba dan penasaran tentang muridnya lebih banyak? Walau dirasa tidak penting, Sabila tetap menjawab seadanya. Ia pun menceritakan tentang orangtuanya yang telah lama berpisah, ayah tirinya yang senang berjudi, hingga menceritakan tentang Nadya. Bukan maksud Sabila yang ingin mengumbar aib keluarganya, tetapi mau bagaimana lagi, Abrisam terus bertanya seputar keluarganya. Dalam kebersamaan itu, mereka sama-sama lupa waktu, lupa sedang berbincang dengan siapa. Abrisam lupa bahwa wanita yang sedang bersamanya kini adalah muridnya, begitupun dengan Sabila yang lupa bahwa pria itu adalah dosen pengganti di kampusnya. Obrolan yang asyik, tentunya membuat keduanya merasa nyaman seperti sedang mengobrol bersama seorang teman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN