Dicari-cari Bapak Muda

2246 Kata
Uang 'pembelian' tetap Sabila terima sebesar tiga belas juta secara bersih. Hal itu karena Abrisam yang meminta pamannya agar meng-deal-kan pembayaran walau sebenarnya ia sendiri tidak melakukan apa pun sebagai pembeli. Biarlah, semoga uangnya dapat digunakan sebaik mungkin oleh Sabila. Apa Abrisam tidak sayang perihal uang itu? Jawabannya tentu tidak, karena bukan uangnya, tetapi uang pamannya. Mendapatakan uang sebesar itu tanpa melakukan apa pun dalam waktu sekejap, tentunya membuat Sabila syok bukan main. Kemarin pagi Nadya datang ke rumah dan menyerahkan uang kepada Sabila. Masalahnya, ternyata uang itu masih tidak cukup untuk melunasi hutang Erip kepada beberapa orang. Tapi setidaknya, mereka tidak mengancam akan menjual rumah lagi. “Nong, gimana kabar ibu lo?” Dea menyapa Sabila yang baru saja datang. “Masih gitu-gitu aja, sih.” Sabila menjawab malas, tetapi sesaat kemudian ia berkata dengan rengekannya yang menyebalkan, “Entar sore nengok dong, bawa buah-buahan yang banyak. Sekalian bakso, nasi padang, martabak, boba, seblak—” “Wah, wah, wah, si Jenong minta dikirim ke pluto, nih.” Bobby segera menghentikan bacotan Sabila yang akan selesai hingga sinetron tamat. “Itu mah maunya elo!” Felicia dengan mulusnya melayangkan toyoran di kepala Sabila. “Dasar! Huuu.” Luna menyoraki, dan yang lainnya ikut-ikutan. Sabila hanya diam, malas menanggapi. Ia lebih tertarik mengambil minuman dan camilan teman-temannya di saat mereka lengah. Karena jika mereka sadar minuman atau camilannya akan dirampas, mereka akan sigap menjauhkannya. “Tuh, tuh, udah patroli lagi dia.” Sandi berseru, mengarahkan matanya ke tempat lain. Sontak, mereka semua termasuk Sabila mengikuti arah pandang Sandi secara bersamaan. Di depan sana, ada Abrisam yang sedang berjalan entah mau ke mana. Pergerakannya terlihat tidak biasa, seperti sedang mencari sesuatu yang entah apa. Pria bertubuh tinggi dan berkharisma itu tak pernah memakai pakaian formal seperti dosen lainnya, ia selalu berpakaian biasa bahkan santai seperti para mahasiswa. Bahkan, tidak sedikit yang mengiranya seorang mahasiswa karena wajahnya yang terlihat masih sangat muda. “Gue bingung, Pak Abi lagi nyari dompet jatoh apa gimana, sih?” kata Dea penasaran. “Samperin, gih. Siapa tau butuh bantuan,” titah Felicia kepada Bobby dan Sandi. “Dia gak minta tolong, ngapain dibantu?” Sandi menggidikkan bahunya dengan gaya centil. “Kenapa sama Pak Abi?” Sabila tak tahu apa yang terjadi. “Dari tadi bolak-balik gak jelas. Dia pikir di sini ada janda apa,” sahut Bobby seenaknya. “Jir, otak lu janda mulu. Siapa tau Pak Abi maunya yang ting-ting.” Dea bersungut-sungut. “Gue do'ain jodoh lo janda, baru tau rasa!” umpat Felicia jengkel perkara Bobby selalu mengungkit janda seolah perawan sudah gulung tikar. “Emang kenapa sama janda? Sama-sama cewek.” Bobby tak terima janda dipandang sebelah mata. Baginya, janda selalu menggoda. Baru beberapa menit menghilang dari pandangan, Abrisam kembali terlihat seperti sengaja berbalik arah. Tapi kali ini, pandangannya tertuju ke arah Sabila and the gengs. Seketika itu juga, Sabila dan yang lainnya mengalihkan pandangan seakan tidak melihat adanya Abrisam. Mereka saling menunduk, berbicara tak jelas seolah sedang mengobrol sesama manusia. “Kok liat ke arah kita? Ini siapa yang lagi diliatin Pak Abi, sih?” bisik Felicia bingung sendiri. “Gue jadi merasa bersalah. Gue tidur di kelas tadi.” Luna ikut berbisik dengan wajahnya yang tak enak. “Ah, gak aneh gue. Jenong dong, tidurnya di lantai langsung.” Bobby memukul-mukul punggung Sabila, menunjuknya sebagai murid paling santuy. Saat melirik ke arah lain, Sabila melihat Abrisam masih ada di sekitar sana, menatapnya dengan intens. Dari tatapannya itu, sepertinya Abrisam meminta Sabila untuk menemuinya? Duh, Sabila 'kan jadi salting, padahal belum pasti juga apa itu yang dimaunya atau bukan. Tapi, tidak ada salahnya untuk menemuinya, bukan? “Gue samperin, ah. Kasian anak orang, ganteng-ganteng kok kayak orang linglung.” Sabila berdiri dari tempat duduknya, tetapi sebisa mungkin tetap terlihat santai seolah tidak pernah terjadi apa pun bersama Abrisam sebelumnya. “Sejak kapan lo manusiawi? Biasanya juga hewani anjir.” Sandi menatap bingung, dan yang lainnya juga demikian. Saat didekati, Abrisam malah menjauh, terus berjalan entah akan ke mana. Tapi, tatapannya seolah berkata ‘ikuti aku’, maka dari itu Sabila terus mengikutinya. Siapa tahu saja pria kesepian itu butuh teman bicara, bukan? Ah tidak, Sabila-nya saja yang terlalu percaya diri. Ternyata, Abrisam masuk ke dalam ruangan para dosen. Dari dalam, kepalanya mengangguk singkat, memberikan isyarat agar Sabila ikut masuk. Sabila enggan, takut di dalam ruangan tersebut ada dosen lain. Tapi, sepertinya di dalam tidak ada siapa pun dan sebagian dosen memang memiliki ruangan masing-masing. “Kamu saya cari dari tadi. Ke mana aja?” Abrisam mengoceh kesal. “Lah, lagian aku dapet kelas sore, Pak. Makanya datang jam segini,” jawab Sabila santai, malah terlihat aneh dengan kekesalan dosennya yang tanpa sebab. “Kamu tau Cafe Classic?” tanya Abrisam tak sabar. “Yang tempatnya kayak buat pembagian sembako itu?” Sabila ingin memastikan kafe yang dimaksud Abrisam, yaitu kafe yang sangat ramai. “Tau tempatnya, nggak?” Abrisam butuh jawaban. “Tau.” Sabila mengangguk cepat. “Nanti pulang kuliah, temui saya di sana.” Abrisam lega. “Wah, Bapak ngajak nge-date?” Mata sabila langsung berbinar, cengiran percaya diri muncul di bibirnya begitu saja. Tak pernah sekalipun ada pria yang mengajaknya berkencan, baru Abrisam seorang. “Gak usah cengar-cengir dulu. Saya ada perlu, tapi nanti aja.” Abrisam langsung bernada cetus, membuat lawan bicaranya cemberut seketika. “Oh, iya, saya minta nomor kamu biar gampang hubungi,” lanjutnya sambil mengeluarkan ponselnya, bersiap untuk mencatat. “Gak punya hp.” Sabila menggeleng pelan. “Apa?!” pekik Abrisam tak percaya. “Pak, jangankan buat beli hp, laptop aku yang suka ngadat aja kredit, Pak.” Sabila mengeluh, mengingatkan kondisi ekonominya yang sulit. “Kak.” Viona mememasuki ruangan. Melihat adanya Sabila bersama kakaknya, ia bertanya cetus, “Ngapain lo di sini?” “Yon, ada apa?” Abrisam berhasil mengalihkan pandangan sang adik. “Aku mau ikut pulang,” jawab Viona seraya menatap aneh ke arah Sabila. “Tunggu di mobil.” Abrisam mengangguk satu kali, memberikan isyarat agar adiknya itu pergi. “Tapi, Kakak—” “Duluan aja, Yon.” Abrisam memaksa, tak ingin mendengar pertanyaan perihal adanya Sabila di sana. Viona Angelista atau sering disapa Yona adalah adik bungsu Abrisam. Wanita sombong dan cetus itu juga seorang mahasiswi di sana. Berkat kecantikannya, ia memiliki gelar primadona di kampus. Bukan rahasia lagi jika seorang dosen bicara dengan muridnya, tetapi entah mengapa Viona merasa ada yang aneh dari kebersamaan Abrisam dan Sabila di ruangan itu. Terlebih, kakaknya itu seolah menghalanginya untuk bertanya langsung kepada Sabila. Di dalam ruangan, Sabila dan Abrisam saling tatap tanpa melakukan apa pun. Bukan, Abrisam bukan sedang memperhatikan wajah muridnya dengan kilatan tertarik, tetapi ia sedang membunuh waktu, memperkirakan apa Viona sudah sampai ke parkiran tempat mobilnya berada atau belum. Sabila juga tampak kikuk, entah dosennya itu sudah selesai bicara atau belum, ia tetap diam di sana. “Ngapain?” Sabila bingung. “Ya, diem. Emangnya kamu mau saya apain?” sahut Abrisam sembarangan. “Dih, biasa aja kali. Katanya ngajak nge-date, tapi ngomonnya sinis gitu,” gerutu Sabila bingung sendiri. Itu orang maunya apa?! “Siapa juga yang ngajak kamu nge-date?” Abrisam balik menatap sinis. “Loh? Tadi Bapak minta aku ke Cafe Classic.” Sabila makin tak mengerti. “Saya ada perlu sama kamu, bukan berarti saya ngajak nge-date!” Abrisam menekankan ucapannya dengan gemas. “Kenapa gak bilang sekarang aja? Sok romantis banget ngomong di kafe,” cibir Sabila yang lagi-lagi bernada sinis. Tadinya ia pikir Abrisam pria yang romantis, tetapi ternyata penilaiannya sangat salah. “Saya gak ada waktu.” Abrisam melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian berkata sebelum akhirnya pergi, “Saya tunggu di Cafe Classic.” Apa yang akan dikatakan Abrisam nanti? Sabila sangat penasaran. Ia tidak pernah bicara berduaan dengan seorang pria kecuali temannya yaitu Bobby dan Sandi. Wajar saja, pertemuannya bersama Abrisam malam itu memberikan kesan tersendiri untuk Sabila. Terlebih, sosok dewasa seperti Abrisam adalah idamannya. Masa bodoh dengan selisih tahun yang begitu jauh, masa bodoh juga dengan status pria itu yaitu duda. Pukul lima sore, Sabila baru selesai dengan mata kuliahnya. Tak menanggapi ajakan teman-temannya untuk berkumpul, ia malah segera berangkat menuju Cafe Classic. Kafe itu sangat terkenal, tetapi jangan tanya apakah Sabila pernah ke sana atau tidak, karena jawabannya tentu tidak. Kafe mewah bergaya esthetic, menunya tidak ramah dikantong kebanyakan remaja yang pas-pasan apalagi kekurangan seperti Sabila. Memasuki Cafe Classic, kehadiran Sabila menjadi banyak perhatian para pengunjung lainnya. Tidak perlu dijelaskan, out fit tidak jelas modelnya seolah tidak layak berada di kafe itu. Namun, Sabila adalah Sabila, mana mungkin ia mau menggubris orang-orang yang tidak dikenalnya di sana. Lagipula, tujuannya datang adalah untuk menemui seorang pria yang sedang dadah-dadah di salah satu meja. “Pak, langsung aja mau ngomong apa. Aku gak ada waktu.” Sabila tak bisa berlama-lama walau sebenarnya ingin, sangat ingin. “Wah, sibuk banget kayaknya, ya?” Abrisam malah menyanjungnya. “'Kan Bapak tau sendiri, ibu aku lagi dirawat di rumah sakit.” Sabila menatap lelah. “Santai, pesan makanan atau minuman dulu.” Abrisam menawarkan dengan bijaksana dan bijaksini. “Emang boleh?” Sabila mengejek melalui nadanya. “Kamu pikir saya bakal nyuruh kamu puasa?” Jelas saja, Abrisam langsung sinis. Apa gadis itu pikir ia pelit? Sabila sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Abrisam, lalu berbisik, “Pak, katanya di sini menunya mahal-mahal. Sayang uang Bapak, mending kasih ke aku aja, biar aku jajan di luar.” Abrisam menatap kosong, ingin sekali melakukan sesuatu. Melemparkan buku menu ke arah kepala Sabila misalnya? Tidak, Abrisam tidak sekasar itu, tenang saja. Lagipula, bukan kali ini saja gadis itu membuatnya kesal, bukan? Baiklah, Abrisam memang harus memiliki stok sabar untuk berhadapan dengan spesies seperti gadis bernama lengkap Sabila Khansa! Namanya saja yang bagus, tapi orangnya? Apa Sabila bilang? Menu di kafe tersebut mahal? Haruskah Abrisam mengatakan sarkasnya, mengungkapkan bahwa sebenarnya kafe itu miliknya? Ya, Cafe Classic itu adalah milik Abrisam pribadi! Tapi, tidak, tidak perlu, untuk apa bicara yang tidak penting kepada Sabila? Tujuan dari pertemuan ini karena ada sesuatu yang jauh lebih penting. “Pesan apa aja yang kamu mau, terserah mau makanan atau minuman apa.” Abrisam menyodorkan buku menu ke hadapan Sabila. “Dih, Bapak maksa?” Sabila berdecih dengan mimik jijiknya. “Aku suka mau loh kalo dipaksa,” celetuknya tanpa malu, mulai membuka buku menu. “Eh, serius boleh pesan apa aja?” tanyanya ingin memastikan. “Iya.” Abrisam mengangguk santai, padahal tinjunya sudah membulat di bawah meja. Tidak banyak yang Sabila pesan, hanya makanan dan minuman yang sempat viral tetapi ia tidak pernah mencobanya. Rasanya enak, pantas saja mahal-mahal. Sekali lagi, entah mengapa Abrisam memberikan kesan tersendiri untuk Sabila, seperti halnya membiarkan ia mencicipi makanan yang memang ia inginkan sejak lama. “Oh, iya, Bapak mau ngomong apa sebenarnya? Ini kita cuma diem-dieman aja?” Sabila celingak-celinguk tidak jelas, mulai bosan juga berada di sana tanpa melakukan apa pun. “Bantu saya, bisa?” tanya Abrisam lemah seolah tak ingin mengatakannya. “Bantu apa?” Sabila penasaran. “Pokoknya, kamu ikuti apa aja yang nanti saya minta.” Abrisam berujar tak jelas tanpa mengatakannya secara rinci. “Eh, bentar dulu, ikuti gimana maksudnya? Jangan aneh-aneh!” Sabila tentu memprotes, berpikir yang tidak-tidak. Abrisam mulai menceritakan masalahnya. Nanti malam, ibunya akan memperkenalkannya kepada seorang wanita. Abrisam tidak tahu siapa wanitanya, tapi sungguh, ia tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita itu atau sekadar berkenalan. Kejadian ibunya yang memperkenalkannya kepada seorang wanita pernah terjadi, dan berakhir dengan Abrisam yang menikahi mantan istrinya tanpa didasari cinta. Sekarang, ibunya itu berniat untuk menjodohkannya kembali. Abrisam tidak memiliki kekasih, itu masalahnya. Andai ia memiliki kekasih, sudah sejak lama ia kenalkan kepada sang ibu agar ibunya itu tidak selalu mengungkit tentang wanita. Kegagalannya berumah tangga tak ingin Abrisam alami kembali, tepatnya ia tak ingin dijodohkan lagi bagaimanapun caranya. Mengingat Sabila pernah menerima sejumlah uang 'pembelian', Abrisam berharap gadis itu mau membantunya, berpura-pura menjadi kekasihnya hanya untuk menghindari perjodohan. Entah jalannya benar atau tidak, Abrisam tidak memiliki waktu untuk memutuskan. Bukan minggu depan, bukan besok malam, tetapi malam ini! Tidak ada waktu lagi, ia harus cepat bertindak. “Gimana?” Abrisam meminta jawaban. “Aku gak yakin, Pak. Emang ibunya Bapak bakal percaya kalo aku pacarnya Bapak?” Sabila malah balik bertanya. “Percaya.” Abrisam mengangguk pasrah, terpaksa. “Kita ke butik dulu, nyari dress buat kamu. Sekalian nanti kamu dirias, kayak malam itu. Agak mendingan kamu diliatnya.” “Mendingan apanya? Tolong jangan setengah-setengah.” Sabila sengaja menuntut, ingin mendengar kata 'cantik' dari bibir Abrisam. “Semuanya. Muka kamu gak kucel-kucel amat, pakaian kamu juga lumayan bagus,” jawab Abrisam setengah frustasi. “Bisa, nggak? Saya tanya,” lanjutnya menunggu jawaban pasti. “Iya, iya, Pak.” Sabila manggut-manggut, wajahnya cemberut, gagal mendengar kata 'cantik'. Abrisam memberikan sebuah briefing atau gambaran, apa saja yang akan terjadi nanti. Seperti halnya Abrisam yang akan memperlakukan Sabila layaknya kekasih, begitupun dengan Sabila kepadanya. Sedangkan Sabila, hanya manggut-manggut saja tanpa ingin ikut bicara. Walau tidak pernah melakukannya, sepertinya apa yang harus dilakukannya nanti itu mudah saja. Lagipula, ia diminta untuk tidak banyak bicara, artinya ia hanya akan diam penuh keanggunan. Sempat ingin menolak, tapi Sabila memiliki alasan untuk menerima permintaan Abrisam. Selain ingin 'berbalas budi' perihal uang yang sudah ia terima, ia pun penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti. Baru membayangkan menjadi kekasih Abrisam saja, hatinya sudah berbunga-bunga yang bermekaran. Meskipun hanya pura-pura, Sabila tak sabar untuk berakting nanti. Berharap pria itu akan memperlakukannya dengan sangat manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN