“Sabila, Tante seneng banget Abi mau lamar kamu. Katanya kamu masih kecil, tapi tau-tau ngomong ke Tante mau nikahin kamu. Ih, Tante gak percaya ini saking senengnya.” Wulan tersenyum lebar, kegirangan saat menyapa kedatangan Sabila. “Aku aja gak percaya, apalagi Tante.” Sabila menggaruk kepalanya dengan asal, tak tahu harus bereaksi seperti apa. “Udah, sesi hebohnya pindah ke dalem aja.” Abrisam mendorong tubuh Sabila agar masuk ke dalam rumah. “Oh, iya, kamu makan malam di sini, ya? Kita ngobrol di dapur sambil bantuin Tante masak,” kata Wulan, menarik tangan Sabila agar berjalan di sampingnya. “Siap.” Sabila langsung mengangguk sebagai calon menantu yang baik dan berbakti. Di belakang mereka, ada Abrisam yang sedang berjalan sambil komat-kamit. Entah sedang membacakan doa pengusira

