Kamar kecil yang biasanya hanya ditempati Marni, kini berdesakan bersama Sabila dan Adlan. Wanita yang akan segera menikah itu membalut tubuhnya dengan berbagai kain. Tidak hanya kaos polos yang menjadi dalamannya, tapi juga sweater tebal, ditambah jaket, sarung, dan yang terakhir selimut. Sudah lama Sabila tak pulang, wajar saja ia harus beradaptasi lagi dengan udara pegunungan yang sangat dingin, apalagi jika malam hari. Meski besar di sana, Sabila tetap harus 'berkenalan kembali' mengingat udaranya sangat bertolak belakang dengan Jakarta. Di sana, sebuah AC sangat tidak diperlukan. Adlan ternyata tipikal anak yang tidak rewel. Sejak ditinggalkan keluarganya tadi sore, ia tidak merengek ingin pulang. Dia juga anak yang aktif dan mudah bergaul. Tak heran, hubungan anak itu bersama seisi

