“Pak.” Sabila berhasil membuat seorang pria yang sedang berjalan terkaget-kaget.
“Astagfirullah.” Abrisam memekik keras, tak tahu wanita itu ada di belakang pot besar dekat ruangannya. “Sabila, kamu itu bikin kaget aja.”
“Ya selow Pak, selow.” Sabila menatap bersalah, baru sadar posisinya memang akan membuat siapa pun kaget.
“Selaw-selow, selaw-selow. Ngapain juga ngumpet di situ?” Abrisam tak habis pikir.
Sabila mengeluarkan sesuatu dalam tasnya, lalu memberikannya pada Abrisam. “Nih, makan siang buat Bapak. Aku perhatian banget, 'kan? Duh, siapa lagi yang bisa perhatian sama Bapak?”
“Kamu kayak ngasih bekal anak SD, Sabila.” Abrisam tersenyum geli.
“Ih, kata siapa? Aku udah kuliah aja bawa bekal, nggak harus anak SD aja.” Sabila membantah tegas atas opini membawa bekal adalah anak kecil. “Udah, bawa aja. Menunya makanan kesukaan Bapak, loh.”
“Percaya diri banget kamu. Emang tau makanan kesukaan saya?” Arbisam berdecih, malah bernada menantang.
“Tau dong, maklum calon cenayang.” Sabila bergaya sombong diiringi cengiran menggoda.
“Terima kasih.” Abrisam mengangguk, tidak ada salahnya menerima pemberian Sabila, pikirnya.
“Senyum dikit, kek. Gak rugi, 'kan?” Sabila tak puas, yang ia inginkan bukan hanya ucapan terima kasih, tetapi senyum manis juga.
Abrisam menatap jengah. Lihatlah, gadis di hadapannya itu memang sangat sangat sangat ... ahhh, Abrisam malas mengabsennya. Akhirnya, ia tersenyum tanpa minat. Bukan senyum, tapi seperti ingin memperlihatkan giginya yang rata kepada dokter gigi, senyum pepsodent yang sangat terpaksa.
“Ya elah, gak usah deh gak usah. Gak ikhlas banget senyumnya, Pak.” Sabila mendengus kesal, pergi dari tempat itu sesegera mungkin.
Tidak perlu dijelaskan, Sabila mengumpat sepanjang jalan. Kakinya yang tidak ada akhlak itu ia gunakan untuk menendang apa pun yang bisa ia tendang, agak milih-milih juga soal ini. Soalnya kalau nendang tembok kakinya juga yang akan sakit, jadi nendang barang-barang kecil aja walau mendapat sumpah serapah dari banyak orang.
Hancur sudah ekspetasinya. Sabila udah bela-belain masak makanan kesukaan Abrisam seperti yang Wulan katakan, yaitu perkedel kentang dan sambel tomat. Ia pikir Abrisam akan kegirangan mendapatkan makanan kesukaannya, tetapi lagi-lagi ekpresinya sama saja. Alhasil, seharian itu Sabila uring-uringan kepada teman-temannya yang tidak bersalah.
“Nong, kayaknya itu mobil Pak Abi, deh.” Felicia memperhatikan mobil di dekat gang menuju rumah Sabila.
“Eh, iya.” Sabila juga melihatnya, dan yakin mobil itu memang milik Abrisam.
“Ngapain di sana?” Felicia terheran-heran.
“Mana gue tau.” Sabila menggidikkan bahunya. “Gue duluan, ya,” lanjutnya, lalu keluar dari mobil Felicia.
Benar, Felicia yang kali ini mengantarkan Sabila pulang. Ia pun segera pergi tanpa mempedulikan Abrisam yang entah sedang apa. Intinya, Felicia tidak sampai mengira Abrisam datang untuk Sabila.
Sedangkan di dalam mobil berwarna hitam mengkilap, Abrisam memperhatikan gadis yang sedang berjalan ke arahnya. Ia sengaja membuka kaca jendela untuk bicara.
“Bapak ngapain di sini? Mau minta maaf soal tadi?” tanya Sabila tak enak didengar.
“Tadi? Emang tadi saya salah apa?” Abrisam malah terlihat bingung.
“Yang tadi! Bukannya senyum manis, malah senyum kayak mau periksa gigi.” Sabila mengingatkan. Tak jauh dari penampilannya, wajahnya pun terlihat berantakan.
“Haduh, masuk deh.” Abrisam malas membahas soal tadi, meminta Sabila untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Bapak mau ngajak jalan? Asik.” Sabila langsung memutari setengah mobil Abrisam, lalu masuk ke dalamnya. Secepat kilat memakai seatbelt, kemudian berkata dengan semangatnya, “Ayok.”
“Ke mana?” Abrisam menatap heran, tidak berniat untuk menyalakan mesin mobil apalagi pergi dari sana.
“Bukannya ngajak jalan?” Wajah Sabila mengkerut kesal sekaligus malu. “Terus ngapain disuruh masuk?” protesnya.
“Sekalipun saya ngajak kamu jalan, gak ada tuh cewek yang ujug-ujug ngomong ‘ayok’, padahal belum tau niat hati saya datang,” gerutu Abrisam tak habis pikir. Ada ya cewek modelan kayak gitu?
“Udah, deh, langsung aja. Gak usah bertele-tele, kelamaan!” Sabila malas membuang waktu, melipat kedua tangan di dadanya dengan sombong.
“Ganti pakaian sana,” titah Abrisam sedikit lembut.
“Ngapain ganti pakaian segala? Kayak mau ngajak nge-date aja, padahal Bapak gak ada itikad buat—”
“Saya mau bawa kamu ke sebuah tempat.” Abrisam menyela ucapan sebelum mulut Sabila mengeluarkana asap dan api.
“Wih, mainnya teka-teki. Mau bikin surprise gitu?” Mata Sabila berbinar memancarkan kekaguman.
Tapi, lagi-lagi harapannya dihempaskan oleh wajah kusut Abrisam seolah bukan itu maksud kedatangannya. Memang sih, Abrisam tidak pernah memberikan harapan, Sabila-nya yang terlalu berharap banyak. Sudahlah, Sabila tak mengerti apa maunya pria itu, ia pun bergegas pulang untuk berganti pakaian.
Duh, sejak kapan Sabila berganti pakaian jika ingin bepergian? Pakaiannya selalu itu sejak pagi ke pagi. Iya, Sabila hanya berganti pakaian jika sudah mandi pagi saja. Berhubung ia anti mandi sore, pakaiannya pun akan tetap melekat hingga pagi tiba. Lagipula, ia pun bingung akan berganti pakaian dengan pakaian yang mana. Jujur saja, tidak ada pakaian yang memadai untuknya.
Untung saja ada beberapa pakaian Nadya yang jelas masih bagus-bagus di sana. Sebenarnya Sabila tidak berani memakainya, tetapi kali ini tidak ada pilihan. Pakaian yang dipakainya masih terbilang sopan, tidak seperti kebanyakan pakaian Nadya yang memperlihatkan bagian dadanya juga pahanya yang bersih, putih, dan mulus. Tapi, tetap saja Sabila merasa tak percaya diri, pakaian dan wajahnya tidak sinkron alias tidak cocok.
“Buat kamu.” Abrisam menyodorkan sesuatu pada Sabila.
Sabila menyelidik barang yang diterimanya dengan wajah terkejut hingga tak percaya. “Gak salah?” tanyanya sambil melongo.
Abrisam mengangguk pelan tanpa bersuara. Sabila kembali bertanya, “Serius? Kok bisa?”
Kembali melihat ke arah tangannya, Sabila masih saja merasa tak percaya. Barang itu tidak lain adalah ponsel baru yang masih terbalut plastik segel. Jangankan barang baru seperti itu, barang bekas saja Sabila tak bisa untuk membelinya. Terlebih, merk ponsel yang sering dipakai orang berada, yaitu merk ipin. Tapi, ia juga tidak terlalu aneh karena kebanyakan temannya pun memakai ponsel merk ipin.
“Ma—maksudnya gimana dulu, nih. Pasti aku disuruh ngapa-ngapain.” Sabila tak ingin membuka dus ponsel itu sebelum jelas maksud Abrisam memberikannya.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu itu udah aneh, eh pikirannya juga ikutan aneh.” Abrisam menegur, pandangannya tetap tertuju ke depan. Tapi, sesaat kemudian ia menoleh ke sampingnya saat berkata, “Kamu gak punya hp, 'kan? Nah itu, saya beliin. Saya gak minta imbalan apa pun.”
“Tapi aneh aja kalo tiba-tiba Bapak ngasih hp. Bapak gak lagi mabok, 'kan?” Sabila ingin memastikan sekali lagi.
Abrisam menggelengkan kepalanya, berkata lemah, “Cuma sedikit kesurupan.”
“Makasi loh, Pak.” Sabila akhirnya tersenyum puas.
Kalau boleh, Bapak kesurupan aja tiap hari, Sabila tidak keberatan! Rasa-rasanya ini mimpi, Sabila masih saja merasa tak percaya mendapatkan ponsel baru. Belum lagi besok adalah hari ulang tahunnya, dan ponsel itu seolah kado yang Abrisam berikan bahkan sebelum hari ulang tahunnya tiba.
Rasa tertarik Sabila untuk berbincang ataupun menikmati perjalanannya lenyap, tergantikan dengan tertariknya mengotak-atik ponsel barunya. Jelas saja, sepanjang perjalan ia sibuk sendiri melakukan banyak hal dengan ponselnya. Tak lupa, Sabila juga meminta nomor Abrisam, tapi Abrisam malah memberikan bonus yaitu nomor Wulan.
“Ingat, jangan kirim chat gak jelas sama saya. Apalagi telepon buat hal yang gak penting.” Abrisam memperingati sebelum itu terjadi, khawatir gadis itu akan mengirimkan chat ‘Hai, Pak.’ ‘Bapak udah makan?’ ‘Bapak lagi apa?’ dan sebangsanya.
“Iya, iya.” Sabila cemberut. Tapi satu detik kemudian ia bertanya serius, “Pak, boleh minta sesuatu, gak?”
“Asal gak aneh-aneh, saya usahakan bisa bantu sebisanya,” sahut Abrisam tak yakin. Ya, selama permintaan Sabila masih bisa ia berikan atau ia lakukan, kenapa tidak?
“Jadi gini, besok itu sebenarnya ulang tahun aku, Pak. Nah, Bapak 'kan punya cafe. Kalau boleh, aku mau ajak temen-temen aku ke sana, ke cafe Bapak.” Sabila sengaja bernada pelan, berharap Abrisam mengerti maksdunya dengan baik.
“Kamu mau traktir teman-teman kamu ceritanya?” Abrisam ingin memastikan dugaannya, tidak kaget dengan sikap Sabila yang 'diberi hati, minta jantung'.
“Iya, Pak. Tapi ya Bapak tau sendiri aku kere.” Sabila manggut-manggut, mengiyakan.
“Boleh-boleh aja.” Abrisam tak keberatan.
“Serius?” Sekali lagi, Sabila menatap tak percaya. Semudah itu permintaannya akan dituruti tanpa banyak pertanyaan?
“Iya, Sabila.” Abrisam mengangguk meyakinkan.
“Tuh 'kan, Bapak itu emang baik banget orangnya. Tampangnya aja yang jutek, padahal hatinya tulus.” Sabila langsung memberikan pujian yang kedengarannya tak sungguh-sungguh diucapkan.
Abrisam tak ingin menyahuti apa pun. Biarlah, walau bagaimanapun Sabila ada gunanya juga, yaitu menjadi kekasih pura-puranya meski Abrisam sendiri hampir gila dibuatnya. Soal ponsel yang diberikannya, tentu atas tuntutan sang ibu. Juga, Abrisam khawatir ibunya bertemu kembali dengan Sabila tanpa ia ketahui seperti kemarin.
Tibanya di sekolah Adlan, bocah tampan tetapi sombong itu terlihat sedang berbincang dengan seorang wanita. Hati Abrisam langsung bergemuruh tak beraturan. Wanita itu tidak lain adalah Lisa, ibu kandung Adlan yang artinya mantan istri Abrisam. Di samping Lisa, ada pria yang Abrisam ketahui sebagai dalang perceraiannya terjadi.
“Sabila,” panggil Abrisam pelan.
“Hm.” Sabila asyik dengan ponselnya, bahkan tidak sadar bahwa mobil sudah berhenti.
“Kamu liat cewek itu.” Abrisam menunjuk ke arah Lisa.
Baru setelah itu, Sabila mendongakkan kepalanya, mengikuti ke mana arah pandang Abrisam. “Kenapa?” tanyanya tak mengerti.
“Dia ibunya Adlan.” Abrisam mengungkapkan.
“Mantan istri Bapak?” Sabila bertanya ambigu. “Terus?”
“Kita turun.” Abrisam lalu keluar dari mobil.
Sabila ikut keluar, dan Abrisam langsung menggenggam tangannya. Sekarang Sabila tahu apa yang harus dilakukannya, yaitu pura-pura menjadi kekasih Abrisam di hadapan Lisa. Baiklah, Sabila tidak keberatan, justru sangat senang melakukannya. Bahkan, tanpa tahu malunya ia mempersempit jarak dan balas menggenggam tangan pria di sampingnya.
Wow, Sabila terkejut melihat Lisa dari jarak dekat. Ternyata wanita itu sangat cantik, penampilannya pun terlihat sangat berkelas. Tapi, ia juga tidak merespons berlebihan. Teman-teman wanitanya apalagi Nadya tak kalah cantiknya.
Lisa sama kagetnya, antara tak percaya dan memuji terjadi secara bersamaan. Lisa tahu sendiri Abrisam seperti apa, anti wanita. Apa ini? Sekalinya memiliki kekasih, wanita yang menjadi kekasihnya hanya wanita biasa.
“Pah, aku mau jalan-jalan dulu sama Mama,” kata Adlan tak ingin cepat pulang.
“Kita pulang sekarang juga.” Abrisam tak mau tahu, segera meraih pergelangan tangan anaknya.
“Bi, bentar aja. Nanti aku anterin pulang. Lagian, aku udah lama gak ketemu Adlan.” Lisa memelas, menahan tubuh Adlan yang hendak ditarik Abrisam.
Tapi, tatapan Abrisam tetap tertuju pada Adlan seolah tak melihat adanya Lisa di sana. “Nenek lagi bikin acara, semua orang harus kumpul secepatnya,” ucapnya memaksa pulang.
“Acara apa?” Adlan menatap heran, setahunya tidak ada acara penting di rumah.
“Nanti kamu juga tau. Makanya Papa jemput Tante Sabila.” Abrisam malas menjelaskan di sana.
“Bi, cuma dua jaman kok. Nanti aku—”
“Adlan pulang sekarang.” Abrisam tak ingin mendengar bujukan Lisa, segera membawa Adlan, menempatkannya di kursi belakang sedangkan Sabila di kursi depan.
Setelah bercerai, Abrisam memang tidak mudah memberikan izin kepada mantan istrinya itu untuk bertemu Adlan. Tapi, ia juga tidak bisa melarang sepenuhnya karena Lisa tetaplah ibu kandung Adlan. Kecewa, itu yang dirasakannya. Terlebih, hubungan Lisa dan pria selingkuhannya itu tampak semakin dekat saja. Bukan cemburu, karena pada dasarnya tidak ada cinta untuk Lisa.
Hanya saja saat-saat seperti ini, Abrisam harus meyakiti hati putranya sendiri yang ingin bersama ibunya. Apa yang dilakukan Abrisam adalah semata-mata menghukum Lisa, yaitu tidak bisa leluasa bertemu Adlan apalagi menghabiskan waktu bersama. Tapi di sisi lain, lihatlah anak yang tidak berdosa itu, harus merasakan dampak dari sebuah perceraian kedua orangtuanya.
“Pah, aku mau jajan.” Adlan merengek.
“Nanti aja sama Bi Sina,” ujar Abrisam malas mengantar.
“Mau sekarang, Pah!” bentak Adlan tak ingin menunggu.
“Papa males ke dalamnya, Lan.” Abrisam menatap tajam melalui kaca depan.
“Aku ke dalam sendiri,” kata Adlan sinis.
“Jajan ke mana, sih? Kok ke dalam?” Sabila bingung sendiri.
“Kalo Adlan bilang mau jajan, artinya dia mau beli sesuatu di mini market atau bahkan super market, bukan warung.” Abrisam menjelaskan.
“Ohhh .... ” Sabila manggut-manggut. Beda ya kalau anak orang kaya, bilang jajan itu ternyata ke mini market, bukan ke warung. Pikirnya.
“Papa, aku mau jajan!” Adlan kembali merengek, tetapi kali ini suaranya sangat tinggi seolah ingin cepat dituruti.
Kebetulan di depan ada mini market, jadilah Abrisam menepikan mobilnya di sana daripada mendengar ocehan putranya sepanjang jalan.
“Kamu antar Adlan ke dalam.” Abrisam menyodorkan ATM-nya kepada Sabila.
“Bapak gak turun?” tanya Sabila yang mendapat tatapan maut dari Abrisam.
Jelas saja, Adlan yang belum keluar dari mobil merasa aneh mendengar Sabila memanggil ‘bapak’.
“Maksudnya Papa.” Sabila mengoreksi, cengar-cengir ke arah Adlan. “Papa Abi gak mau ikut turun?”
“Lebay! Baru pacaran aja, manggilnya udah mama-papa-an!” cibir Adlan geli sendiri.
“Nggak, kamu aja.” Abrisam menggeleng pelan, nadanya sangat lembut seolah menutupi celah kebohongannya.
“Yuk.” Sabila berniat menggenggam tangan Adlan dan membawanya ke dalam mini market.
“Ga usah!” Adlan malah menghindar, berjalan lebih dulu.
“Jir, anak kutil emang nyebelin. Gak ada kalem-kalem kayak bapaknya!” Sabila mengumpat tak jelas.
Melihat Adlan mengambil keranjang belanjaan, Sabila juga ikut mengambil salah satu keranjang belanjaan. Setiap kali anak itu mengambil camilan, maka Sabila juga akan mengambil barang yang sama dan menyimpannya di dalam keranjangnya sendiri.
Apa pun yang akan dibeli Adlan, maka Sabila juga menginginkannya. Bukan apa-apa, bocah itu masih musuhnya saat ini, dan Sabila sudah yakin Adlan tidak mau berbagi. Hey, tukang ngemil ini tidak mungkin hanya menonton bocah itu makan camilan, bukan? Jadi, jangan salahkan Sabila yang juga menginginkan camilan dan minuman yang sama.
Tapi, kenyataannya Sabila mengambil barang yang tidak diambil Adlan, yaitu paket skincare yang sedang diskon lumayan besar. Jangan tanya apa Sabila mengambil barang itu dengan enggan atau berani, karena jawabannya sudah pasti berani. Ia tak peduli apa yang akan Abrisam ocehkan, tak peduli juga pria itu ikhlas atau tidak uangnya digunakan seenak Sabila.
“Gak salah? Itu buat satu minggu atau satu bulan, Lan?” sindir Abrisam ketika Sabila dan Adlan memasuki mobil.
“Ini punya aku, bukan punya anak itu,” kata Sabila sinis, mendelikkan matanya ke arah Adlan.
“Apa?” Abrisam melongo tak percaya.
“Jangan pelit, deh. Cuma segini doang.” Sabila buru-buru mencibir sebelum pria itu mengomel.
“Punya anak satu aja ribetnya naudzubilah, eh sekarang malah nambah.” Abrisam menggelengkan kepalanya, mulai melajukan mobilnya keluar dari area itu.
“Belum nanti kalau kita udah nikah, ya?” celetuk Sabila sambil membuka ice cream yang dibelinya.
“Gimana? Gimana?” Abrisam pura-pura tak mengerti.
“Gak apa-apa.” Sabila malas membahasnya, sudah pasti Abrisam malah mencak-mencak.
“Tadi Papa bilang Nenek bikin acara, emangnya acara apa?” Adlan penasaran.
“Nenek bikin acara makan malam bersama,” jawab Abrisam apa adanya.
“Yah ... itu bukan acara namanya, emang tiap hari juga makan malam bersama.” Adlan menggerutu, menyesal ikut pulang. Tahu seperti itu ia akan bersama ibunya untuk beberapa jam.
“Beda, makan malam nanti menunya banyak banget, loh. Om Dery 'kan pulang.” Abrisam membantah opini anaknya.
“Om Dery pulang? Serius?” Adlan langsung tersenyum riang mengetahui adik ayahnya akan pulang.
“Iya.” Abrisam mengangguk satu kali.
Sabila yang baru tahu akan dibawa ke rumah Abrisam tentunya tersentak. Tapi, sepertinya pakaian yang dipakainya tidak terlalu memalukan untuk berhadapan dengan Wulan dan keluarga Abrisam yang lainnya. Lagipula, ia juga penasaran seperti apa rumah yang ditempati Abrisam dan keluarga. Ahhh, Sabila tak sabar ingin segera sampai.
Dery adalah adik kedua Abrisam, kakak Viona. Pria yang sedang menuntut ilmu di jenjang S2-nya di Australia itu dikabarkan akan pulang hari ini. Itu sebabnya Wulan mengadakan acara makan malam yang tidak biasanya. Selain itu, ia juga meminta Abrisam untuk menjemput Sabila dan makan malam bersama nanti. Tidak ada alasan, Abrisam hanya menurut saja tanpa bisa menolak.
Sesampainya di rumah Abrisam, Sabila terlihat biasa saja. Rumahnya memang mewah, kompleks itu sendiri diisi rumah-rumah mewah. Tapi, kemewahan orangtua temannya yaitu Luna jauh dari rumah-rumah yang ada di sana, termasuk rumah Abrisam. Meski begitu, bukan berarti Sabila memandang rendah, tentu saja. Rumahnya sendiri tidak ada apa-apanya dari kemewahan rumah Abrisam.
“Hai, Sabila.” Wulan menyapa dengan semangatnya, sedangkan Adlan langsung berlari ke arah pamannya.
“Hallo, Tante.” Sabila tersenyum sambil mengangguk ramah.
“Senangnya liat kamu datang. Makasih,” kata Wulan saat Sabila mencium tangannya.
“Sama-sama, Tante.”
“Nah, kenalin nih, adiknya Abi, Dery.” Wulan memperkenalkan Dery, dan pria itu langsung berdiri untuk menjabat tangan Sabila. “Ini loh yang dari tadi Mama ceritain,” lanjutnya bicara pada Dery.
“Gitu dong, punya pacar. Masa kalah sama gue.” Dery malah sengaja menyinggung kakaknya.
“Belajar yang bener.” Abrisam menoyor kepala adiknya dengan kesal.
“Udah gede gini masa gak boleh pacaran.” Dery memprotes.
“Setidaknya sampai wisuda, fokus kuliah dulu.” Abrisam memperingati.
“Pacar Om Dery mana?” bisik Adlan yang berada di pangkuan sang paman.
“Ada di Australia.” Dery menjawabnya dengan cara berbisik juga.
“Pacar Om Dery jangan kayak Tante Sabila, ya.” Adlan lanjut berbisik, tetapi matanya menatap musuh ke arah Sabila.
“Kenapa?” Dery mengangkat kedua alisnya tak mengerti.
“Nyebelin. Belum nikah aja manggilnya udah mama-papa. Ihhh.” Adlan bergidik ngeri, memperlihatkan ekspresinya yang jijik.
Dery tak bisa menahan diri, tertawa hingga terpingkal-pingkal. Adlan dan pamannya yang tampan itu memang berbisik, tetapi jangan harap ucapan mereka tidak terdengar orang-orang di sekitarnya. Wulan pura-pura tidak mendengar, sibuk menggeser toples-toples makanan ke hadapan Sabila. Abrisam sibuk dengan ponselnya, sedangkan Sabila sendiri tak henti mengucapkan sumpah serapah yang ditujukan kepada Adlan, bocah menyebalkan!
Makan malam terjadi dengan semestinya. Tapi, jangan harap ada yang mau mengajak Sabila bicara kecuali Wulan. Terutama Viona, yang tak henti mendelikkan matanya dengan sangat tidak sopan. Tidak seperti minggu lalu, kali ini Abrisam tidak terlalu bersikap banyak kepada Sabila, malah sibuk mengobrol dengan adik keduanya. Tidak apa-apa, mendapatkan perhatian dari Wulan sebagai 'kekasih putranya' saja sudah membuat Sabila senang.