Ulang Tahun Sabila

1202 Kata
Pukul lima sore, mobil yang diisi Sabila, Felicia, Luna, dan Dea, keluar dari area kampus. Sedangkan Bobby ikut bersama Sandi menaiki motor. Mereka semua akan mengunjungi kafe seperti yang Sabila katakan, yaitu mentraktir kelima temannya. Hari ini adalah hari ulang tahun Sabila yang ke 21, dan Sabila tidak pernah mengadakan acara traktiran. Tidak, maksudnya mereka tetap mengunjungi sebuah kafe, tetapi mereka bayar masing-masing yang malah Sabila ikut dibayar temannya. “Nong, serius lo mau traktiran?” Luna menatap tak percaya. “Iya, dong.” Sabila bergaya sombong. “Gue curiga lo jual ginjal, Nong. Udah mah punya hp baru, sekarang mau acara traktiran,” celetuk Dea seenaknya. “Atau jangan-jangan ... lo .... ” Kali ini Felicia yang mencurigai sesuatu, menelisik tubuh Sabila dengan tatapan intimidasi. “Apa, sih? Asal kalian tau aja, gue kalo jual diri juga gak bakal laku anjir.” Sabila sewot sendiri, membuat semua temannya memecahkan tawanya. “Gue suka kejujuran lo.” Luna mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tertawa. “Iya, lah. Bahkan kakak laknat gue ngomong gini, ‘lo kalo pake foundation sepuluh layer juga tetep gak bakal laku’. Bangke gak, tuh?” Sabila mempraktekkan kalimat Nadya dengan wajah kesalnya. “Kalo gitu, gue curiga lo nyuri, deh.” Dea ganti kecurigaan. “Kagak, tenang aja.” Sabila tetap membantah dengan tenangnya. “Terus, lo dapet duit dari mana?” Felicia mendesak jawaban. “Gue jual monas.” Sabila berbisik. Jelas saja, ketiga tangan temannya langsung menyapa kepala Sabila, menoyorkan dengan gemas. “Gue gak bisa cerita. Pokoknya jangan tanya dari mana gue dapet duit, yang penting gue gak ngelakuin cara kotor,” kata Sabila tak ingin bercerita, terlalu rumit untuk diceritakan. “Iya deh, percaya aja gue.” Dea malas mendesak lebih lanjut. Banyak canda tawa yang terjadi dari keempat gadis itu hingga mereka sampai di tempat tujuan. Saat memasuki kafe, Sabila merasakan perubahan yang lumayan jauh dari pertama kali mengunjungi tempat itu. Wah, ternyata yang Abrisam katakan memang benar, pria itu sibuk mendesain ulang kafenya yang sebenarnya sudah sangat bagus. Tempatnya tidak seramai seperti biasanya. Apa Abrisam sengaja meminta pengunjung dibatasi hanya karena Sabila akan datang bersama teman-temannya? Mungkin saja pria itu ingin Sabila merasa nyaman dan tidak risih dengan kondisi ramai? Jika memang seperti itu, Sabila tidak bisa berkata-kata lagi. Sabila semakin cinta Bapak Muda! “Nong, serius ini?” Bobby merasa ragu, menatap was-was. “Kita udah masuk, masa iya gue boong.” Sabila mengangkat satu tangannya di udara, memanggil waitress di sana untuk datang. “Awas aja ujung-ujungnya suruh bayar sendiri. Suer, gue gak bawa duit. Buat nambal ban aja si Nono yang bayarin.” Sandi memperingati. “Santai.” Lagi-lagi Sabila berlagak sombong. “Wih, si Jenong diangkat jadi anak orang kaya apa gimana?” Bobby menatap curiga. “Kayaknya Jenong aslinya anak konglomerat, terus pura-pura sengsara gitu,” sahut Dea sok tahu. “Kebanyakan baca novel lo.” Sandi menoyor kepala Dea dengan enaknya. Mereka semua mulai memesan apa pun yang mereka inginkan. Sesuai yang dikatakan Sabila, mereka bebas memilih menu apa saja. Definisi kulit lupa kacangnya, Sabila bersikap seolah ia memegang uang secara langsung atau ATM untuk membayar semua pesanan teman-temannya. Sore itu suasana hati Sabila sangat senang, bahkan melupakan masalah dan keluhan-keluhan hidupnya yang memprihatinkan. Teman-temannya pun sama riangnya, ikut senang Sabila mendapatkan rezeki yang entah datang dari mana. “Nong, kenapa gak Cafe Classic aja? Kayaknya lebih seru di sana,” kata Luna menyayangkan pilihan Sabila. “Iya, padahal menunya lebih mahal di sini, tapi tempatnya lebih asik di sana,” timpal Felicia ikut menyayangkan. “Mungkin duit si Jenong kebanyakan, jadinya mau yang lebih mewah aja gitu dari Cafe Classic. Udah, nikmati aja. Kapan lagi gue makan makanan mahal.” Sandi tak ingin pusing, sibuk dengan makanan yang dipesannya dalam jumlah banyak. Sabila menelan makanannya bulat-bulat, wajahnya pun kian tegang dalam waktu singkat. Perasaannya mulai tak enak, dan demi apa pun kepalanya dirasa pening seketika. Satu tangannya meraih buku menu. Bukan untuk memesan menu baru, melainkan melihat nama kafe tersebut. Luxury Cafe! Pantas saja desain kafenya sangat beda, tetapi ukurannya sama dengan Cafe Classic. Satu lagi, pantas saja yang berkunjung kebanyakan orang dewasa bahkan orang tua dengan penampilan berkelas, bukan para remaja yang biasanya memenuhi Cafe Classic. Juga, menu di sana memang sangat mahal seperti nama kafenya. Saat di perjalanan tadi, Sabila yang memang meminta Felicia untuk memasuki area kafe itu. Tapi, setahunya kafe itu adalah Cafe Classic milik Abrisam. Bingung mengapa bisa salah masuk kafe, Sabila keluar dari kafe itu. Tadaaaa, ternyata Cafe Classic berada tepat di samping Cafe Luxury. “Saya sudah bilang ke manager kafe,” kata Abrisam saat menjawab panggilan Sabila. “Bukan itu!” Sabila membantah tegas. “Pak, gini ... aku ... aku .... ” “Kenapa lagi? Kamu gak bakal diminta bayar, kok.” Abrisam tak ingin membuang waktunya. “Duh, bukan itu, Pak.” Sabila bingung menjelaskan. “Ya, terus apa?” Abrisam tak sabaran. “Aku salah masuk kafe.” Sabila berbisik sangat pelan seolah takut tukang parkir di sana mendengarnya. “Apa?!” Abrisam memekik keras. “Pak, bantuin dong. Aku malu kalo minta temen-temen bayar masing-masing. Please, Pak.” Sabila tak sungkan memohon, tidak ada cara lain selain meminta bantuan pada Abrisam. “Lagian, kenapa bisa salah masuk?” Abrisam tak habis pikir. “Aku gak fokus.” Kaki Sabila bergelinjang seperti anak kecil. “Kafe mana?” tanya Abrisam tak enak didengar. “Cafe Luxury.” Suara Sabila masih saja tertekan seperti akan menangis. “Apa?!” Sekali lagi, Abrisam membentak tak terkendali. “Sabila, kafe itu saingan Cafe Classic, loh. Bisa-bisanya kamu masuk ke sana.” “Mana aku tau.” Sabila terkesan masa bodoh, yang ia inginkan adalah bantuan, bukan ghibahan. “Maksudnya, saya gak bisa ke sana, gak bisa bantu kamu.” Abrisam juga terdengar masa bodoh. Mau bagaimana lagi, malas duluan jika harus ke sana. “What?” Sabila membulatkan matanya dengan sempurna. “Pak, please, Pak. Aku kalo jadi tukang cuci piring di sini gak bakal cukup sebulan. Bapak ih, please, bantu. Aku malu sama temen-temen,” rengeknya tak bosan memohon. “Terus, kamu gak malu sama saya?” sindir Abrisam sangat tepat. “Tanggung, Bapak udah tau bobroknya aku.” Sabila tak malu mengakui. “Temen-temen kamu emang gak tau?” Lagi-lagi Abrisam menyindir. “Temen-temen aku udah bosen, kalo Bapak 'kan belom,” sahut Sabila tanpa merasa bersalah. “Saya ke sana kalau teman-teman kamu udah pada pulang.” Abrisam mengalah, tak tahu juga harus berkata apalagi. “Siap.” Sabila berteriak kegirangan. Masuk kembali ke dalam kafe, Sabila bersikap santai seolah tidak terjadi apa pun. Ya, ia kembali haha-hihi bersama kelima temannya. Mereka juga tidak menaruh curiga karena tampang Sabila sendiri tak memiliki beban. Di tempat lain, Abrisam memijat keningnya yang terasa pusing. Demi apa, Abrisam ingin mengundurkan diri saja, tidak mengenal gadis itu! Waktu bisa diputar ulang? Abrisam tak akan menerima tawaran menjadi dosen di kampus yang memiliki mahasiswa bernama Sabila Khansa! Tapi, tunggu! Abrisam tidak bisa iya-iya saja untuk kali ini. Sabila selalu membuatnya kesulitan dan banyak berkorban, sedangkan gadis itu sendiri hanya berkorban menjadi kekasih pura-puranya, itu pun dia tidak keberatan. Kali ini Abrisam akan memberikan hukuman, tapi hukuman apa yang pantas untuk Sabila?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN