Di lantai dua bangunan Cafe Classic, Abrisam duduk seorang diri sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya. Pandangannya memang fokus pada layar pipih di hadapannya, tetapi bibirnya tak henti mengoceh kepada Sabila yang berdiri di depan mejanya. Bukan masalah nominal yang Abrisam bayarkan, tetapi tentang rasa malunya saat datang ke Cafe Luxury, kafe yang sebenarnya saingan Cafe Classic miliknya. Sabila sudah sering merepotkannya, tidak ada salahnya membuat gadis itu kerepotan atas apa yang diperbuatnya. “Kamu bilang 'kan kalau jadi tukang cuci piring di Cafe Luxury selama satu bulan gak bakal cukup buat bayar pesanan kamu sama temen-temen kamu, jadi saya minta kamu kerja di sini selama dua minggu aja, itung-itung kamu bayar yang tadi saya bayar,” kata Abrisam panjang lebar, memberikan 'hu

