“Ya ampun! Anak polos gini mau kamu pancing-pancing, Abi? Keterlaluan kamu, ya!” Wulan berkacak pinggang, melotot kesal, menjerit hingga urat-urat di lehernya begitu tegang. Abrisam merasa dunia sedang tidak baik-baik saja. Ingin rasanya menghilang, atau setidaknya memutar waktu dan ia tidak akan membawa Sabila ke sana. Tapi, kalau sudah begini, Abrisam bisa apa? Tubuh Abrisam disambut amukan dari kedua tangan Wulan ketika keluar dari mobil. Wulan tak jauh dari tabiat emak-emak pada umumnya, ia memukul apa pun dari tubuh putranya, menjewer telinganya, hingga menendangnya berulang kali. Sabila malah menonton dari dalam, sedikit tercengang dan tak tahu harus berbuat apa. Ternyata Wulan sangat bringas jika sedang marah, tidak seanggun seperti biasanya. Sabila makin merasa pantas menjadi me

