Rani masuk ke kamar tamu yang telah disiapkan untuknya, wajahnya terlihat berbeda—bukan seperti asisten rumah tangga biasa yang baru bekerja. Ia mengunci pintu pelan, lalu melangkah ke arah tas kecilnya. Tangannya merogoh ke dalam saku jaketnya, dan dengan hati-hati ia mengeluarkan sesuatu yang dilipat sangat kecil, sebuah lingerie tipis berwarna merah muda muda, nyaris transparan. Senyuman tipis muncul di bibirnya, bukan senyuman polos seorang gadis yang hanya ingin bekerja membantu. Ia meletakkan lingerie itu di atas tempat tidur dan mengusap lembut bahan tipis itu dengan jemarinya. "Sebentar lagi semua akan berubah," gumamnya pelan, seperti menyusun rencana yang lebih besar dalam benaknya. Wajah Rani mencerminkan ambisi, bukan hanya sebagai pengasuh keponakan Bik Asih. Di matanya, ru

