Malam itu terasa tenang. Di ruang tengah rumah mereka yang hangat dan redup, hanya suara angin lembut dari jendela yang terbuka yang menemani. Alula duduk bersandar di d**a Arga, sementara tangan Arga membelai pelan rambut panjang istrinya yang terurai. Mereka tak banyak bicara. Tak perlu. Diam mereka justru penuh makna. “Aku merasa... ini yang selalu aku rindukan,” bisik Alula pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Arga mempererat pelukannya, menunduk dan mencium ubun-ubun Alula. “Aku juga,” balas Arga. “Setelah semua yang terjadi… bisa duduk begini denganmu, rasanya seperti mimpi yang tak ingin aku bangun.” Alula tersenyum tipis. Ada damai di hatinya. Meski luka dan trauma belum benar-benar hilang, kehadiran Arga malam itu, genggaman tangannya yang hangat, membuat semuanya terasa leb

