Begitu Alula selesai mandi, uap air hangat masih menyelimuti ruangan. Ia memanggil Arga dengan suara lembut, “Mas…” Tanpa menunggu lama, Arga masuk ke kamar mandi dengan senyum hangat. Tatapannya langsung tertuju pada istrinya yang kini tampak jauh lebih segar. Dengan lembut, ia mengangkat tubuh Alula dan menggendongnya keluar dari kamar mandi. “Pelan-pelan, Mas…” bisik Alula, malu-malu. “Nggak apa-apa. Berat kamu ini nggak seberapa dibanding rasa sayangku,” jawab Arga, sambil tertawa kecil. Arga membaringkan Alula dengan hati-hati ke atas ranjang yang sudah ia rapikan. Ia mengambil sisir dari meja kecil di samping ranjang, lalu duduk di tepi tempat tidur. Perlahan, ia menyisir rambut panjang Alula yang hitam, lurus, dan halus, dengan gerakan penuh kelembutan. “Rambut kamu indah sekal

