Di ruang IGD rumah sakit, suasana hening hanya dipecah oleh suara alat medis dan langkah cepat tim dokter. Alula terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat dan tubuhnya dingin. Selang infus telah terpasang di tangan kirinya—mengalirkan cairan untuk mengatasi dehidrasi yang cukup parah. Arga berdiri di sisi ranjang, genggaman tangannya erat pada tangan Alula yang dingin dan tak memberi reaksi. Matanya menatap lekat wajah istrinya, penuh kecemasan dan rasa bersalah. “Sayang… kamu kuat, kan? Aku di sini. Aku enggak akan pergi. Bangun, ya… demi anak-anak kita…” Wajahnya menunduk, menyentuh punggung tangan Alula dengan keningnya. Air mata yang selama ini disembunyikannya akhirnya jatuh, membasahi tangan perempuan yang begitu dicintainya. Dokter yang menangani Alula memberikan penjelasan den

