Di dalam ruangan yang dingin dan pengap itu, Alula terbaring lemas, tubuhnya mulai menggigil karena kekurangan cairan. Mata indahnya menatap kosong ke arah jendela kecil yang tertutup teralis besi. Rambutnya sedikit berantakan, hijabnya sudah kusut, namun masih melekat dengan sopan di tubuhnya. Sudah dua hari ia tak menyentuh makanan ataupun minuman yang diberikan. Rasa takut dan curiga membungkus hatinya. Ia tahu, Reinaldi bukan orang yang bisa dipercaya. Tatapannya saat menjenguk Alula beberapa jam lalu begitu aneh, penuh obsesi yang membuatnya mual. “Aku tidak mau makan… aku takut makanan ini ada obatnya. Aku tidak bisa lemah... aku harus bertahan,” bisik Alula pada dirinya sendiri. Perutnya melilit, tenggorokannya kering, namun tekadnya tak goyah. Ia menatap gelang di tangannya yan

