Pagi di Kyoto terasa begitu damai. Sinar matahari menyelinap lembut melalui jendela kamar apartemen sewa mereka. Alula terbangun lebih dulu, mengenakan cardigan tipis dan hijab instan, lalu melangkah ke dapur kecil yang menghadap taman kecil Jepang. Tanpa suara, ia mulai menyiapkan sarapan. Wajan kecil mulai mengeluarkan aroma wangi dari telur dadar gulung ala Jepang yang ia pelajari dari internet semalam. Di sampingnya, nasi panas dalam rice cooker mulai matang, dan ia juga menyiapkan sup miso ringan untuk anak-anak. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kecil. “Mamaaa…” suara manja Alisa terdengar disusul Arkanza yang mengucek matanya. Alula tersenyum dan berjongkok memeluk keduanya, “Selamat pagi, sayang. Mau sarapan buatan Mama?” “Laperrrr…” ujar Arkanza dengan semangat. Alis

