Di lorong kantor Reinaldi yang sunyi dan hanya diterangi cahaya lampu gantung putih, langkah kaki Yasmin terdengar pelan tapi goyah. Tubuhnya terasa ringan, pandangannya berkunang-kunang. Ia baru saja selesai menandatangani beberapa berkas penting terkait pelimpahan aset terakhir dari Reinaldi. Seketika kepalanya terasa berat seperti dipukul benda tumpul. Napasnya mulai tak teratur. "Yasmin?" suara Billy terdengar dari arah berlawanan. Ia terkejut melihat wanita itu berjalan dengan tubuh limbung. Sebelum Yasmin sempat menjawab, tubuhnya lunglai. Matanya terpejam, dan dalam sekejap dia jatuh pingsan. Untung Billy cukup cepat menangkapnya sebelum tubuh Yasmin membentur lantai keras marmer kantor itu. "Yasmin! Hey! Yasmin, bangun!" seru Billy panik, mencoba menepuk-nepuk pipinya. Para s

